[CubeEntFF’s Staff] 좋은 일이야 – part 04

좋은 일이야

Don’t be sorry to me anymore.

by ssyoung

Main Cast: Yong Junhyung & Lee Yoobi (OC) || Genre: Romance & Sad || Length: Short-series || Rating: Teen || Credit Poster: NJXAEM at Poster Channel || Disclaimer: Cast belongs to God. No copy-paste. Copyright © 2017 by ssyoung.

Chapter 4 — It`s Hurt

1 | 2 | 3

The tips have become sharper and if we stayed together,

It wouldn’t have been love but scars instead.

▬.▬

“Lee Yoobi!”

Mwo?!

Joonki oppa langsung mundur ketika melihatku bangun dari balik selimut dengan mata yang sembab. Saat itu juga, dia menutup pintu kamarku, kemudian mendekatiku. Ia memberiku sepak tisu, lalu mengusap air mataku.

“Ternyata adikku bisa nangis,” katanya sambil tersenyum.

“Kau sedang mengejekku, bukan?” tanyaku kesal.

Ia hanya diam namun menganggukkan kepalanya. Aku pun berusaha untuk meninjunya, namun dia sudah duluan berdiri, dan melindungi dirinya. “Tu-tunggu! Aku punya kabar baik untukmu.”

Aku mengerucutkan bibirku. “Apa?”

“Di bawah ada laki-laki bernama. . . siapa dia tadi? J-junh—”

“Astaga!!”

Aku langsung berdiri dari tempat tidurku, kemudian mendorong kakakku keluar. Aku berdiri menghadap cermin, menatap diriku yang menyedihkan. Mataku sembab, rambutku berantakkan, dan ya, benar-benar menyedihkan.

Sial. Kenapa laki-laki itu justru ke sini?!

“Dia bilang dia menunggumu,” kata Joonki oppa dari luar kamarku.

“Uh… Iya!”

Setelah itu, aku langsung merapikan rambutku, mencuci mukaku dengan cepat, mengenakan make-up untuk menutupi mata sembabku senatural mungkin. Aku mengganti piyama tidurku dengan pakaian kasual. Aku mengecek penampilanku sekali lagi, kemudian mengatur raut wajahku sedatar mungkin.

Tidak mungkin aku menunjukkan wajah sedih padanya.

Aku turun ke lantai bawah, kemudian menemukan dirinya sedang berbincang-bincang dengan ibuku—tunggu, kenapa juga ada ayahku? Ah, sial. . . Aku lupa kalau ini Hari Minggu. Semua orang ada di rumah.

Kenapa hari ini begitu sial?

Sunbae,” panggilku.

Pemuda itu langsung menoehkan wajahnya, kemudian menatapku sejenak. Lalu, dia kembali menatap kedua orang tuaku. Ia pun mengucapkan beberapa kalimat perpisahan, setelah itu ia membungkukkan tubuhnya.

“Jangan lama-lama,” kata ayahku tegas.

Aku hanya menganggukkan kepalaku, setelah itu melangkah keluar dari rumah bersama Junhyung sunbae. Pemuda itu membawa mobilnya ternyata. Aku masuk ke dalam sana, kemudian ia menghidupkan mesin mobilnya, supaya pendinginnya hidup.

“Kenapa?” tanyaku akhirnya.

“Aku mau minta maaf,” katanya pelan.

Aku menoleh padanya kesal. “Kalau hanya ingin minta maaf, tidak perlu sampai ke rumahku segala. Terutama ini Hari Minggu, ada ayahku dan ibuku. Aku tidak suka kalau mereka membicarakan tentangmu nanti. Mereka pasti akan tanya-tanya padaku.”

Pemuda itu justru tersenyum tipis. “Aku tahu kau pasti akan bilang begitu, tapi mereka tidak akan tanya-tanya padamu. Mereka tadi sudah tanya-tanya padaku, ini dan itu. Aku tahu kau masih kesal padaku, tapi aku benar-benar minta maaf.”

Aku diam seribu bahasa. Aku tidak tahu harus jawab apa, tapi rasanya menyebalkan sekali jika aku tidak memaafkannya. Seolah, akulah yang jahat di sini. Padahal, dia duluan yang memulainya.

“Aku sibuk dengan ponselku saat itu karena aku sedang mencari tempat untuk magang,” jelasnya, kemudian ia menunjukkan ponselnya. “Aku diterima di perusahaan ini, ini tempat bagus untuk memulai pekerjaan. Jadi, jangan marah lagi.”

“Kenapa kau tidak jelaskan saja padaku saat itu?”

“Kau terlanjur marah.”

 

*

 

Setelahnya, kami berbaikan lagi, seperti tidak ada masalah.

