[CubeEntFF’s Staff] Target – Chapter 9

target-ptg-3

Target

author: AoIce

.

.

starring: Pentagon’s Kang Hyunggu || Adachi Yuto || Jung Wooseok

with

Pentagon’s Changgu || Beast’s Doojoon || CLC’s Yoojin || Pentagon’s Hongseok

.

lenght: Chaptered

genre: AU, friendship, school-life, thriller

rating: Teen

.

.

-o0o-

.

Hyunggu?”

Adachi Yuto. Aku akan mengirimkan gambar kepadamu. Temanmu berada di sana, tapi aku khawatir dia bisa bertahan atau tidak.”

.

-o0o-

.

Yuto sudah berada di depan pagar sekolah yang terkunci. Ia melihat-lihat keadaan di dalam. Sepi, bahkan Yuto tidak mendapati satu orang pun di sana. Mungkin mereka sudah pergi meninggalkan tempat ini.

Atau bersembunyi untuk memberi kejutan kepadanya.

Melihat gedung sekolah yang cukup gelap, Yuto ragu untuk masuk. Tapi bagaimanapun juga, Yuto yakin Hyunggu berada di sini. Dan ia tidak mungkin membiarkannya. Abaikan rasa takutnya, Yuto memanjat pagar kemudian berlari memasuki gedung sekolah. Ia melanjutkannya dengan berlari menaiki tangga menuju lantai 3.

Pintu yang berada di ujung koridor terlihat sama persis dengan yang dikirim dari nomor ponsel Hyunggu. Yuto segera mendekatinya. Tangan kanan bergerak untuk memutar gagang pintu, tapi pandangannya terarah ke bawah dan mendapati kunci di depan kakinya. Gerakannya terhenti sejenak.

Apa ini jebakan?

Yuto mengambil kunci itu. Dimasukkannya ke dalam lubang kunci pada pintu di hadapannya lalu memutarnya. Yuto membuka pintu itu, melihat keadaan di dalam.

“Hyunggu!”

Sementara yang disebut saat itu tengah bersandar ke dinding. Beberapa luka tercetak dengan jelas di wajahnya. Hyunggu membuka matanya dan terkejut mendapati Yuto yang berlari mendekatinya.

“Kenapa kau–”

“Apa yang kaulakukan?” Yuto memotong perkataan Hyunggu. “Kenapa kau tidak bilang padaku? Bukannya kau tidak bisa berkelahi?”

Sejenak keduanya sama-sama terdiam. Tiba-tiba pintu gudang tertutup, detik selanjutnya terdengar bunyi ‘klik’ dari sana. Yuto segera berbalik, beranjak dari posisinya dan mencoba membuka pintu. Tapi sekuat apapun ia mencoba, pintu itu tidak terbuka.

Kuso!” Yuto mendengus kesal. Seharusnya ia langsung membawa Hyunggu keluar, tadi. Yuto berjalan mendekati Hyunggu dan duduk di sebelahnya. “Kenapa kau tidak bilang kepadaku?”

Hyunggu menundukkan kepala, menggumamkan kata maaf sebelum berbicara, “Mereka bilang, mereka akan membunuhmu jika aku tidak datang, menelpon polisi, atau memberitahu siapapun tentang hal ini.”

“Lalu kenapa mereka tidak membunuhmu?”

Hyunggu menolehkan wajahnya, menampakkan wajah tak mengerti. “Kauingin aku mati?”

“Bukan begitu. Mereka menjadikan kau sebagai target untuk dibunuh, kan? Kenapa mereka hanya melukaimu seperti ini?”

“Aku rasa mereka ingin bersenang-senang sebelum membunuhku.”

Hyunggu dan Yuto sama-sama terdiam, memikirkan cara untuk keluar dari gudang ini. Jendela yang ada di sini terlalu tinggi dan berukuran kecil. Di dalam gudang juga tidak ada banyak benda yang bisa digunakan untuk membuka pintu.

Saat suasana benar-benar hening, samar-samar terdengar suara langkah kaki mendekat di luar gudang. Hyunggu dan Yuto menajamkan pendengaran mereka. Orang yang datang menghentikan langkahnya di depan gudang.

“Hm? Kukira dia sudah datang.”

“Aku juga mengira seperti itu. Tapi tadi aku benar-benar melihatnya datang dan naik ke atas.”

“Mungkin kau salah lihat.”

