[CubeEntFF’s Freelance] Under The Sky – Part 1

Under the Sky 1

Title : Under The Sky
Author : Beb2uty
Main Cast : Lee Gikwang (BEAST), Jang Geurim
Genre : AU, Tragedy, Romance, Friendship, Family
Rating : PG 15
Length : Chaptered
Art Cover by : Beb2uty
Disclaimer : Semua kejadian hanya fiksi dan tidak real terjadi! Penulis hanya meminjam tokoh (cast) untuk kepentingan cerita! Mohon maaf yang sebesar – sebesarnya jika terdapat kesalahan dalam penulisan Gelar Profesi pada cast (tokoh) yang terdapat dalam cerita ini. Jika menyimpang dari Profesi yg sebenarnya, saya harap Readers (pembaca) bisa memahami itu sebagai kekurangan saya selaku penulis.
DON’T COPY! DON’T PLAGIAT!

Happy Reading^^

Dan akhirnya aku menjalani kehidupan tanpa tantangan.
Semuanya berjalan begitu saja tanpa ada kebahagiaan.
Aku mendapatkan ketenangan yang selama ini aku inginkan.
Namun itu justru membuatku sangat kesepian.
Aku bosan……….

Geurim melipat secarik kertas yang telah dipenuhi tulisan tangannya. Semua ungkapan perasaannya telah ia curahkan disana. Geurim lalu bersandar pada tempat duduknya. Sembari menutup mata ia berharap akan segera tiba di tempat tujuan.

Seorang anak kecil melempar pembungkus coklat yang telah habis ia makan ke arah Geurim dan jatuh tepat di sampingnya. Geurim tak menyadari hal itu.

“Permisi” Geurimpun membuka mata ketika seorang pria datang menghampirinya. Ia adalah salah satu Captain Pilot Sipil maskapai penerbangan yang sedang bebas tugas. Geurim terlihat bingung memandanginya. Ia bahkan tak tahu siapa pria itu.
“Maaf karena telah membangunkanmu. Tapi sebaiknya kau tidak membuang sampahmu di sini” Ucap pria itu sembari menunjuk pembungkus coklat yang masih tergeletak di lantai pesawat. Geurim menunduk untuk melihat. Dan tak lama setelah itu ia kembali menengadahkan pandangannya.

“Bagaimana bisa kau menuduhku seperti itu? Apa kau fikir aku ini tidak bisa membaca eoh? Di sini jelas tertulis!” Geurim menunjuk tulisan peringatan untuk penumpang pesawat di depannya. Ia begitu malu ketika semua mata tertuju padanya. Pria itu tertawa kecil menanggapi keamarahan Geurim.

“Maaf jika aku telah salah paham. Aku rasa sampah ini memang bukan milikmu” Ucap pria itu. Geurim memalingkan pandangannya ke tempat lain. Ia berusaha menghindari tatapan pria itu yang terus tersenyum padanya.
“Tapi aku sarankan kau untuk memakan coklat agar bisa meredamkan sedikit amarahmu itu” Bisik pria itu lagi ketika ia sedang merunduk untuk memungut pembungkus coklat di samping Geurim. Geurim tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Kau bahkan hanya penumpang biasa sepertiku, tapi lagakmu itu seperti pemilik pesawat ini” Gumam Geurim ketika ia melihat pria itu duduk di salah satu kursi penumpang di depannya.

“Para penumpang yang terhormat, kita telah mendarat di Bandar Udara internasional Cleon, kami persilahkan kepada anda untuk tetap duduk sampai pesawat ini benar-benar berhenti dengan sempurna pada tempatnya dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman dipadamkan. Berakhirlah sudah penerbangan kita pada hari ini atas nama………. Terima kasih”

Pesawat telah Landed. Pria itu berbalik untuk melihat Geurim yang terhimpit diantara penumpang lain ketika hendak mengambil barang bawaannya di bagasi kabin. Pria itupun bergegas menghampiri Geurim dengan menerobos beberapa penumpang. Ia kemudian membantu Geurim menurunkan barangnya dari bagasi kabin. Geurim tertegun sesaat melihat pria itu yang tiba – tiba saja berada di dekatnya.

