[CubeEntFF’s Freelance] Under The Sky – Part 4

Under the Sky 4

Title : Under The Sky
Author : Beb2uty
Main Cast : Lee Gikwang (BEAST), Jang Geurim, and many others
Genre : AU, Tragedy, Romance, Friendship, Family
Rating : PG 15
Length : Chaptered
Art Cover by : Beb2uty
Disclaimer : Semua kejadian hanya fiksi dan tidak real terjadi! Penulis hanya meminjam tokoh (cast) untuk kepentingan cerita!
Mohon maaf yg sebesar – sebesarnya jika terdapat kesalahan dalam penulisan Gelar Profesi cast yg terdapat dalam cerita ini. Jika menyimpang dari profesi yg sebenarnya sy harap pembaca bisa memahami itu sebagai kekurangan sy sebagai penulis.
DON’T COPY! DON’T PLAGIAT!

Happy reading^^

Geurim dan Junhyung kembali ke Pos. Keduanya memilih berjalan kaki dengan santai. Sesekali Junhyung berbalik melihat Geurim yang terus berjalan di sampingnya tanpa berucap sepatah katapun. Wajahnya terlihat begitu sedih.

“Aku sungguh iri pada Gikwang yang berani menunjukkan rasa pedulinya padamu. Sebab sampai saat ini, aku belum bisa menunjukkan apapun pada wanita yang aku cintai. Aku bahkan terus menghindarinya dan membuat ia salah paham atas sikapku” Ucap Junhyung sembari tersenyum. Namun terlihat jelas kesedihan diwajahnya.
“Tapi aku yakin, apapun yang kau lakukan pasti yang terbaik untuk wanita itu” Geurim menghentikan langkahnya. Iapun berbalik menatap Junhyung.

“Wahhh kau seperti tahu isi hatiku. Kau ini paranormal yah?” Junhyung berusaha menghibur Geurim dengan leluconnya. Dan Geurimpun tertawa mendengar hal itu.

“Kau tak perlu khawatir. Secepatnya, Gikwang akan segera dibebaskan dari tempat itu” Ucap Junhyung kemudian sembari memegangi pundak Geurim ketika melihatnya kembali murung.
“Terima kasih. Dan kau juga tidak perlu lagi bersedih. Aku yakin, suatu saat nanti, wanita itu akan mengerti dengan semua hal yang kau lakukan selama ini” Geurim melakukan hal yang sama pada Junhyung. Dan merekapun tersenyum bersama.

***

Masih begitu pagi, namun Yoseob nampaknya telah bersiap – siap untuk pergi. Sejak semalam pihak Maskapai Penerbangan tempat ia bekerja menelponnya untuk segera kembali ke Kantor Pusat.
“Mau kemana kau?” Tanya Eunji ketika melihat Yoseob berpakaian rapi.
“Aku diminta untuk kembali ke Kantor Pusat. Oh iya, dimana bibiku yang cantik itu? Tanya Yoseob sembari melihat sekelilingnya. Namun tak ada Geurim di sana.

“Bibi? Siapa yang kau maksud?” Eunji terlihat bingung. Yoseob tertawa melihat ekspresi wajahnya.
“Geurim” Jawabnya kemudian.
“Haish, bagaimana bisa kau memanggilnya bibi, apa Geurim setua itu eoh?” Eunji terlihat kesal. Yoseob kembali tertawa.

“Kenapa wanita cantik sepertimu memilih pekerjaan beresiko seperti ini?” Tanya Yoseob ketika Eunji memeriksa pergelangan kakinya yang terkilir.
“Entahlah, aku bahkan tidak punya alasan untuk itu” Jawab Eunji santai.
“Dan kau, kenapa ingin menjadi pilot? Bukankah pekerjaan itu lebih beresiko?” Eunji tertegun menatap Yoseob yang berada di depannya.

