[CubeEntFF’s Freelance] Under The Sky – Part 5

Under the Sky 5

Title : Under The Sky
Author : Beb2uty
Main Cast : Lee Gikwang (BEAST), Jang Geurim, and many others
Genre : AU, Tragedy, Romance, Friendship, Family
Rating : PG 15
Length : Chaptered
Art Cover by : Beb2uty
Disclaimer : Semua kejadian hanya fiksi dan tidak real terjadi! Penulis hanya meminjam tokoh (cast) untuk kepentingan cerita!
Mohon maaf yg sebesar – sebesarnya jika terdapat kesalahan dalam penulisan Gelar Profesi cast yg terdapat dalam cerita ini. Jika menyimpang dari profesi yg sebenarnya sy harap pembaca bisa memahami itu sebagai kekurangan sy sebagai penulis.
DON’T COPY! DON’T PLAGIAT!

Happy reading^^

Gikwang mengajak Geurim untuk bertemu di suatu tempat. Ia ingin membicarakan tentang kepulangannya besok. Geurim terus terdiam tanpa berucap sepatah katapun. Namun kesedihan yang mendalam terlihat jelas diwajahnya.
“Aku akan pulang besok” Gikwang memulai pembicaraan. Geurim tetap diam memandanginya. Wajahnya datar tanpa ekspresi.
“Apa kau bisa memberitahuku, kenapa kau seperti ini?” Tanya Gikwang kemudian ketika Geurim tetap diam. Ia berusaha mendapat penjelasan atas sikapnya saat itu.

“Aku merasa seperti orang bodoh yang hanya terus memikirkanmu. Bahkan aku tidak bisa berbuat apa – apa disaat kau harus pergi. Aku sangat mengagumimu. Dan setiap kali aku melihatmu, aku selalu merasa kau adalah pria yang berbeda. Namun semua itu tidak ada gunanya. Disaat aku ingin meyakinkan perasaanku, kau selalu saja pergi dan membuatku bingung” Jelas Geurim dengan mata berkaca – kaca. Ia mengungkapkan semua hal yang ia rasakan saat itu. Gikwang memandanginya dengan perasaan iba.

“Aku akan meminta maaf atas semua kesalahan yang sudah aku perbuat padamu, dan aku menyadari letak kesalahanku itu. Namun aku tidak akan meminta maaf karena malam itu telah menciummu. Sebab begitulah caraku menunjukkan penyesalanku padamu” Ucap Gikwang dengan mata memerah menahan kesedihan yang sama seperti Geurim.
“Jangan bahas itu lagi. Bagiku, apa yang kau lakukan itu hanya mempermainkan perasaanku. Jadi kau harus meminta maaf untuk hal itu!” Pintah Geurim. Ia terlihat begitu yakin dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Gikwang tertegun menatapnya.

“Maafkan aku jika apa yang aku lakukan itu kau anggap sebagai suatu kesalahan. Tapi perlu kau tahu, tak sekalipun terbesit dibenakku untuk mempermainkanmu. Aku tulus melakukannya” Ucap Gikwang dengan tegas. Ia kemudian pergi meninggalkan Geurim yang seketika itu juga meneteskan air mata.

“Dan bahkan aku tak bisa memahami diriku sendiri. Apa yang sebenarnya aku inginkan, aku tak bisa mengatakannya padamu. Aku mencintaimu dan aku tak ingin kau pergi” Bathin Geurim.

***

15 menit sebelum Take Off. Beberapa penumpang telah berada di dalam pesawat. Termaksud Gikwang. Sembari menunggu penumpang yang lain, Ia memilih untuk tetap duduk di tempatnya.

Gikwang terus diam dan merenungi semua hal yang diucapkan Geurim semalam. Ia bahkan tak menyadari jika orang yang duduk disebelahnya saat itu adalah Junhyung.
“Sepertinya Geurim baru saja menolakmu” Ucap Junhyung sembari tersenyum. Tak ada ekspresi terkejut diwajah Gikwang ketika berbalik dan melihat Junhyung berada satu pesawat dengannya. Ia lebih tertarik mendengar penuturan Junhyung.
“Bahkan lebih dari itu. Aku merasa telah dibuang olehnya” Gikwang berusaha tersenyum namun nampak jelas kesedihan diwajahnya. Junhyung tertawa mendengar hal itu.