“Terima kasih” Ucap Geurim pelan. Pria itu hanya tersenyum. Iapun kemudian berdiri di belakang Geurim.
“Siapa namamu?” Tanya pria itu ketika keduanya sedang berjalan pelan diantara antrian penumpang yang juga sedang berjalan menuju pintu keluar.
“Perhatikan langkahmu!” Geurim mengalihkan pembicaraan ketika tanpa sengaja tubuh pria itu mengenainya.
“Saat ini tidak ada celah untuk menjaga jarak denganmu, jadi aku harap kau bisa memaklumi kondisi seperti ini” Bisik pria itu sembari tersenyum. Geurim semakin geram dibuatnya.
“Dasar mesum” Fikirnya.

“Kapten Gikwang?” Pria itupun menghentikan langkahnya ketika berpapasan dengan seorang pramugari yang beridiri di depan pintu keluar. Geurim telah berjalan lebih dulu. Ia bergegas menurungi tangga. Pria itu terus mengamatinya hingga Geurim tak lagi terlihat.

“Wahhh aku bahkan tak bisa mengenalimu dengan pakaian biasa seperti ini” Ucap pramugari itu yang tak lain adalah mantan kekasih Captain Pilot. Gikwang. Iapun tertawa kecil mendengarnya.
“Aku sedang bebas tugas selama 2 hari. Jadi ku habiskan waktuku dengan berburu buku bacaan” Jelas Gikwang kemudian.
“Jadi kau masih sama seperti dulu?” Pramugari itu tersenyum menatap Gikwang.
“Tentu. Sampai kapanpun aku akan tetap menjadi diriku sendiri” Gikwangpun membalas senyuman pramugari itu.

Pramugari lain datang menghampiri mereka dengan membawa secarik kertas di tangannya.
“Sepertinya ini milik salah satu penumpang” Gikwangpun mengambil kertas itu dan membacanya.
“Di mana tepatnya kau menemukan ini?”
“Di sana! Seat 8A” Gikwang langsung menoleh ketempat yang di tunjuk pramugari itu dan barulah ia tahu jika kertas itu adalah milik gadis yang tadi berdebat dengannya.
“Jang Geurim. Jadi itu namamu” Gikwang kembali tersenyum ketika mendapati nama Geurim tertulis di atas kertas itu.

***

Geurim baru saja tiba di rumahnya. Ia langsung di sambut oleh kedua orangtuanya.

Geurim memiliki 2 orang adik yang tinggal di Asrama Sekolah dan hanya seminggu sekali pulang ke rumah ketika hari libur. Setelah lulus kuliah, Geurim lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dengan menulis. Cita – citanya adalah menjadi seorang penulis terkenal. Namun orangtuanya tak mengizinkan ia menekuni hal itu.
“Menjadi penulis hanya akan membuatmu berangan – angan pada hal yang mustahil. Antara kenyataan dan khayalan kau akan sulit untuk membedakannya” Itulah alasan kedua orangtua Geurim hingga tak mengizinkannya menggapai apa yang ia inginkan.

“Bagaimana dengan pekerjaan di sana? Apa ada yang cocok denganmu?” Tanya ibu Geurim ketika mereka sedang menyantap hidangan makan malam.
“Ketika berada di sana, aku sudah mengunjungi beberapa perusahaan yang ayah beritahu, namun tak satupun lowongan yang membutuhkan lulusan Sastra sepertiku” Jelas Geurim dengan raut wajah yang terlihat takut. Ia begitu yakin jika ibu pasti akan memarahinya lagi setelah mendengar hal itu.