“Entahlah, mungkin agar aku bisa bertemu dengan wanita cantik sepertimu” Bisik Yoseob sembari tersenyum menatap Geurim yang tersipu malu mendengar apa yang ia katakan.
“Hashhh kau salah orang jika berfikir aku akan tersanjung dengan rayuanmu itu” Eunji memukuli kepala Yoseob menggunakan pensil yang ia ambil dari saku bajunya. Yoseob hanya tertawa mendapat perlakuan seperti itu.

“Baiklah, sepertinya aku harus pergi sekarang!” Yoseob lalu berpamitan pada Eunji dan rekan relawan lainnya.
“Tolong sampaikan ucapan terima kasihku pada Geurim. Dan berikan ini padanya!” Yoseob menyerahkan ponselnya pada Eunji.
“Katakan pada Geurim agar memberikan ponsel ini untuk pamanku. Signal sudah normal kembali dan mungkin ia akan membutuhkan ini untuk berkomunikasi” Jelas Yoseob kemudian. Eunji hanya tertegun menatap Yoseob yang tak memberinya kesempatan untuk berbicara.

“Dan aku harap, suatu hari nanti bisa bertemu lagi denganmu” Bisiknya sembari mengedipkan mata pada Eunji.
“YA!” Bentak Eunji ketika Yoseob beranjak pergi meninggalkannya. Ia seperti terhipnotis oleh pria itu hingga hanya diam membisu ketika ia sedang berbicara.

Eunji menghampiri Geurim yang sedang sibuk membersihkan gudang dengan beberapa rekannya. Mereka akan menggunakan tempat itu sebagai Pos Relawan sementara. Anak kecil yang kemarin dibawa Geurim ke Pos, juga juga ikut membantu.
“Keponakanmu menitipkan ini untuk pamannya!” Eunji kemudian menyerahkan ponsel milik Yoseob pada Geurim.
“Yoseob? Dimana dia sekarang?”
“Dia baru saja pergi. Oh iya, dia juga memintaku untuk menyampaikan rasa terima kasihnya padamu” Jelas Eunji kemudian. Geurim tersenyum mendengarnya. Mereka lalu kembali membersihkan gudang bersama rekan yang lain.

***

Pihak perbatasan telah mengkonfirmasi identitas Gikwang. Iapun dibebaskan saat itu juga. Mereka kemudian menghubungi Pos Pusat untuk memberitahu hal itu. Junhyung lalu bergegas pergi untuk menemui Geurim.

“Gikwang sudah dibebaskan. Dan dia dalam perjalanan ke sini!” Ucap Junhyung pada Geurim ketika ia tiba di Pos Relawan.
“Benarkah?” Geurim terlihat begitu senang, ia lekas berlari untuk menemui Gikwang, hingga lupa membersihkan wajahnya yang dipenuhi debu setelah membersihkan gudang. Junhyungpun tak bisa menahan tawanya melihat Geurim seperti itu.

***

Geurim terus berlari agar dapat segera melihat Gikwang. Ia bahkan tak peduli walau kelelahan karena harus berlari cukup jauh. Gikwang yang melihatnya dari kejauhan tersenyum bahagia. Keinginannya untuk bertemu dengan Geurim kini dapat terwujud lebih cepat dari harapannya. Hal yang sama dirasakan Geurim, ia sangat bersyukur ketika melihat Gikwang dalam keadaan baik – baik saja.

“Kau selalu saja berlari hanya untuk menemuiku. Dan wajahmu itu…..” Gikwang tak melanjutkan ucapannya. Iapun kemudian tertawa terbahak – bahak melihat wajah Geurim yang nampak berbeda.
“Ada apa lagi dengan wajahku, huh?” Geurim merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Iapun mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya untuk melihat seperti apa wajahnya saat ini. Dan, dengan segera ia membalikkan badannya membelakangi Gikwang.