“Aku bisa memahami perasaanmu itu. Menjadi orang yang terbuang, aku lebih dulu mengalaminya. Dan itu karena kebodohanku” Junhyung menceritakan semua hal yang pernah Ia alami pada Gikwang. Dan untuk sesaat, Gikwang hanya diam mendengarnya berbicara.
“Aku bahkan belum memulai menjalin hubungan dengannya. Namun sikapku ini, telah membuat jarak diantara kami untuk bisa bersama” Gikwang kembali termenung. Junhyung menatapnya dengan perasaan iba. Iapun memegangi pundak Gikwang dan berusaha menguatkannya.

“Selalu ada harapan selama kau tidak menyerah. Ahhh tapi ku rasa, kau tidak sekuat diriku yang mampu bertahan hingga selama ini” Ledek Junhyung kemudian. Gikwang tertawa mendengarnya.
“Aku jadi penasaran. Wanita seperti apa yang telah membuatmu jadi sekuat ini. Apa dia secantik Geurim?” Tanya Gikwang sembari berbisik. Ia bahkan mendekatkan wajahnya pada Junhyung. Bersamaan dengan itu, Goo Hara nampak berjalan dilorong pesawat. Ia menjadi salah satu pramugari yang akan melakukan penerbangan bersama mereka.

“Bagiku dia adalah yang terbaik. Aku selalu jatuh cinta setiap kali melihatnya. Senyumannya, dapat membuatku lupa dengan masalah yang sedang kami hadapi” Jawab Junhyung pelan. Matanya tertuju pada Hara yang sedang melayani seorang penumpang. Merasa ada yang aneh pada Junhyung. Gikwangpun menoleh ke arah pandangan Junhyung tertuju. Dan ia melihat Hara di sana.
“Hara?” Mendengar namanya disebut, Hara langsung menoleh ke arah mereka. Untuk sesaat ia diam mematung ketika melihat Junhyung berada satu pesawat dengannya. Iapun berjalan menghampiri Junhyung juga Gikwang.

“Sepertinya penerbangan kali ini akan menyenangkan. Sebab aku dan mantanku berada di satu pesawat yang sama” Ledek Gikwang sembari tertawa kecil. Namun Hara tak merespon lelucon Gikwang seperti biasannya. Raut wajahnya terlihat begitu serius. Ia terus memandangi Junhyung. Begitupun sebaliknya. Gikwang melihat mereka berdua secara bergantian. Ia merasakan ada sesuatu diantara Junhyung dan Hara yang tidak ia ketahui.

“Senang bisa melihatmu di sini” Ucap Hara pelan dengan mata berkaca – kaca.
“Kau senang melihat masa lalumu, atau mantanmu?” Gikwang terbelalak mendengar pertanyaan yang dilontarkan Junhyung. Dan seketika itu juga iapun tertawa terbahak – bahak.

“Sepertinya aku menjadi orang ketiga diantara kalian. Upsss” Ledek Gikwang kemudian setelah ia menyadari jika wanita yang dimaksud Junhyung adalah Hara. Dan pria yang pernah diceritakan Hara padanya adalah Junhyung.
“YA!” Bentak Hara dan Junhyung bersamaan. Gikwang kembali tertawa melihat ekspresi wajah keduanya. Harapun berjalan meninggalkan mereka ketika seorang awak pesawat memanggilnya.

Junhyung berbalik menatap Gikwang yang terus tertawa di sampingnya.
“Kenapa kau melihatku seperti itu eoh? Ahhh kau pasti ingin meninjuku setelah tahu aku adalah mantan Hara. Iya kan?” Gikwang mulai membuat lelucon. Ia terus meledek Junhyung yang tak berucap sepatah katapun dan hanya diam memandanginya.
“Walaupun aku adalah mantan Hara, tapi bukan berarti aku perusak hubungan kalian. Kau harus tahu itu” Ucap Gikwang kemudian sembari menepuk punggung Junhyung dengan perlahan.

“Itulah sebabnya aku ingin berterima kasih padamu, karena telah menjaga Hara hingga tak menjadi milik pria lain” Junhyung tersenyum menatap Gikwang yang terlihat bingung dengan sikapnya itu. Ia mengira Junhyung akan marah padanya. Namun sikapnya tetap sama seperti sebelumnya.