“Sudah ibu beritahu dari awal sebelum kau kuliah agar mengambil jurusan lain yang mudah mendapat pekerjaan setelah lulus. Tapi kau…..”
“Jangan diteruskan!” Ayah Geurim memotong pembicaraan istrinya.
“Salah satu kenalan ayah yang bekerja dibidang sosial membutuhkan beberapa orang yang bersedia menjadi relawan untuk penanggulangan bencana. Mereka adalah penyalur bantuan untuk orang – orang yang membutuhkan. Mereka akan mendatangi tempat – tempat yang terkena bencana alam ataupun wilayah yang sering terjadi konflik. Pekerjaan itu sedikit beresiko, namun akan sangat berguna jika kita mampu membantu orang lain yang mengalami kesusahan” Jelas ayah Geurim panjang lebar.

“Katakan pada teman ayah, aku bersedia bekerja dengannya. Dan secepatnya aku akan menemuinya” Tanpa berfikir panjang Geurim langsung menyutujui saran ayahnya. Iapun kemudian kembali ke kamarnya.

Geurim mengambil beberapa buku hasil karyanya yang ia sembunyikan dari kedua orangtuanya. Iapun membuka satu persatu buku itu. Terbesit di benaknya proses menyenangkan ketika sedang menulis hingga di terbitkan menjadi sebuah buku. Airmata Geurim mulai berlinang ketika ia sadar bahwa hal itu mungkin tak bisa lagi ia lakukan. Geurim menangis sembari mendekap semua buku – buku itu.

“Dinding kamar ini seolah menjadi pembatas antara aku dan mimpiku.
Duniaku serasa sempit ketika aku berjalan keluar dari tempat ini.
Tak ada pilihan untukku.
Dan tak seorangpun mengerti dengan keinginanku”

Gikwang mengamati satu persatu buku yang baru saja ia beli. Di dalam rumahnya terdapat begitu banyak buku yang tersusun rapi di beberapa lemari kaca miliknya.
Membaca adalah Hobby Gikwang sejak duduk dibangku Sekolah. Ia bahkan selalu membawa beberapa buku ketika ia sedang bepergian. Menjadi Captain Pilot tak membuatnya melupakan Hobbynya itu. Bahkan sebagian besar waktu liburnya ia habiskan untuk mencari buku bacaan. Dan Gikwang akan membacanya di saat waktu senggang ketika sedang bekerja.

Gikwang kembali membaca tulisan tangan Geurim pada kertas yang tadi ditemukan di atas pesawat. Iapun kemudian mengambil salah satu novel miliknya dan membaca nama penulis yang tertera di sampul novel itu.
“Jang Geurim. Jadi kau itu seorang penulis?” Bathin Gikwang berbisik. Iapun tersenyum bahagia mengetahui hal itu.

***

Setelah menemui teman ayahnya untuk membahas pekerjaan. Geurimpun mampir di salah satu toko buku langganannya untuk melihat – melihat.
Gikwang yang juga berada di sana, segera datang menghampirinya.

“Sepertinya takdir telah mempertemukan kita lagi dengan tidak disengaja” Ucap Gikwang sembari tersenyum menatap Geurim yang berdiri di sampingnya.
“Atau seseorang dengan sengaja ingin merubah nasib dan mengatur pertemuan ini” Sindir Geurim. Ia tak percaya jika ada kebetulan yang seperti itu. Gikwang tertawa kecil mendengarnya.

“Sepertinya kau masih marah. Hmmm aku akan pergi setelah mendapatkan seri kedua novel ini” Ucap Gikwang sembari memperlihatkan novel yang ia bawa. Geurim tertegun menatap novel itu yang tak lain adalah novel hasil karyanya.
“Apa kau tahu di mana aku bisa mendapatkannya?” Gikwang mendekatkan wajahnya pada Geurim. Ia berpura – pura tak tahu jika Geurimlah penulis novel itu.
“Sepertinya seri kedua novel itu belum dibuat” Geurim berusaha menghindari tatapan Gikwang. Iapun memalinkan pandangan ketempat lain ketika Gikwang terus memperhatikannya dengan begitu dekat. Gikwang kembali tersenyum.