Dua orang yang berdiri di depan gudang kembali mengayunkan langkah. Sebelum suara langkahnya menjauh, terdengar suara lain dari luar. Seperti suara perkelahian. Setelah suara itu berhenti, kembali terdengar suara langkah mendekati pintu gudang. Yuto segera bangkit dan mengambil sebuah pipa besi, kemudian ia berdiri di samping pintu.

Kunci terbuka. Pintu perlahan begerak ke arah dalam. Yuto bersiap mengayunkan pipa besi di tangannya, sebelum akhirnya ia berhenti bergerak; terkejut melihat siapa yang datang.

“Wooseok?”

Wooseok menyingkirkan pipa besi yang dipegang Yuto, “Apa kau sudah gila?”

Hyunggu bangkit dari posisinya dan segera mendekati Yuto dan Wooseok. “Bagaimana kaubisa ada di sini?”

“Ceritanya panjang. Sebaiknya kita pergi dari sini, sekarang.” Wooseok melihat keadaan koridor. Dua orang yang baru dilumpuhkannya masih tergeletak tak berdaya. Wooseok memberi isyarat kepada kedua temannya untuk keluar.

Wooseok memimpin di depan. Mereka melangkah perlahan menuruni tangga barat. Baru saja menginjakkan kaki di lantai dua, Wooseok menyuruh kedua temannya kembali ke atas lantaran seseorang tengah berjalan di sana. Namun sebelum Wooseok naik, orang itu berbalik dan menyadari kehadiran mereka. Ia langsung berseru dan mengejar Wooseok.

Hyunggu dan Yuto berlari ke arah tangga timur, tapi seseorang tengah berjaga di tangga menuju lantai dua. Orang itu segera mengejar Hyunggu dan Yuto yang berlari ke atas. Wooseok yang berada di belakang mencoba menjatuhkan orang itu sebelum mengikuti kedua temannya.

Berada di lantai empat, ketiganya masih terus menaiki tangga karena dua orang tengah berjalan di koridor.

“Sial! Kenapa mereka banyak sekali?” Wooseok–yang kini berada di paling belakang–menoleh sejenak ke belakang, mencoba menghitung berapa banyak orang yang mengejar mereka. Mendengar dari suara langkah yang ada, sepertinya mereka cukup banyak.

Menginjakkan kaki di lantai lima, mereka hendak turun melewati tangga barat. Tapi orang-orang itu tidak terlalu bodoh untuk memberikan kesempatan kepada target mereka untuk kabur. Dua orang menghadang mereka dari tangga barat.

Sekarang mereka benar-benar terjebak. Yuto menarik Hyunggu dan mengajaknya menaiki tangga menuju atap, sementara Wooseok menolak pergi dan mencoba untuk melawan mereka. Hyunggu dan Yuto menutup pintu atap sesampainya di sana. Beberapa orang di dalam mencoba membuka pintu itu, Hyunggu dan Yuto menahan pintu itu sekuat tenaga.

Hyunggu dan Yuto akhirnya menyerah. Mereka berlari menjauhi pintu, membiarkan tiga orang berhasil naik ke atap. Yuto menarik Hyunggu ke belakang tubuhnya. Ia masih hafal dengan wajah tiga orang ini. Tiga orang yang memukulinya malam itu.

Salah satu dari mereka tersenyum sinis, “Teman kalian hebat juga. Aku bahkan tidak tahu dia berada di sini.”

“Di mana Changgu?” Yuto mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan.

“Dia tidak ada hubungannya dengan ini. Yang ingin kulakukan hanya membalas kematian temanku, dan kepergian teman-temanku lainnya.” Orang itu memasukkan tangannya ke saku, kemudian mengeluarkan sebuah benda dari sana. Hyunggu dan Yuto sama-sama terkejut melihatnya. Sebuah pistol berada di tangannya dengan moncong terarah ke depan. “Menurut kalian siapa yang lebih menyenangkan untuk dibunuh lebih dulu?” Orang itu sedikit melirik ke belakang, menunggu jawaban dari salah satu temannya.

“Aku rasa bocah bermarga Kang itu.”

Orang itu kembali memusatkan perhatiannya kepada Hyunggu dan Yuto. Yuto membalasnya dengan tatapan tajam. Ia menahan Hyunggu agar tetap berdiri di belakangnya dengan tangannya.

“Kau tidak ingin keluar?” Pertanyaan yang menguar dari orang itu membuat Hyunggu gemetar. “Bagaimana jika aku membunuh kalian berdua sekaligus?”