“Kau tak marah padaku?”
“Tak ada alasan untuk marah padamu. Aku tahu semua yang terjadi diantara kau dan Hara. Semua yang kalian lakukan demi diriku juga” Junhyung kembali tersenyum. Gikwang menghela nafas panjang. Iapun turut bahagia mendengar pernyataan Junhyung.

***

“Para penumpang yang terhormat, selamat datang di Sijin City, kita telah mendarat di Bandar Udara internasional DOTS, kami persilahkan kepada anda untuk tetap duduk sampai pesawat ini benar-benar berhenti dengan sempurna pada tempatnya dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman dipadamkan. Berakhirlah sudah penerbangan kita pada hari ini, atas nama SJK Air kapten Song, dan seluruh awak pesawat yang bertugas mengucapkan selamat berpisah dan semoga dapat berjumpa lagi di dalam penerbangan SJK Air lain waktu…..Terima kasih”

Pesawat telah Landed dan On Block dengan sempurna. Gikwang dan Junhyung yang duduk di Seat paling belakang menunggu dengan sabar antrian penumpang yang hendak turun dari pesawat.

Hara yang sejak tadi berdiri di depan pintu keluar, berusaha melihat ke arah Junhyung. Namun pandangannya terhalang oleh penumpang lain yang saat itu sedang berdiri memenuhi lorong pesawat. Iapun tetap menunggu di sana hingga antrian penumpang mulai kosong.

Gikwang dan Junhyungpun beranjak dari tempat duduk mereka. Ketika hendak berjalan keluar, Hara menghadang langkah mereka. Ia terus melihat Junhyung yang berdiam diri di depannya.
“Aku akan menghubungimu nanti” Ucap Gikwang pelan. Ia kemudian meninggalkan Junhyung dan Hara. Dengan harapan, mereka akan punya waktu berdua untuk menyelesaikan semua masalah mereka.

“Apa kau akan pergi begitu saja tanpa memberi aku penjelasan atas sikapmu selama ini?” Tanya Hara kemudian. Ia terus menatap Junhyung. Begitupun sebaliknya.
“Apa kau akan diam saja seperti biasanya? Kenapa kau selalu seperti ini huh?” Hara kembali bertanya ketika Junhyung tetap diam. Matanya mulai berkaca – kaca.

“Tidak ada yang harus aku jelaskan. Dan sikapku ini, aku rasa kau sudah tahu alasannya” Ucap Junhyung tegas. Tatapannya tertuju ke depan. Matanya kosong mengisyaratkan kebohongan.
“Walau aku tahu, tapi aku sangat yakin jika kau masih mencintaiku” Hara berusaha menyakinkan dirinya atas semua hal yang ia rasakan.
“Jika kau hanya ingin memastikan hal itu, sebaiknya aku pergi sekarang!” Junhyung lalu beranjak pergi meninggalkan Hara yang mulai menangis karenanya.
“Sampai kapan kau akan seperti ini?” Teriak Hara. Junhyung menghentikan langkahnya.

“Kau selalu mengabaikan perasaanku demi harga dirimu. Dan kau bahkan tidak peduli dengan rasa sakitku sebab harus berpisah denganmu. Selama ini aku berjuang agar kita tidak berpisah, tapi kau, selalu saja membuat jarak denganku” Jelas Hara kemudian. Junhyung terus mendengarnya. Matanyapun mulai berkaca – kaca. Ia lalu berbalik dan berjalan menghampiri Hara. Tanpa berucap sepatah katapun Junhyung langsung memeluknya dengan begitu erat.

Hara membalas pelukan Junhyung. Ia tersenyum bahagia mendapat perlakuan seperti itu. Rasa rindunya sedikit terobati. Airmatanya terus berlinang. Ia tak menyangka Junhyung akan melakukan hal itu padanya.
“Jaga dirimu baik – baik. Aku akan terus berusaha agar menjadi layak berdampingan denganmu” Bisik Junhyung pelan. Ia kemudian pergi meninggalkan Hara yang seketika itu juga duduk berlutut di lorong pesawat. Tubuhnya seakan melemah mendengar penuturan Junhyung. Ia begitu sedih ketika menyadari kenyataan bahwa Junhyung lebih peduli pada harga dirinya daripada hubungan mereka.