“Ahhh jadi aku harus menunggu lebih lama? Aku berharap penulisnya lekas menyelesaikan seri kedua novel ini” Seketika itu juga wajah Geurim berubah murung mendengar penuturan Gikwang. Ia tak menyadari jika Gikwang telah tahu bahwa ialah yang menulis novel itu. Geurim tak berucap sepatah katapun. Ia lalu berjalan pelan meninggalkan Gikwang yang diam – diam terus mengikutinya.

“Aku tidak akan pernah bisa menyelesaikan seri kedua novel itu” Bisik Geurim. Iapun mengusap airmatanya yang mulai menetes.

Gikwang terus mengamatinya dari belakang. Namun Geurim tak juga menyadari hal itu. Iapun masuk kedalam Cafe untuk menenangkan perasaanya.
“Buatkan aku segelas coklat hangat!” Pintah Geurim pada salah satu pelayan Cafe yang datang menghampirinya.
“Ku harap saranmu itu akan berguna” Geurim tersenyum sendiri ketika mengingat perkataan Gikwang yang menyuruhnya memakan coklat untuk meredahkan amarah. Gikwang yang duduk di kursi lain ikut tersenyum melihatnya.

“Senyummu begitu manis, tapi kau terus menyembunyikannya dariku” Bathin Gikwang berbisik. Iapun memberanikan diri untuk menghampiri Geurim.

“Sepertinya kau menerima saran dariku” Ucap Gikwang ketika melihat gelas coklat hangat milik Geurim.
“Apa kau juga akan menyebut pertemuan ketiga ini sebagai takdir?” Tanya Geurim seketika. Ia kini sadar jika sejak tadi Gikwang terus mengikutinya. Gikwang tertawa mendengar hal itu. Iapun kemudian duduk di depan Geurim.

“Aku tak menganggap ini sebagai pertemuan ketiga. Dan aku sengaja ingin menemuimu untuk mengembalikan sesuatu” Gikwanpun menyodorkan kertas milik Geurim. Geurim menerimanya tanpa banyak bertanya dimana Gikwang menemukan kertas itu. Geurim tersenyum ketika melihat namanya tertera di sana. Dan iapun menyadari sesuatu.
“Jadi kau sudah tahu jika aku penulis novel itu?” Geurim menatap Gikwang yang duduk di depannya. Gikwangpun menganggukkan kepala sembari tersenyum.

“Oh, jadi kau seorang penulis” Ucap Gikwang kemudian sembari tersenyum.
“Dan kau adalah seorang Detektif” Gikwang tertawa terbahak – bahak mendengar pernyataan Geurim hingga semua mata pengunjung Cafe tertuju padanya.

“Kau menemukan barang yang hilang dan mengetahui identitasku, bukankah itu pekerjaan seorang Detektif?” Geurim seperti bersungguh – sungguh dengan pernyataannya.
“Apa kau penasaran dengan pekerjaanku?” Gikwang balik bertanya. Iapun kembali tersenyum menatap Geurim.
“Lebih tepatnya, aku ingin tahu” Jawab Geurim tegas. Iapun memandangi Gikwang.

“Namaku Lee Gikwang. Dan aku seorang pilot yang tak punya banyak waktu untuk berkencan” Geurim menahan tawanya mendengar pengakuan Gikwang.
“Dan aku yakin, penulis sepertimu pasti tak memiliki seorang kekasih sebab terlalu sering menyendiri” Bisik Gikwang kemudian sembari tersenyum menatap Geurim. Geurim diam sesaat.
“Dan kau bahkan mengetahui hal itu” Geurimpun berbisik sama seperti Gikwang. Keduanya kemudian tersenyum bahagia setelah mengetahui jika mereka adalah Single.

***

Geurim memulai pekerjaannya sebagai salah satu anggota dalam Tim Relawan Penanggulangan Bencana. Ia bersama rekan timnya mendatangi sebuah tempat untuk membantu korban bencana alam di sana. Banyak korban berjatuhan. Ada pula beberapa yang mengalami gizi buruk juga penyakit gatal – gatal setelah banjir besar menerpa Wilayah mereka.