“Hashhh lagi – lagi aku lupa membersihkan wajahku” Bisik Geurim dengan begitu pelan sembari mengusap dengan tangan seluruh bagian wajahnya.
“Sudahlah, kau tak perlu malu, ini bukan yang pertama kalinya aku melihat wajahmu seperti itu” Ucap Gikwang dengan tawa yang berusaha ia tahan.

“Aku tahu. Oh iya, waktu itu kau bilang, aku tetap cantik walau wajahku dipenuhi debu. Bagaimana dengan sekarang?” Geurim mendekatkan wajahnya pada Gikwang. Ia terlihat begitu percaya diri. Gikwang kembali tertawa melihat tingkah Geurim yang seperti itu. Iapun lalu membersihkan sisa debu yang berada didagu Geurim.
“Kau selalu terlihat cantik, itulah sebabnya aku menyukaimu” Ucap Gikwang sembari tersenyum. Geurim tersipu malu dibuatnya.

“Sebelum pergi, Yoseob menitipkan ini untukmu. Signal sudah kembali normal dan kau mungkin akan membutuhkan ini untuk berkomunikasi. Begitulah katanya” Geurim menyampaikan semua hal yang diberi tahu Eunji padanya. Gikwang lalu menerima ponsel itu.
“Bocah itu, ia bahkan meninggalkan ponselnya untukku” Gikwang kembali tersenyum. Geurim mengamatinya sembari mencibir.

“Ahhh jadi kau mengakui dirimu itu tua yah paman?” Geurim meledeknya sembari tertawa.
“Begitu juga denganmu bibi” Mereka berdua lalu tertawa bersama. Dan saling menatap.

Namun seketika keduanya berhenti tertawa ketika melihat beberapa orang berpakaian rapi berjalan ke arah mereka.
“Siapa orang – orang itu? Apa kau mengenal mereka?” Tanya Geurim.
“Salah satu diantara mereka adalah Pimpinan Maskapai Penerbangan tempatku bekerja” Raut wajah Gikwang terlihat tegang.
“Heh? Untuk apa mereka ke sini? Apa kau melakukan kesalahan?” Tanya Geurim lagi. Namun Gikwang tak menjawab. Ia hanya tersenyum melihat wajah polos Geurim saat itu.

“Kapten Gikwang. Ku rasa kau sudah tahu maksud kedatangan kami ke sini. Selaku pimpinan, aku sangat menyayangkan sikapmu itu!” Ucap Pemimpin Maskapai Penerbangan itu tanpa berbasa – basi.
“Maafkan kesalahan saya pak” Ucap Gikwang dengan bahasa formal.

“Apa yang sudah kau lakukan itu bisa saja mencoreng nama baik Maskapai Penerbangan tempatmu bekerja. Memasuki Wilayah terlarang ketika kau masih dalam masa tugasmu sebagai pilot hanya untuk menyelematkan seorang wanita. Dimana akal sehatmu. HUH?” Nada bicara Pimpinan Maskapai Penerbangan itu mulai meninggi. Sekali lagi Gikwang meminta maaf dan mengungkapkan penyesalannya.

Geurim berbalik menatap Gikwang yang berdiri dengan tegap di sampingnya. Ia kini dapat memahami sebab kemarahan Pimpinan Maskapai Penerbangan itu.
“Maaf sebelumnya karena memotong pembicaraan kalian. Tapi…..” Gikwang begitu terkejut mendengar Geurim berbicara.
“Hentikan!” Gikwang lekas meminta Geurim agar tak meneruskan ucapannya. Namun Geurim seolah tak peduli, ia terus mengutarakan semua hal yang ada difikirannya saat itu.

“Aku mohon, jangan salahkan Kapten Gikwang atas apa yang sudah dia lakukan. Itu semua demi menyelamatkanku, jadi kalian bisa menegurku saja sebagai gantinya” Jelas Geurim kemudian. Semua mata tertuju padanya.