Junhyung berjalan keluar dari dalam pesawat dengan perasaan bersalah. Matanya memerah menahan airmata. Sesekali terbesit dibenakanya wajah sedih Hara. Junhyung tak bisa melihatnya seperti itu, namun ia tak dapat berbuat apa – apa. Janjinya pada orangtua Hara yang mengharuskan ia melakukan hal itu padanya.

“Aku tidak akan pernah kembali pada Hara, sebelum aku menjadi layak untuknya. Jika kedudukan dan jabatan sangat penting untuk kalian, maka harga diriku juga sangat berarti untukku. Dan aku akan terus berjuang Demi Hara!” Janji yang pernah ia ucapkan dulu di hadapan orangtua Hara, kini kembali terngiang di ingatannya.

***

Seminggu berlalu setelah kepergian Gikwang dari tempat Geurim bertugas. Beberapa jam lagi, Tim Relawan Penanggulangan Bencana akan kembali ke Kota asal mereka. Semuanya tersenyum bahagia ketika mengetahui hal itu.

Eunji menghampiri Geurim yang sejak tadi memisahkan diri dari Timnya. Ia memilih menghabiskan waktu di tempat Gikwang pernah menciumnya dulu. Teringat semua hal yang pernah terjadi di tempat itu.
“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Eunji kemudian. Ia lalu duduk di samping Geurim.
“Aku hanya ingin menenangkan fikiranku sebelum kita kembali” Jawab Geurim sembari tersenyum. Namun nampak jelas kesedihan di wajahnya.

“Apa kau merindukan Gikwang?” Eunji seolah tahu apa yang ada dibenak Geurim saat itu.
“Aku merasa bersalah padanya. Seharusnya aku tak menyuruhnya meminta maaf sebelum ia pergi” Ungkap Geurim dengan penuh penyesalan. Eunji berusaha menguatkannya walau ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.

“Kau tidak perlu merasa bersalah. Lakukan hal yang sama jika kalian bertemu lagi. Minta maaflah padanya agar beban di hatimu berkurang” Jelas Eunji sembari tersenyum. Geurim mengangguk perlahan. Ia lalu mengajak Eunji untuk berkumpul dengan yang lain sebelum keberangkatan mereka.

***

Hara yang baru saja tiba di Bandara, langsung menghubungi Junhyung.
“Hallo apa kau di sana?” Tanyanya ketika telepon terhubung. Junhyung yang mendengarnya dari seberang tak berucap sepatah katapun. Saat itu, Junhyung dan Gikwang sedang menghabiskan waktu libur mereka di sebuah Cafe.

“Saat ini, aku berada di Bandar Udara tempat Geurim bertugas. Dan sepertinya ia akan pulang sekarang menggunakan penerbangan yang sama denganku” Jelas Hara ketika melihat Geurim menaiki pesawat. Junhyung terus mendengarnya. Ia lalu menoleh untuk melihat Gikwang yang sedang menikmati coklat hangatnya. Namun Junhyung tak berucap sepatah katapun pada Hara.

“Aku tak tahu harus berkata apa, itu sebabnya aku memberitahumu hal itu. Kau berhak untuk tetap diam tapi dengarkan aku, Aku akan selalu menjaga diriku dengan baik selama melakukan penerbangan. Dan aku harap suatu hari nanti, bisa melihatmu lagi” Mata Junhyung mulai berkaca – kaca ketika mendengar penuturan Hara. Gikwang menatapnya dengan perasaan iba. Ia seolah tahu jika yang menelponnya saat itu adalah Hara.

Harapun menutup teleponnya kemudian kembali bertugas. Ia menghampiri Geurim dan menyambutnya dengan ramah. Namun Geurim terus menatapnya dengan sinis. Hara tersenyum melihatnya seperti itu.
“Nikmati penerbanganmu. Dan aku akan melayanimu dengan baik” Bisik Hara sembari meledek.
“Huh andai saja bisa, aku ingin sekali menukar penerbangan” Geurim terlihat begitu kesal, suhu tubuhya seakan memanas, ia bahkan tak berhenti mengipas walau udara di atas pesawat sangat dingin . Hara kembali tersenyum melihatnya seperti itu. Geurim semakin kesal dibuatnya.