Geurim dan timnya bekerja sama dengan PMI juga Tim Medis untuk menolong orang – orang di tempat itu. Untuk pertama kalinya Geurim melakukan hal yang menantang dalam hidupnya.

“Sekali lagi aku melakukan sesuatu bukan atas keinginanku sendiri. Aku bahkan keluar dari zona aman yang selama ini aku jalani. Aku harap aku bisa ikhlas menjalani semua ini. Bukan karena orangtuaku tapi untuk diriku sendiri”
Geurimpun menutup Diarynya dan bergegas menolong sesorang yang datang meminta bantuannya.

Gikwang fokus mengemudikan pesawat. Saat ini ia sedang bertugas dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang pilot.
“Kita akan Landing” Ucapnya pada Co Pilot yang duduk di sebelahnya.

“Para penumpang yang terhormat, sesaat lagi kita akan mendarat. Kami persilahkan kepada anda untuk kembali ke tempat duduk anda masing-masing, menegakan sandaran kursi, menutup dan mengunci meja-meja kecil yang masih terbuka di hadapan anda, dan mengencangkan sabuk pengaman…………… Terima kasih”

Gikwang tersenyum bahagia ketika melihat daratan yang terhempas luas di hadapannya. Beberapa jam di udara membuat fikirannya sedikit tegang. Iapun mulai membaca ketika pesawat sudah Landed dan On Block dengan sempurna.
“30 menit lagi kita akan melakukan penerbangan. Apa kau tidak ingin menghubungi seseorang?” Tanya Co Pilot pada Gikwang yang nampak asik dengan bacaannya. Ia tersenyum mendengar hal itu.
“Yatim piatu yang di besarkan di Panti Asuhan sepertiku tak memiliki siapapun untuk dihubungi” Jelas Gikwang. Ia selalu mengatakan hal yang sama ketika seseorang menanyakan hal itu padanya.

Gikwang tertegun sesaat ketika memandangi novel yang ditulis Geurim. Terlintas dibenaknya senyuman Geurim ketika terakhir kali mereka bertemu. Iapun bergegas menghubungi penerbit buku Geurim untuk menanyakan nomor telepon Geurim. Dan merekapun memberikannya setelah berulang kali Gikwang memohon. Iapun segera menghubungi Geurim sebab ia hanya memiliki 10 menit waktu tersisa sebelum Take Off.

“Hallo siapa ini?” Terdengar suara Geurim begitu telepon terhubung.
“Bagaimana kabarmu?” Tanya Gikwang sembari tersenyum.
“Dari mana kau mendapatkan nomor teleponku?” Tanya Geurim kemudian ketika tahu jika yang menelponya itu adalah Gikwang.
“Aku tak punya banyak waktu untuk menjelaskan hal itu. Namun aku harap kau tak salah paham. Jika kita bertemu lagi, akan menjelaskan semuanya padamu” Jelas Gikwang. Ia terus menatap jam dinding di depannya.

“Apa kita akan bertemu lagi?” Tanya Geurim dengan suara pelan.
“Tentu. Seminggu lagi aku akan bebas tugas. Dan aku akan menemuimu saat itu. Kau akan menunggu kan?” Gikwang terlihat cemas menunggu jawaban Geurim yang diam sesaat.
“Ya. Aku akan menunggumu” Gikwang tersenyum puas mendegar jawaban Geurim. Iapun menutup teleponnya.

***

Semua penumpang telah naik ke atas pesawat. Dan awak pesawat telah bersiap – siap pada posisi mereka masing – masing.

“Para penumpang yang terhormat, selamat datang di penerbangan………. sebelum lepas landas kami persilahkan kepada anda untuk menegakan sandaran kursi, menutup dan mengunci meja-meja kecil yang masih terbuka dihadapan anda, mengencangkan sabuk pengaman, dan membuka penutup jendela. Atas nama Shin Air kapten Gikwang dan seluruh awak pesawat yang bertugas mengucapkan selamat menikmati penerbangan ini, dan terima kasih atas pilihan anda untuk terbang bersama Shin Air”

Dan pramugaripun memperagakan beberapa cara menggunakan perlengkapan keselamatan penerbangan sipil yang berada di dalam pesawat untuk dipergunakan pada saat situasi darurat.