Tangan Hyunggu mengepal kuat. Tempatnya berdiri saat ini termasuk tempat yang aman karena tubuhnya tidak mungkin tersentuh amunisi. Tapi Hyunggu tidak mungkin menjadikan temannya sebagai perisai. Hyunggu segera berlari ke sebelah kiri, menjauh dari tempat Yuto berdiri.

Orang itu kembali tersenyum, tapi kali ini ia menarik kedua sudut bibirnya, kendati itu membuatnya semakin terlihat menyeramkan. “Bagus. Tapi aku lebih membenci bocah yang ini.” Pistol di arahkan tepat ke tempat Yuto. Kekehan mengerikan menguar dari mulut orang itu. Tangannya bersiap menarik pelatuk. Tepat sebelum pemicunya ditekan dengan sempurna, tangannya bergeser ke kanan; mengganti targetnya.

.

.

Sayangnya Hyunggu tidak menyadari hal itu.

.

.

DOR!

Hyunggu tersentak ketika tubuhnya terdorong ke samping hingga terjatuh. Orang itu menggeram. Pelurunya hanya menembus angin lantaran Yuto berhasil menjatuhkan targetnya. Pistol diarahkan ke target lainnya. Satu tembakan kembali dilepaskan.

.

DOR!

.

Wooseok yang kala itu masih sibuk dengan satu orang yang tersisa terkejut mendengar suara tembakan. Tangannya dengan cepat menarik balok kayu di sampingnya dan dipukulkan ke kepala lawannya. Sementara orang itu jatuh tersungkur, Wooseok segera berlari ke atas.

Wooseok terkejut ketika berada di ambang pintu. Hyunggu berada dalam posisi setengah berbaring–tidak ada luka yang terlihat pada tubuhnya–sedangkan Yuto dalam posisi duduk membelakanginya. Baju hitam yang dikenakan Yuto tampak basah. Wooseok segera berlari merebut pistol dari sang pemakai–yang saat itu tengah tersenyum senang melihat hasil tembakannya–hanya dengan satu tarikan. Wooseok berdiri menghalangi kedua temannya sambil mengarahkan pistol ke arah tiga orang di depannya.

“Menjauh atau aku akan menembak kalian!”

Hyunggu masih mencoba mencerna apa yang terjadi. Lamunannya terbuyar ketika mendengar suara Wooseok. Hyunggu mengedarkan pandangan hingga berhenti ke arah Yuto di sebelah kanannya. Pemuda itu tampak terdiam dengan menampakkan ekspresi terkejut. Tangan kanannya bergerak meraba bahu kirinya.

Hyunggu segera bangkit mendekati Yuto. Tangan terulur hendak membantu Yuto berdiri, tapi ia tersentak ketika melihat tangan kanan Yuto. Bercak darah membekas dengan jelas di sana. “Yuto, kau–“

Yuto mendongakkan wajahnya, kemudian menoleh melihat ke arah Wooseok dan tiga orang di sana. Yuto segera bangkit, “Kita harus bergerak cepat sebelum tubuhku memberi respon.”

Hyunggu menautkan alis; tidak mengerti. Yuto bangkit, mendekati Wooseok dan memberinya isyarat untuk mendekat ke pintu. Ketiga orang itu tidak dapat berkutik. Wooseok yang mengancam akan melepaskan satu tembakan jika mereka mendekat terlihat tidak ragu untuk melakukannya, terlebih ketika pemuda itu mengatakan ia tidak akan dihukum jika melakukannya karena itu akan dianggap sebagai pembelaan diri.

Ketika ketiganya berhasil melewati pintu, Wooseok cepat-cepat menutup pintu dan menguncinya. Mereka segera berlari turun setelahnya, mengabaikan orang-orang di atas yang meneriakkan kalimat makian sembari mencoba mendobrak pintu.

“Yuto, kau tidak apa-apa?” tanya Hyunggu sebelum mereka turun ke lantai tiga.

“Entahlah. Aku belum merasakan lukanya sekarang. Karena itu, kita harus segera pergi dari sini.”

Lagi-lagi mereka berhadapan dengan dua orang yang datang dari bawah. Mereka berlari menuju tangga yang lain, tapi dua orang yang lain sudah menghentikan mereka dari arah sana.

“Sekarang bagaimana?” tanya Hyunggu.

Yuto mendorong tubuh Hyunggu agar bergeser hingga menyentuh dinding koridor. “Wooseok, kau dari arah barat, aku dari timur.”

Wooseok mengerutkan keningnya, “Tapi lukamu?”