“Sampai kapan kau akan berdiri di situ eoh? Apa kau tak punya pekerjaan lain?” Tanya Geurim sembari melotot pada Hara. Eunji berusaha menenangkannya ketika semua penumpang menoleh kearah mereka. Harapun beranjak dari hadapan Geurim. Namun ia tetap tersenyum walau mendapat perlakuan seperti itu.

“Sepertinya kau tak bisa lupa dengan masalalu itu” Bathin Hara berbisik.
“Kau bahkan masih bisa tersenyum setelah melakukan hal itu padaku” Umpat Geurim. Eunji tertawa mendengarnya.

***

“Kenapa kau bersikap seperti itu di saat kau masih mencintainya?” Tanya Gikwang ketika melihat Junhyung murung setelah menerima telepon dari Hara.
“Apa kau tidak merindukan Geurim?” Junhyung balik bertanya. Ia berusaha mengalihkan pembicaraan. Gikwang tertawa mendengarnya.

“Tidak akan ada yang berubah pada hubungan kami walaupun aku sangat merindukannya” Ucap Gikwang dengan wajah yang terlihat sedih. Ia kembali meminum coklat hangatnya.
“Temui Geurim setelah dia tiba. Saat ini, ia dan Timnya sedang dalam perjalanan pulang ke sini. Mereka menaiki penerbangan yang sama dengan Hara” Jelas Junhyung kemudian. Gikwang tersenyum bahagia mendengar hal itu.
“Lalu bagaimana denganmu?” Tanya Gikwang ketika melihat Junhyung murung.

“Tidak akan ada yang berubah pada hubungan kami walaupun aku menemuinya” Junhyung melontarkan kata – kata yang tak jauh beda dengan Gikwang. Untuk sesaat keduanya saling memandang, kemudian tertawa bersamaan.

***

Pesawat yang di tumpangi Geurim dan Timnya mengalami guncangan hebat. Penumpang mulai panik ketika pesawat itu seakan meluncur ke bawah dengan kencang.

Beberapa awak pesawat memerintahkan kepada semua penumpang untuk mengenakan pelampung. Geurim yang telah mengenakannya lebih dulu, dengan sigap membantu penumpang lain yang kebingungan menggunakan benda itu. Ia berusaha untuk tetap tenang.
“Kalian baik – baik saja kan?” Tanya Geurim pada beberapa rekannya.
“Apa yang akan terjadi pada kita jika pesawat ini benar – benar jatuh?” Eunji terlihat begitu takut, ia bahkan tak mampu menahan airmatanya.
“Kita akan baik – baik saja. Percayalah padaku!” Geurim menggenggam erat tangan Eunji. Iapun menatap satu persatu rekannya yang terlihat begitu khawatir.

Pesawat terus berguncang dengan kencang. Bahkan awak pesawat mulai memberi peringatan untuk keluar dari pintu darurat dengan tertib.
“Sebagai Tim Relawan, kami akan melakukan apapun untuk menolong orang lain. Apa yang harus kami lakukan disaat kondisi seperti ini?” Tanya seorang rekan dan yang lainpun serentak menganggukkan kepala. Semuanya sepakat untuk kembali menjalankan tugas mereka. Geurim tersenyum bahagia melihat loyalitas rekannya. Iapun lalu memerintahkan kepada mereka untuk membiarkan penumpang yang lain keluar dari pintu darurat terlebih dahulu. Lalu mereka akan keluar setelahnya.

Hara yang juga masih berada di atas pesawat, tersenyum bahagia melihat Geurim melakukan hal itu.
“Terima kasih karena kau dan timmu bersedia membantu kami selaku awak pesawat. Mengutamakan keselamatan penumpang kami, aku sangat bersyukur akan hal itu” Ucap Hara pada Geurim ketika keduanya hendak keluar melalui pintu darurat.
“Katakan itu ketika nanti kita selamat. Kau harus mengingat kata – katamu ini, sebab aku akan memintamu untuk mengulanginya lagi!” Pintah Geurim. Hara tersenyum menatapnya.

***

Yoseob tiba – tiba datang menghampiri Gikwang dan Junhyung. Ia terlihat begitu panik.
“Terjadi kecelakaan pesawat 10 menit yang lalu” Ucapnya seketika. Gikwang dan Junhyung terbelalak mendengar hal itu. Gikwang kemudian meminta salah satu pelayan Cafe untuk mengganti siaran yang menayangkan berita jatuhnya pesawat tersebut.