“Maafkan kelancangan teman saya” Gikwang kembali menunjukkan penyesalannya. Geurim menatapnya dengan perasaan iba. Ia tak menyangka, Gikwang akan berada diposisi sulit ini. Dan semua itu karena dirinya.
“Setelah urusanmu di sini selesai, lekas kembali ke Kantor Pusat untuk menyelesaikan masalah ini!” Pintah Pimpinan Maskapai Penerbangan itu. Ia menatap Geurim untuk beberapa saat sebelum ia dan beberapa rekannya beranjak pergi.

“Kenapa kau melakukan hal itu?” Tanya Gikwang ketika ia dan Geurim tinggal berdua. Ia terlihat marah, namun Gikwang menahan amarahannya itu.
“Aku hanya berusaha membelamu dan menjelaskan pada mereka apa yang sebenarnya terjadi. Karena bagaimanapun juga, kau melakukan semua itu karena diriku” Jelas Geurim. Matanya mulai berkaca – kaca.

“Aku tidak melakukan itu hanya untuk dirimu. Apapun yang aku perbuat, semua itu karena tanggung jawab dan loyalitasku. Bukan hanya kepadamu, tapi kepada siapapun” Gikwang meluakkan semua kemarahannya yang sejak tadi ia tahan. Geurim terus menatapnya tanpa mampu berucap sepatah katapun.
“Kau ingat ketika aku meninggalkanmu begitu saja dan hilang tanpa kabar? Saat itu, aku sedang berada di Lokasi jatuhnya pesawat untuk mencari sahabatku yang menjadi korban kecelakaan itu. Dan aku di sana selama berhari – hari. Bahkan keadaannya jauh lebih menyedihkan daripada dikurung di dalam ruangan seperti kemarin. Jadi berhenti melakukan hal bodoh hanya karena ke khawatiranmu itu!” Jelas Gikwang kemudian. Seketika itu juga airmata Geurim berlinang. Ia tak menyangka Gikwang akan berucap seperti itu.

“Sepertinya aku selalu saja melakukan hal bodoh yang tidak berguna. Dan orang lain harus menanggung resiko atas sikapku itu” Geurim kemudian beranjak pergi meninggalkan Gikwang begitu saja. Airmatanya terus berlinang. Gikwang menatap kepergiannya dengan tatapan penyesalan. Ia yang begitu marah, bahkan tak bisa mengontrol ucapannya.

Tiba – tiba saja ponsel yang dipegang Gikwang berdering.
“DANGER!!!” Gikwang tertawa kecil ketika melihat nama panggilan yang muncul di layar ponsel milik Yoseob. Iapun menjawab panggilan itu.

“Paman, ini aku Yoseob. Aku menelponmu menggunakan telepon rumah. Oh iya, apa kau baik – baik saja?” Tanya Yoseob ketika teleponnya terhubung.
“Hmmm” Jawab Gikwang dengan memalas.
“Ku dengar pimpinan ke sana, apa yang dia katakan eoh? Apa dia memecatmu? Jiwa sosialmu ketinggian paman. Kau bahkan melakukan hal bodoh demi seorang wanita. Ckckck” Bertubi – tubi pertanyaan dilontarkan Yoseob pada Gikwang. Ia bahkan meledeknya.

“Kenapa kau meninggalkanku di sini sendirian eoh?” Gikwang mengalihkan pembicaraan. Dan iapun mulai membuat lelucon. Terdengar suara tawa Yoseob dari seberang.
“Maafkan aku paman. Aku diminta untuk segera kembali dan melaporkan tentang insiden kecelakaan pesawat yang kita alami. Kau tidak marah kan?”
“Iya aku mengerti. Aku hanya merasa kesepian di sini” Ucap Gikwang sembari menengadah ke langit. Wajahnya seketika terlihat murung.

“Mintalah bibi cantik itu untuk menemanimu” Yoseob bahkan tak tahu jika Gikwang baru saja membuat Geurim menangis. Gikwangpun terdiam sesaat memikirkan apa yang sudah ia lakukan pada Geurim.
“Oh iya paman, apa kau melihat Eunji di sana?” Suara Yoseob terdengar berbisik.
“Eunji? Siapa dia?” Gikwang terlihat bingung. Ia belum pernah mendengar nama itu sebelumnya.