“Sudah kukatakan aku belum merasakannya, jadi aku tidak apa-apa.” Yuto segera berlari melawan dua orang yang datang dari tangga barat. Wooseok sempat khawatir melihat bahu Yuto, tapi ia segera bergerak melawan dua orang yang datang dari arah timur.

Di saat kedua temannya berkelahi, Hyunggu hanya bisa memperhatikan mereka. Ia tidak ingin berdiam diri di sini, tapi pasti ia hanya membuat semuanya menjadi lebih sulit jika ia ikut melawan. Masih terbayang rasa sakit yang terasa saat ia dipukuli tadi, dan Hyunggu tak ingin merasakannya lagi.

Yuto menjatuhkan salah satu lawannya. Mengabaikan orang itu, Yuto melawan orang yang satu lagi. Orang yang terjatuh tadi meringis kesakitan. Ia menatap Yuto dengan bengis, dan akhirnya menyadari bahwa bahu lawannya itu terluka. Orang itu mengambil balok kayu yang dibawanya. Yuto tidak menyadari pergerakannya, dan ini sebuah peluang emas baginya. Diayunkannya balok kayu itu ke bahu Yuto,

“Akh!”

Wooseok menoleh ke belakang. Yuto jatuh tersungkur sambil memegang bahu kirinya. Wooseok berbalik mendekati dua orang yang dilawan Yuto, menarik mereka ke tempat dua orang lainnya. “Hyunggu, cepat bawa Yuto pergi!”

Hyunggu berlari mendekati Yuto dan membantunya untuk berdiri. Yuto menolak ketika Hyunggu hendak membawanya pergi. Ia duduk bersandar di dinding sambil meringis kesakitan.

“Kita harus pergi!”

Yuto menggeleng, “Kita tidak bisa membiarkannya sendirian.”

Hyunggu menolehkan wajahnya ke Wooseok yang tampak kewalahan melawan empat orang sekaligus. “Tapi–”

“Kau harus membantunya.”

Hyunggu menatap Wooseok lagi. Ia tidak mungkin membiarkan Wooseok, tapi ia bisa apa? Hyunggu bahkan hampir tidak pernah memukul seseorang, bagaimana bisa ia melawan orang-orang itu?

Hyunggu mencari sesuatu yang dapat digunakannya. Beberapa pot bunga berukuran sedang yang berjajar di sepanjang koridor menarik atensinya. Hyunggu mengambil salah satunya lalu membantingnya ke punggung salah satu orang itu. Orang itu langsung terjatuh dan mengaduh kesakitan. Salah satu dari mereka menyadari perbuatan Hyunggu barusan. Meninggalkan Wooseok kepada kedua orang lainnya, ia memojokkan Hyunggu dan melayangkan beberapa pukulan dan tendangan sambil memakinya.

Hyunggu hanya bisa pasrah menerima pukulan yang dilayangkan. Lukanya yang tadi sudah mengering kembali mengeluarkan darah. Perlahan tubuhnya terasa semakin lemah. Wooseok hendak membantunya, tapi dua orang yang dilawannya tidak memberinya kesempatan untuk menolong Hyunggu.

Tiba-tiba saja perkelahian itu terhenti. Suara yang tidak asing terdengar di telinga mereka. Keempat orang itu terkejut, lantas melarikan diri meninggalkan koridor lantai tiga. Wooseok mengembuskan napas lega ketika orang-orang itu pergi. Suara sirine polisi yang terdengar mendekat membuat orang-orang itu kabur menyelamatkan diri.

Wooseok melangkah mendekati Hyunggu yang menyandarkan tubuhnya ke dinding. “Kau baik-baik saja?”

Hyunggu menolehkan wajahnya, memberikan sebuah senyuman untuk jawaban dari pertanyaannya. “Aku heran, bagaimana kaubisa menahan luka-luka seperti ini.”

“Kalau kau sering berkelahi, kau pasti akan terbiasa.” Wooseok mengulurkan tangan, membantu Hyunggu untuk berdiri.

Hyunggu menyeret langkah mendekati Yuto. Ia menarik lengan kiri Yuto dan mengalungkannya ke lehernya, sementara tangan kanannya merangkul bahu kanan Yuto. Ketika tangannya menyentuh punggung Yuto, senyuman Hyunggu langsung memudar. Tangannya meraba-raba punggung Yuto. Basah. Seluruh punggungnya basah.

Melihat raut wajah Hyunggu yang terlihat panik, Wooseok yakin ada yang tidak beres. “Ada apa?”