“Sebuah pesawat komersil yang mengangkut kurang lebih 150 penumpang dinyatakan jatuh di salah satu wilayah perkampungan. Dugaan sementara, jatuhnya pesawat di sebabkan oleh cuaca buruk…..” Stasiun Televisi menampilkan foto pesawat yang jatuh itu ketika lepas landas beberapa menit yang lalu.

“Bukankah itu, Bandar Udara…..?” Tanya Junhyung dengan raut wajah yang terlihat cemas. Ia bahkan tak melanjutkan ucapannya ketika menyadari jika pesawat itulah yang ditumpangi Hara.
“Pesawat yang jatuh itu adalah salah satu pesawat dari maskapai penerbangan tempat Hara bekerja. Dan mungkin pesawat itu jugalah yang membawa Geurim bersama timnya” Ungkap Gikwang dengan mata berkaca – kaca. Merekapun lekas beranjak dari tempat itu.

Gikwang menelpon beberapa rekannya untuk memastikan awak pesawat yang sedang bertugas pada penerbangan itu. Sementara Junhyung menelpon seseorang yang dapat membawanya ke tempat itu dengan segera.

“Untuk saat ini kita belum bisa ke sana. Tidak ada satupun penerbangan yang bisa membawa kita ke tempat itu dengan cuaca buruk yang tidak bisa dipredikisi. Hellikopter militerpun belum bisa menembus wilayah itu untuk mencari para korban. Kita harus menunggu beberapa saat” Jelas Yoseob ketika ia mendapat informasi tentang lokasi jatuhnya pesawat tersebut.

“Salah satu kenalanku akan membawa kita ke sana. Mereka adalah penjelajah Wilayah ekstrim. Aku baru saja menghubungi mereka dan mereka sanggup mengantarkan kita saat ini juga” Ucap Junhyung. Gikwang bernafas lega mendengarnya. Merekapun bergegas untuk menemui orang tersebut.

Junhyung membeli sepasang sepatu perempuan dengan bawahan datar di sebuah pusat perbelanjaan ketika mereka sedang menunggu temannya itu. Dan tak lama setelah itu merekapun datang.
“Kenalkan, ini adalah teman yang aku ceritakan pada kalian” Ucap Junhyung pada Gikwang. Iapun mengulurkan tangannya untuk berkenalan.

“Namaku Jang Hyunseung. Dan ini adalah istriku, Kim Hyuna. Kalian boleh menganggap kami Trouble Couple” Ucap Hyunseung sembari tertawa kecil.
“Aku Gikwang. Dan ini adalah temanku Yoseob” Gikwang lalu memperkenalkan dirinya dan Yoseob.

Perkenalan singkat itu tak berlangsung lama. Gikwang, Junhyung dan Yoseob bergegas mengikuti Hyunseung juga Hyuna ketika mereka akan berangkat ke lokasi jatuhnya pesawat menggunakan Hellikopter pribadi milik Hyunseung.

***

Lokasi jatuhnya pesawat terlihat begitu berantakan. Serpihan badan pesawat berhamburan di tempat itu. Beberapa penumpang mengalami cedera akibat pesawat yang berbenturan dengan jembatan ketika terjatuh. Geurim dan Hara berada di tempat yang sama. Keduanya terlihat baik – baik saja.

“Sejak kapan kau mulai berpacaran dengan Gikwang?” Tanya Geurim seketika. Hara berbalik menatapnya.
“Apa kau cemburu?” Hara balik bertanya. Ia tersenyum pada Geurim seperti biasanya.
“Tidak ada alasan untuk aku cemburu” Geurim berusaha menyembunyikan perasaannya dari Hara. Iapun hendak beranjak namun Hara lekas menahannya.

“Hubungan kami tak seperti yang kau fikirkan. Aku dan Gikwang tak pernah saling mencintai” Ungkap Hara dengan raut wajah yang terlihat serius. Geurim kembali duduk di sampingnya.
“Aku menjalin hubungan dengan Gikwang hanya untuk mengelabui kedua orangtuaku ketika aku hendak dijodohkan dengan pria lain. Gikwang membantuku untuk meyakinkan mereka bahwa aku memiliki pasangan yang layak bersanding denganku. Tapi sebenarnya, kami melakukan itu semua demi menjaga hubungan yang sedang aku jalani dengan pria yang sangat aku cintai namun orangtuaku tak pernah merestuinya” Hara terlihat sedih. Geurim terus mengamatinya.