“Salah seorang relawan dalam tim Geurim. Ia wanita yang cantik juga imut, apa kau melihatnya huh? Apa dia baik – baik saja?” Yosoeb terus bertanya.
“Ahhh jadi kau menelponku untuk mengetahui keadaan wanita itu? YA! BERHENTI MELAKUKAN HAL BODOH HANYA UNTUK SEORANG WANITA!” Teriak Gikwang sebelum ia menutup telepon. Wajahnya terlihat kesal. Ia lalu berjalan kembali ke Pos Relawan.

***

Junhyung menatap sebuah bingkai foto yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi. Di sana terpajang foto Goo Hara yang tersenyum bahagia. Junhyung mengusap wajah Hara difoto itu, dan seketika itu juga matanya mulai berkaca – kaca.

“Perasaan khawatir yang berlebihan, terkadang membuat kita tak mampu berfikir jernih. Hingga melakukan hal bodoh. Tapi setidaknya, aku tidak pernah menyesal karena telah mengkhawatirkanmu” Geurimpun menutup Diarynya. Ia menengadah ke langit, melihat kumpulan bintang yang terlihat jelas di tengah gelapnya malam.

“Apa yang kau lakukan sendirian di tempat seperti ini?” Tanya Gikwang yang datang menghampiri Geurim dan langsung duduk di sampingnya.
“Sekarang aku harus kembali ke Pos” Geurim berusaha menghindari Gikwang. Ia lalu beranjak dari tempatnya.
“Tetaplah di sini! Aku ingin menenangkan fikiranku yang kacau ini bersamamu!” Pintah Gikwang dengan raut wajah memohon. Setelah berfikir sejenak, Geurimpun kembali duduk.

Untuk sesaat keduanya hanya diam membisu. Geurim terus melihat ke tempat lain dan tak berani menatap Gikwang yang duduk di sampingnya.
“Sepertinya kau butuh ini untuk meredahkan amarahmu padaku” Gikwang menyerahkan sebungkus coklat pada Geurim ketika melihatnya cemberut. Dan akhirnya Geurimpun menoleh untuk melihatnya.
“Apa kau berusaha menyogokku dengan coklat ini?” Tanya Geurim sembari menerima coklat itu. Gikwang tertawa mendengarnya. Dan akhirnya Geurimpun ikut tersenyum.

“Aku lebih senang melihatmu tertawa seperti itu, daripada kau harus diam menahan amarahmu. Itu membuatku sangat takut. Maafkan aku atas sikapku tadi” Ucap Geurim pelan sembari membuka pembungkus coklat yang diberikan Gikwang untuknya. Gikwang menoleh untuk melihat Geurim.
“Aku juga minta maaf” Ucapnya kemudian.
“Aku tidak akan memafkanmu”
“Kenapa? Aku bahkan sudah memaafkanmu sebelum kau meminta maaf padaku” Gikwang terlihat bingung. Geurim tersenyum melihatnya.
“Karena kau tak melakukan kesalahan apapun” Ucap Geurim sembari memakan coklatnya. Gikwang terus menatapnya dengan perasaan bersalah.

“Jika nanti kita sudah tidak sibuk dengan pekerjaan, aku ingin mengajakmu kencan romantis. Kau ingin itu kan?”
“Aku tidak menginginkannya lagi. Aku lebih memilih untuk menghabiskan waktu denganmu di perpustakaan yang tenang. Dimana hanya ada kita dan buku – buku. Dan akupun tidak perlu merasakan hambarnya makanan karena kau pergi meninggalkanku sendirian” Teringat kembali kenangan kencan pertamanya bersama Gikwang.