Hyunggu menarik tangan kanannya. Matanya membulat ketika melihat bercak merah di tangannya. “Yuto! Kau–“

Yuto mencoba menggerakkan tangannya, berniat memberitahu keduanya untuk tidak mengkhawatirkannya. Tapi tenaganya seakan lenyap tak bersisa. Yuto mengerahkan sisa-sisa tenaganya untuk membuatnya tetap terjaga, namun tenaganya tidak cukup untuk sekedar membuka matanya. Tubuhnya jatuh terhuyung ke depan. Wooseok berhasil menangkapnya sebelum kepalanya membentur lantai.

“YUTO!”

.

.

-o0o-

.

.

Kemarin malam, Wooseok memutuskan untuk mencari orang-orang yang melukai Yuto. Hyunggu bilang, Yuto tidak berkelahi, melainkan dipukuli. Tapi surat yang didapatnya dari kamar Yuto menyebutkan jika Yuto sering melukai orang lain, maka Wooseok penasaran seperti apa orang yang berhasil melukai Yuto.

Wooseok berjalan menyusuri jalan yang biasa dilalui Hyunggu saat dia pulang bekerja. Sesuai perkataan Hyunggu waktu itu, maka seharusnya tempat Yuto dipukuli tidak jauh dari sekitar jalan yang biasa dilaluinya. Wooseok sengaja pergi tengah malam, karena siapa tahu orang-orang itu hanya berada di sana pada tengah malam.

Wooseok hendak pulang ke rumahnya ketika ia tidak menemukan apa-apa. Tiba-tiba sebuah suara tertangkap rungunya ketika suasana di sekitarnya benar-benar sunyi. Wooseok menghentikan langkahnya perlahan, menajamkan pendengaran guna mencari asal suara.

“Apa maksudmu?”

Tampaknya suara itu berasal dari gang kecil di sebelah kiri yang berada beberapa meter di depannya. Wooseok mengendap mendekati gang itu dan bersembunyi di pinggir mulut gang.

“Aku tidak mau melakukannya. Aku ingin berhenti.”

Itu suara Changgu.

“Apa? Yang benar saja. Apa kau tidak ingin melanjutkan apa yang sudah kakakmu lakukan?”

“Ya. Mereka tidak bersalah, itu hanya kecelakaan. Lalu, dengan alasan apa kita membunuh mereka?”

Lawan bicara Changgu tertawa cukup keras disusul suara tawa dari orang-orang lainnya. “Yak, aku terkejut kau berpikir seperti itu. Apa kau benar-benar akan berhenti?”

“Ya.”

Suara tawa dari sana berhenti menguar. Keadaan menjadi hening selama beberapa saat.

“Baiklah. Kau mungkin bisa berhenti, tapi kita sudah berjalan sejauh ini. Jika kau ingin berhenti, sebaiknya kau keluar dan jangan kembali.”

“Tapi, jangan sangkutkan aku dengan rencana kalian. Aku belum melakukan kejahatan, jadi aku bisa saja melaporkan kalian.”

BUKKK

“Cepat pergi!”

Wooseok bersiap untuk kabur awalnya, tapi ia terlambat karena Changgu langsung mengetahui keberadaannya ketika ia keluar dari dalam gang. Changgu tersentak ketika mengetahui presensi Wooseok. Ia kemudian berbelok ke kiri, berjalan menjauh dari Wooseok. Sebelum Changgu melangkah terlalu jauh, ia berhenti dan menoleh ke belakang. Changgu menunjuk telinganya, kemudian mengarahkan telunjuknya ke arah gang. Setelah itu itu Changgu melangkah pergi.

Wooseok tidak mengerti dengan maksud Changgu awalnya. Oh, bukan. Ia mengerti maksudnya, tapi ia tidak mengerti kenapa Changgu memintanya melakukan itu. Wooseok kembali ke posisinya tadi, mencoba mendengarkan percakapan di dalam.

“Sekarang bagaimana? Kita tidak bisa melakukan rencana itu tanpa Changgu. Padahal kita hanya butuh satu langkah lagi.”

“Tenang saja. Kita bisa melakukannya tanpa bocah bodoh itu. Kita hanya perlu membawa Kang Hyunggu dan menarik Yuto agar mendatangi kita. Semuanya akan berakhir setelah itu.”

.

.

.

tbc.

.

.

Yang mau marah karena biasnya aku lukain silahkan, asalkan jangan targetin aku aja

XD XD XD

Tinggal satu chap lagi, Jangan lupa tinggalkan jejak ya, readers ^o^

Iklan

One Reply to “[CubeEntFF’s Staff] Target – Chapter 9”

Give us your cubes!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s