“Sejak tadi kau senyum – senyum sendiri. Apa mungkin, kau jatuh cinta pada seseorang?” Tanya Co Pilot pada Gikwang.
“Sepertinya” Jawab Gikwang singkat sembari tersenyum
“Ahhh gadis itu pasti lebih cantik dari mantanmu sebelumnya. Apa dia seorang pramugari?”
“Dia hanya gadis biasa dan bukan pramugari”
“Jadi kau menurunkan seleramu untuk memacari seorang wanita?”
“Ini bukan soal selera seperti yang kau fikirkan. Aku hanya mengikuti keinginan hatiku” Ucap Gikwang sembari tersenyum.

“Aku tak tahu apa yang terjadi denganku. Tapi sepertinya hatiku yang kosong telah terisi oleh kehadiranmu. Aku jatuh cinta sejak pertama kali melihatmu dan aku tak punya alasan untuk hal itu” Bathin Gikwang berbisik.

***

Hari yang cerah. Matahari bersinar begitu indah. Seminggu telah berlalu. Geurim berjalan pelan menuju Toko Buku tempat ia dan Gikwang akan bertemu. Sesekali senyumnya merekah membayangkan kebahagiaan yang akan ia dapatkan dikencan pertamanya.

“Disaat pria dan wanita bertemu lalu melakukan banyak hal bersama – sama, kurasa itu layak disebut kencan” Fikir Gikwang sembari tersenyum. Iapun lekas mengemudikan mobilnya untuk menemui Geurim.

Geurim hampir sampai di Toko Buku. Namun langkahnya terhenti ketika melihat seorang kakek terjatuh dari motornya. Iapun berlari untuk menolong kakek itu.
“Maaf aku tak bisa menemanimu ke rumah sakit. Tapi mereka yang akan mengantarmu ke sana dengan selamat” Ucap Geurim pada kakek itu ketika Ia dan petugas Medis membantunya naik ke atas Ambulans.
“Terima kasih nak” Ucap kakek itu pelan sembari mengusap lembut pipi Geurim. Iapun tersenyum menatapnya.

Gikwang tiba lebih dulu di Toko buku. Dari kejauhan ia melihat Geurim berlari ke arahnya.
“Maaf aku terlambat” Ucap Geurim seketika dengan nafas yang terengah – engah setelah berlari cukup jauh. Gikwang tersenyum menatapnya.
“Sepertinya kau sangat merindukanku sampai harus berlari hanya untuk melihatku” Ucap Gikwang santai. Ia terlihat begitu percaya diri. Geurim terbelakak mendengar penuturannya. Ia tak mampu berucap sepatah katapun untuk menyangkal hal itu.
“Dan mungkin karena terburu – buru ingin menemuiku, kau sampai lupa membersihkan wajahmu” Ledek Gikwang kemudian sembari tertawa kecil melihat kotoran di wajah Geurim.
“Apa?” Geurim terkejut mendengarnya. Iapun segera mengusap wajahnya tanpa tahu dimana letak kotoran itu. Gikwang kembali tersenyum melihat tingkah Geurim.

“Bodoh, aku bahkan lupa kalau tangan kakek yang memegangi wajahku tadi kotor di penuhi debu” Fikir Geurim. Iapun tertunduk malu dan tak berani menatap Gikwang.

“Tapi kau tetap kelihatan cantik” Geurim lekas menengadahkan pandangannya mendengar hal itu. Iapun kemudian tertawa terbahak – bahak.
“Sungguh? Waaah kau orang pertama yang berkata seperti itu”
“Jadi aku adalah orang pertama yang memujimu?” Gikwang merasa bangga akan hal itu.
“Bukan, tapi kau orang pertama yang melihatku dengan mata tertutup” Jawab Geurim dengan wajah serius. Iapun kemudian berjalan masuk ke dalam Toko Buku. Gikwang tersenyum menatapnya. Ia tak menyangka Geurim akan bereaksi seperti itu setelah ia memujinya.
“Sepertinya aku gagal merayumu” Gikwangpun kemudian menyusul Geurim.