“Lalu siapa wanita yang sangat di cintai Gikwang? Ia bahkan berkata jika sangat merindukannya” Tanya Geurim kemudian. Hara tak bisa menahan tawanya mendengar hal itu.
“Sepertinya kau sangat penasaran dengan kehidupan Gikwang, apa kau menyukainya?” Ledek Hara. Geurim mencibir kesal padanya. Iapun lalu beranjak pergi dari tempat itu.

***

Geurim mencari semua rekan Tim Relawannya. Dan ia sangat bersyukur ketika mendapati mereka dalam keadaan baik – baik saja. Bahkan beberapa diantara mereka telah melakukan pertolongan pada penumpang pesawat yang membutuhkan bantuan. Geurimpun lekas melakukan hal yang sama. Begitupula dengan Hara.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang? Banyak penumpang yang mengalami cedera dan ada beberapa yang belum ditemukan. Tapi Tim SAR dan Tim Medis belum bisa ke Wilayah ini karena cuaca buruk. Satu – satunya jalan darat yang bisa di lalui, adalah jembatan itu, tapi itupun sudah hancur” Ucap Hara pada Geurim dan timnya. Setelah berfikir sejenak, merekapun menyusun rencana untuk menanggulangi kondisi tersebut.

Geurim meminta kepada rekan timnya untuk mencari penumpang yang berada di sekitar tempat itu. Dan melakukan pertolongan sesuai kemampuan mereka. Sementara itu, Hara akan mencari beberapa rekan awak pesawat yang juga belum di temukan.

Lalu Geurim dan Eunji menyusuri bagian kepala pesawat yang berada di bawah reruntuhan jembatan.
“Apa yang kita cari di sini?” Tanya Eunji ketika mereka tak menemukan seorangpun di sana.
“Pasti masih ada orang di sini, sebagian penumpang keluar dari pintu darurat bagian depan. Jadi kita harus terus mencari mereka” Geurim menelusuri tempat itu dengan teliti.

Tiba – tiba langkahnya terhenti ketika melihat sesosok korban terbujur kaku bersimbah darah di depannya. Jasadnya mengalami luka parah dibagian kepala hingga wajahnya tak lagi terlihat jelas. Geurim terbelalak menatap jasad itu dengan mata berkaca – kaca. Tubuhnya gemetaran menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu. Airmatanya mulai berlinang.

Gikwang yang baru saja tiba di tempat itu, langsung menarik tangan Geurim dan memeluknya. Geurim yang begitu Shock terus menangis dipelukan Gikwang.

“Apa dia sudah meninggal?” Tanya Geurim dengan suara gemetaran.
“Hmmm” Jawab Gikwang singkat. Ia terus memeluk Geurim dengan erat dan berusaha menenangkannya. Gikwang menatap Jasad itu dengan mata berkaca – kaca. Ia adalah kapten pilot yang saat itu bertugas sebelum kecelakaan terjadi.

“Tetaplah berdiri di sini dan jangan menoleh kebelakang!” Pintah Gikwang ketika ia melepas pelukannya. Ia lalu mendekat pada jasad kapten pilot itu dan menutupinya dengan jaket yang saat itu ia kenakan. Geurim menoleh perlahan untuk melihat yang sedang dilakukan Gikwang. Ia menatap iba ketika melihatnya menangis di samping jasad itu.

Geurimpun mendekatinya. Ia kemudian menutupi kedua mata Gikwang dengan tangannya.
“Jangan melihatnya lagi jika itu membuatmu bersedih” Bisiknya. Gikwang terus meratapi jasad kapten pilot di depannya. Untuk yang kesekian kalinya ia kehilangan seorang teman seprofesi.

***

Junhyung menghampiri Hara yang nampak sibuk mencari rekannya yang belum ditemukan. Sesekali ia menghentikan langkahnya ketika sepatu hak tinggi yang ia kenakan tersangkut sesuatu. Junhyung terus mengamatinya tanpa berucap sepatah katapun.