Namun, aku merasa menyesal karena telah berbaikan dengannya. Ternyata berbaikan dengannya tidka menyelesaikan masalah kami. Masalah kami semakin bertambah. Aku yang egois dan Junhyung sunbae yang juga tidak terlalu peduli dengan masalahku.

Setelah diterima magang, dia jadi sibuk, dia tidak pernah lagi meluangkan waktunya untukku. Memang, dia sering mengganti kencan kami dengan berkunjung ke rumahku, bukannya berbicara denganku, dia justru di introgasi lagi oleh kedua orang tuaku.

Aku mulai merasa kesal lagi padanya dan dia tidak begitu peduli.

Ketika aku marah, dia tidak lagi bertanya padaku, seolah sudah tahu permasalahannya, dia justru diam saja ketika aku marah. Rasanya aku ingin berteriak padanya, namun aku tidak punya hak. Hubungan kami hanya sebatas pacaran, bukan hubungan pernikahan. Hubungan kami tidak didasarkan sebuah janji.

Kami hanya pacaran.

Sunbae,” panggilku akhirnya.

“Ya?” tanyanya.

Ia sibuk mengemudikan mobil hitamnya. Kami baru saja pulang dari makan malam bersama. Ini adalah kesempatan yang berarti untukku sebenarnya. Sejak ia diterima magang, baru kali ini kami makan bersama lagi.

Namun, aku tidak merasakan bahagia saat makan bersamanya.

Karena dia lagi-lagi justru sibuk mengecek ponselnya. Dia menunjukkannya padaku kalau dia selalu dihubungi oleh kantor karena dia anak magang. Dia lah yang harus mengerjakan semuanya.

“Apa kau sadar kalau aku marah padamu?” tanyaku.

“Aku tahu, tapi aku tidak berani bertanya padamu,” katanya santai. “Aku merasa kalau aku bertanya padamu aku hanya akan membuatmu semakin marah. Jadi lebih baik aku tidak ikut campur.”

Saat itu, rasanya hatiku tercabik-cabik mendengar jawabannya. Apakah itu artinya dia tidak peduli dan tidak mau ikut campur? Aku ingin menangis, namun aku mencoba menahan air mataku sampai kami tiba di depan rumahku.

Malam itu, keputusanku pun semakin bulat.

 

*

 

Seminggu setelah makan malam bersama itu, kami tidak pernah lagi kencan. Dia sibuk dengan magangnya, sementara aku juga sibuk menyelesaikan tugas kuliah. Aku mencoba untuk segera menyelesaikan gelar sarjanaku secepatnya.

Setelah itu aku bisa bekerja.

Hari itu Soojung bertanya kepadaku, kenapa aku tidak bersama dengan Junhyung sunbae akhir-akhir ini. Aku hanya menjawab dengan datar kalau lelaki itu sibuk dengan urusan magangnya. Soojung hanya bisa menghela napas.

Malamnya, aku duduk di kamarku, menatap keluar jendela kamar dengan pandangan kosong. Aku ingat saat Junhyung sunbae mengajakku berkencan. Dia sendiri yang bilang kalau dia akan bersikap baik padaku, kenyataannya dia justru berubah.

“Yoobi,” panggil kakakku dari luar kamar. “Ada Junhyung.”

Aku pun segera berdiri, kemudian melangkah keluar dari kamar. Aku menemukan dia yang berdiri di depan pagar rumahku. Dia tersenyum tipis saat melihatku. Tidak seperti biasanya, aku tidak memeluknya.

“Ayo, temani aku ke taman,” kataku. “Jalan saja.”

Junhyung sunbae hanya menganggukkan kepalanya ringan, lalu mengikutiku. Kami duduk di bangku taman dan terdiam selama beberapa saat. Aku hanya bisa menghela napas berat, kemudian mengawali pembicaraan.

“Aku sudah memikirkan ini matang-matang,” kataku.

Ia menolehkan kepalanya. “Ada apa?”

Aku menegup ludahku. “Kita putus saja, Sunbae.

Ekspresi wajahnya langsung berubah saat mendengar perkataanku. Aku berdiri dari bangku tersebut, menatap langit, mencoba menahan air mataku yang hendak mengalir. Aku tidak boleh menangis di hadapannya.

“Aku merasa berat jika kita terus melanjutkan hubungan ini,” kataku.

“Kenapa?” tanyanya bingung. “Apa karena aku sibuk dengan urusan magang?”

“Bukan itu saja,” jawabku. “Aku merasa setiap aksi yang kita lakukan justru membuat hubungan ini semakin buruk saja. Aku tidak tahu apakah kau merasa sakit atau tidak, tapi aku disini merasakan sakit karena hubungan ini.”

Aku mengambil napas dalam-dalam. “Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi.”

 

✖ ✖

To be Continued

August 16, 2017 — 4:00 p.m.

Iklan

Give us your cubes!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s