Gikwang terus menatap Geurim yang sedang memakan coklatnya sedikit demi sedikit. Ia tak tahu kesedihan apa yang telah dialami Geurim sepeninggalnya dulu. Ia bahkan belum bisa memahami keinginannya hingga saat ini.

Geurim menoleh untuk melihat Gikwang ketika ia merasa dirinya terus diperhatikan.
“Ahhh ku rasa kau lebih membutuhkan ini sekarang!” Ucapnya sembari memotong sebagian coklatnya untuk Gikwang. Ia melihat kegelisahan terpancar diwajahnya.

“Ambillah ini!” Geurim menyerahkan potongan coklat itu pada Gikwang. Namun Gikwang hanya diam menatapnya. Ia tak juga menerima coklat pemberian Geurim.
“Kau pasti jijik karena aku memotong coklat ini dengan tanganku kan? Baiklah, aku akan membelikan yang baru untukmu” Geurimpun melahap semua coklat itu hingga mulutnya terlihat penuh.

“Aku bahkan tidak jijik sekalipun coklat itu sudah kau masukkan ke dalam mulutmu!” Gikwang lalu menciumi bibir Geurim hingga membuatnya terbelalak. Geurim diam mematung. Coklat yang berada di dalam mulutnya seakan meleleh ketika suhu tubuhnya mulai memanas. Gikwang terus menciumnya. Namun Geurim tetap diam tanpa membalas ciuman Gikwang.
Merasa tak direspon, Gikwangpun berhenti menciumi Geurim dan dengan perlahan menjauhkan wajahnya dari Geurim yang masih saja diam mematung.

Geurim dengan segera beranjak dari tempat itu dan pergi meninggalkan Gikwang tanpa berucap sepatah katapun. Wajahnya memerah. Iapun mengunyah coklatnya dengan cepat dan menelannya. Gikwang terus menatap kepergian Geurim.

***

Malam yang mengesankan itu tak luput dari ingatan Geurim juga Gikwang. Keduanya terlihat canggung ketika bertemu.
“Dimana anak itu?” Tanya Geurim ketika tak melihat anak kecil yang ia bawa ke Pos.
“Ahhh Anak itu sudah pergi sejak pagi untuk mencari orangtuanya di Kota” Jawab salah satu rekan relawan.
“YA! Bagaimana bisa kau membiarkan dia pergi sendirian? Awww benar – benar…..” Geurim terlihat kesal. Ia bahkan tak tahu harus berkata apa untuk memarahi rekannya yang ceroboh itu.

Gikwang yang mendengar percakapan mereka segera datang menghampiri. Iapun menawarkan diri untuk menemani Geurim mencari anak itu, namun gikwang mengutarakan keinginannya itu dengan cara yang berbeda.
“Sepertinya kau butuh kompas untuk menunjukkan arah ke Kota” Ucap Gikwang sembari tersenyum menatap Geurim yang berusaha menghindari tatapannya. Tanpa berucap sepatah katapun Geurim langsung naik ke atas mobil. Ia seolah tahu maksud Gikwang berucap seperti itu. Gikwang kembali tersenyum. Ia lalu mengantar Geurim ke Kota.

***

Setibanya di sana, Geurim langsung turun dari mobil dan mengamati di sekeliling tempat itu. Sementara itu, Gikwang menjawab telepon masuk diponselnya.
“Baiklah, aku akan segera ke sana” Gikwang lalu menutup teleponnya. Ia kemudian menghampiri Geurim.

“Pergilah! Jangan buat hidupmu jadi lebih sulit karenaku” Ucap Geurim seketika. Ia tak sengaja mendengar percakapan Gikwang dengan seseorang lewat telepon. Gikwang tertegun sesaat menatapnya.
“Junhyung yang menelpon. Dia memintaku datang ke Pos Pusat untuk melapor” Jelas Gikwang kemudian dengan raut wajah yang terlihat cemas sebab harus meninggalkan Geurim sendirian di tempat itu.