Hara begitu terkejut ketika melihat Junhyung berdiri di depannya. Ia terus menatapnya dengan mata berkaca – kaca. Junhyung lalu berlutut dihadapan Hara dan mengganti sepatu hak tingginya dengan sepatu tanpa hak yang tadi ia beli sebelum pergi ke tempat itu. Hara tak dapat menahan airmatanya melihat Junhyung melakukan hal itu.

“Kau tunggulah di sini, aku akan pergi membantu yang lain” Ucap Junhyung kemudian.
“Apa setelah itu kau akan pergi lagi?” Tanya Hara dengan wajah mengiba. Ia berharap Junhyung akan tinggal lebih lama dengannya di tempat itu. Junhyung diam sesaat menatapnya. Ia melihat kesedihan yang mendalam di wajah Hara.

“Aku akan tetap tinggal di sini sampai kondisi kembali membaik” Ucap Junhyung kemudian beranjak pergi meninggalkan Hara untuk mencari korban yang belum ditemukan. Hara tersenyum bahagia mendengar hal itu.

***

Yoseob berjalan pelan menghampiri Gikwang ketika melihatnya bersama Geurim dan Eunji. Ia tak menyadari jika sebuah bongkahan batu reruntuhan jembatan terjatuh dari atas. Gikwang yang melihat itu lekas berlari untuk menyelamatkan Yoseob.
“AWASSS!!!” Gikwang langsung mendorong kebelakang tubuh Yoseob agar bongkahan batu itu tak mengenainya. Geurim juga Eunji terbelalak menyaksikan kejadian itu. Merekapun bergegas menghampiri Gikwang juga Yoseob.

“Tanganmu terluka paman, apa kau baik – baik saja eoh?” Tanya Yoseob ketika melihat pergelangan tangan Gikwang terluka hingga mengeluarkan banyak darah. Ia begitu cemas, sebab Gikwang terluka karena dirinya.
“Aku tak apa. Syukurlah kau selamat” Ucap Gikwang sembari tersenyum namun sesekali ia meringis kesakitan.

“Ikutlah denganku! Aku akan membersihkan lukamu” Pintah Geurim dengan wajah datar. Gikwangpun menurut tanpa berucap sepatah katapun.

“YA! Bagaimana bisa kau seceroboh itu eoh? Kalau saja Gikwang tak menolongmu, mungkin saat ini kau sudah mati. Awww kau sungguh membuatku khawatir” Tanpa Eunji sadari ia mengakui perasaannya pada Yoseob.
“Ahhh jadi kau mulai khawatir padaku?” Yoseob tersenyum bahagia mengetahui hal itu. Eunji tersipu malu ketika menyadari apa yang baru saja ia ucapkan. Iapun bergegas pergi meninggalkan Yoseob yang terus memandanginya dengan tersenyum.

Geurim membersihkan luka dipergelangan tangan Gikwang dengan sangat hati – hati. Ia tak berucap sepatah katapun. Gikwang terus memandanginya.
“Aku sangat bahagia melihatmu baik – baik saja” Bisik Gikwang pelan.
“Apa kau akan menyebut ini sebagai bentuk loyalitasmu juga?” Geurim mengalihkan pembicaraan. Tatapannya kosong ketika melihat Gikwang terluka karena menolong orang lain. Fikirannya tak menentu. Ia bahkan tak bisa membedakan antara perasaan khawatir, takut dan kasian ketika melihat Gikwang seperti itu.

“Aku menyebutnya sebagai keberuntungan. Karena aku melakukan hal itu, sekarang aku bisa berada sedekat ini denganmu” Ucap Gikwang sembari tersenyum. Geurim diam mematung menatapnya.
“Aku sangat merindukanmu” Bisik Gikwang kemudian. Mata Geurim berkaca – kaca mendengar hal itu. Gikwang membelai rambutnya dengan lembut. Airmata Geurim mulai berlinang.

“Dan kini aku menyadari perasaanku untukmu. Aku sangat takut kehilanganmu. Dan aku tak ingin hal buruk terjadi padamu. Aku ingin selamanya seperti ini denganmu. Berada sedekat ini tanpa jarak yang memisahkan kita”

TBC! 😀

Iklan

Give us your cubes!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s