Geurim melihat – lihat beberapa buku yang terpajang rapi, begitu pula dengan Gikwang. Sesekali keduanya saling melirik satu sama lain. Namun tak satupun yang memulai pembicaraan. Keduanya hanya terdiam.
“Sepertinya hari ini aku akan berkencan dengan buku – buku seperti biasanya” Ucap Gikwang memecah keheningan. Geurim tertawa mendengarnya. Gikwang berbalik menatap Geurim.

“Dikencan pertama ini apa yang kau inginkan? Bagaimana caranya agar aku bisa menjadi kekasih seperti keinginanmu?” Bisik Gikwang ketika ia mendekatkan wajahnya pada Geurim.
“Memperlakukan wanita tak jauh beda dengan buku bacaan. Kau akan tahu apa yang ia inginkan ketika kau melihat ke dalam hatinya” Geurim tersenyum menatap Gikwang di depannya. Merekapun saling berpandangan untuk beberapa saat.

“Hmmm baiklah. Tapi apa kita bisa makan sekarang? Aku sangat lapar” Keluh Gikwang sembari memegangi perutnya. Geurim tertawa melihatnya seperti itu. Merekapun menuju sebuah Restoran untuk makan di sana.

Sembari menyantap makanannya, Gikwang terus menatap Geurim yang duduk di depannya.
“Makanlah dengar benar” Tegur Geurim. Ia menyadari jika sejak tadi Giwang terus memperhatikannya.
“Sepertinya akan sulit memahami keinginanmu. Melihatmu saja tak boleh” Geurim hanya tersenyum mendengar celotehan Gikwang.

Ponsel Gikwang berdering ketika keduanya sedang menyantap makanan. Gikwangpun menjawabnya. Dan bersamaan dengan itu salah satu Stasion Televisi Swasta menayangkan berita kecelakaan jatuhnya salah satu pesawat sipil yang mengangkut kurang lebih 200 penumpang. Geurim terbelalak menyaksikan berita itu.

“Maaf, tapi sepertinya aku harus pergi sekarang” Ucap Gikwang dengan terburu – buru. Wajahnya terlihat begitu cemas.
“Baiklah” Geurimpun mengiyakan walau ia sedikit kecewa sebab kencan pertama mereka harus berakhir sekarang. Ia bahkan tak tahu alasan Gikwang hingga ingin pergi secepat itu.
“Berhati – hatilah saat kau pulang nanti!” Pintah Gikwang. Iapun kemudian berlari meninggalkan Geurim yang terus memandangi kepergiannya.

Geurim kembali menyantap makanannya dengan tidak bersemangat. Ia bahkan tak bisa merasakan kelezatan dari makanan itu. Semuanya terasa hambar. Geurim menatap keluar jendela. Harapannya untuk bahagia dikencan pertama sirna begitu saja. Ia bahkan sangat kecewa sebab Gikwang pergi begitu saja tanpa memberitahu alasan kepergiannya.

***

Gikwang tiba di Kantor Pusat. Iapun langsung mengganti seragam dan bersiap – siap melakukan penerbangan.
“Maaf karena kami harus mengganggu waktu liburmu. Tapi dengan kondisi seperti ini, hanya kau pilot yang bisa kami andalkan” Ucap salah seorang Co Pilot yang saat itu akan mendampingi Gikwang.
“Ini sudah menjadi tugasku” Gikwang tersenyum menatapnya. Namun dibenaknya masih terbesit raut kecewa Geurim ketika ia meninggalkannya begitu saja.

“Hal yang lebih baik adalah sebuah pernyataan tanpa pertanyaan. Aku harap dipertemuan ke lima kita nanti kau bisa menjelaskan alasanmu meninggalkanku begitu saja dan tanpa kabar berita”

-TO BE CONTINUED-

Iklan

Give us your cubes!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s