“Kau tak perlu khawatir, aku bisa mencari anak itu sendirian, jadi pergilah sekarang!” Pintah Geurim lagi sembari tersenyum. Ia seolah tahu apa yang ada dibenak Gikwang saat itu.
“Hmmm baiklah. Setelah urusanku selesai, aku akan menjemputmu di sini” Geurimpun mengangguk perlahan. Gikwang lalu beranjak pergi meninggalkannya.

Geurim terus berjalan menyusuri pusat Kota yang terlihat sepi. Tak ada aktivitas apapun di sana. Setelah terjadi perang, penduduk setempat memilih untuk pindah ke Kota lain dan memilih menjalani kehidupan baru di tempat yang lebih aman.

Dan akhirnya Geurim menemukan anak itu bersama dua orang paruh baya di depan sebuah bangunan tua. Ia lalu menghampiri mereka.
“Kakak” Anak itu tersenyum bahagia ketika melihat Geurim. Ia langsung memeluknya. Kedua orang paruh baya itu tersenyum pada Geurim.

“Apa kalian orangtua anak ini?” Tanya Geurim kemudian. Ia lalu mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Merekapun lekas menyambut uluran tangan Geurim namun keduanya tak berbicara sepatah katapun. Mereka hanya tersenyum. Geurim merasa aneh dengan sikap mereka.

“Orangtuaku bisu, mereka tidak bisa berbicara” Ucap anak itu sembari menggunakan gerakan isyarat kepada kedua orangtuanya. Merekapun berkomunikasi dengan cara seperti itu. Geurim terus mengamati dengan perasaan iba.

“Mereka sangat berterima kasih pada kakak karena beberapa hari ini sudah menjagaku. Dan mereka juga meminta maaf karena sudah merepotkan kakak” Anak itu menjelaskan semua hal yang ingin disampaikan orangtuanya pada Geurim.
“Katakan pada mereka, kakak sangat senang bisa melakukan hal itu dan mereka tidak perlu meminta maaf” Geurim kembali tersenyum menatap keluarga kecil itu. Mereka terlihat bahagia walau hidup dalam kekurangan.

***

Geurim menghubungi Gikwang untuk memberitahu jika anak itu sudah ditemukan. Dan ia telah pergi bersama orangtuanya.

“Ahhh syukurlah. Urusanku di sini sudah selesai, jadi aku akan menjemputmu sekarang!” Ucap Gikwang dari seberang telepon. Namun Geurim tak lagi berucap sepatah katapun. Ia menghentikan langkahnya ketika beberapa orang pria yang terlihat seperti preman menghadang di depan Geurim.

“Hallo, kau masih di sana kan?”
“Cepatlah ke sini, tolong aku!” Pintah Geurim dengan suara pelan. Ia begitu ketakutan ketika gerombolan preman itu terus mendekat padanya.

“Apa yang terjadi? Kau baik – baik saja kan?” Gikwang terlihat semakin cemas ketika teleponnya tiba – tiba terputus. Ia lalu mengendarai mobil dengan kencang agar lekas tiba di tempat Geurim berada saat ini.

Geurim terus berlari tanpa tahu arah tujuan ketika beberapa orang dari gerombolan preman itu mengejarnya. Geurim lalu masuk ke dalam sebuah bangunan tak terpakai untuk bersembunyi. Tubuhnya gemetaran menahan rasa takut. Tanpa sengaja ia memencet aplikasi perekam diponselnya, namun Geurim tak menyadari hal itu.

“Dimana ini? Kenapa aku selalu saja tersesat. Gikwang….. Kau bisa menemukanku di sini kan? Aku sangat takut…..” Geurim terus berbicara sendiri dengan berbisik. Airmatanya mulai berlinang.
“Jika kau terlambat datang ke sini, sudah pasti mereka akan berbuat yang tidak – tidak padaku. Dan jika tahu begitu, seharusnya semalam aku merespon ciumanmu….. Ahhh aku sungguh menyesal tidak melakukannya” Semua yang diucapkan Geurim terekam diponselnya. Namun ia tak mengetahui hal itu.

Setelah merasa aman, Geurimpun beranjak perlahan dari tempatnya bersembunyi. Ia lalu memberanikan diri berjalan keluar dari tempat itu ketika tak seorangpun preman terlihat di sana. Fikirnya.
“Hai cantik, mau kemana kau?” Tiba – tiba saja seorang preman menghadang langkah Geurim. Ia bahkan tersenyum jahat menatapnya.
“Jangan mendekat!” Pintah Geurim sembari berjalan mundur. Preman itu tertawa terbahak – bahak melihat Geurim ketakutan. Iapun menarik tangan Geurim agar pergi dengannya. Geurim berusaha merontak sekuat tenaga.
“Lepaskan aku! YA! Kau preman mesum!” Umpatnya. Gikwang yang baru saja tiba di tempat itu langsung melayangkan tinju di wajah preman yang terus menarik paksa Geurim.

“Kau tak apa kan?” Tanya Gikwang kemudian.
“Hmmm” Geurim menganggukkan kepala. Iapun bersembunyi dibelakang Gikwang.

Mendengar keributan yang terjadi di tempat itu, beberapa preman mulai berdatangan.
“Wahhh mereka sangat banyak” Seru Gikwang dengan mata terbelalak.
“Itulah sebabnya aku menyuruhmu ke sini. Kau bisa melawan mereka semua kan?” Tanya Geurim dengan berbisik. Gikwang menoleh untuk melihatnya. Iapun lalu menyengir lebar.
“Kau senang berlari kan? Dalam hitungan ketiga, aku akan menyelamatkanmu dari mereka”
“Heh?” Geurim terlihat bingung dengan apa yang diucapkan Gikwang.
“1… 2… 3… Sekarang!” Gikwangpun kemudian menggenggam erat tangan Geurim dan menariknya agar lari bersama. Segerombolan preman itupun langsung mengejar mereka.

“Berlarilah lebih kencang lagi, seperti waktu kau ingin bertemu denganku!” Pintah Gikwang sembari tersenyum. Geurim yang terus berlari di sampingnya melihat Gikwang dengan tatapan sinis.

Keduanya terus berlari dengan kencang. Hingga segerombolan preman itu tak dapat lagi mengejar mereka. Gikwang dan Geurim berhenti tepat di persimpangan jalan. Keduanya merunduk sembari memegangi lutut yang seolah ingin lepas setelah berlari cukup jauh.

“Akhirnya aku berhasil menyelamatkanmu” Ucap Gikwang dengan nafas yang seolah berkejaran dengan rasa letihnya. Geurim menoleh untuk melihat.
“Ahhh kau sungguh percaya diri. Tadinya ku fikir kau akan melawan mereka. Tapi ternyata kau jauh lebih takut dariku” Sindir Geurim dengan wajah sinis. Gikwang tertawa melihatnya.

“Jika aku melawan mereka, apa kau akan bersikap manis padaku? Kalau begitu kita harus kembali ke sana” Gikwang mendekatkan wajahnya pada Geurim. Ia menatapnya sembari tersenyum.
“YA!” Geurim semakin kesal. Gikwang kembali tertawa. Ia lalu menjawab telepon masuk diponselnya.

“Baiklah, aku akan pulang besok” Ucap Gikwang pelan pada seseorang yang menelponnya. Seketika itu juga raut wajah Geurim terlihat murung. Ia lalu beranjak pergi meninggalkan Gikwang.

“Dan kita akan berpisah lagi” Bathin Geurim berbisik. Matanya mulai berkaca – kaca.
“Kau selalu membuatku bahagia dengan sikapmu. Tapi aku hanya bisa menyakitimu karena perasaan yang aku miliki ini” Gikwang terus menatap kepergian Geurim dengan perasaan bersalah.

TBC~~~~~~~~~~

Iklan

Give us your cubes!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s