[CubeEntFF’s Freelance] Imagine – Episode 5 END

13119094_766112080191947_2706813592303386925_n

Title : Imagine – Part 05 / END

Casts : *Reader*, Jung Ilhoon (BtoB), and others

Length : Chapter

Genre : Sad, Romance, Friendship, etc.

Rating : PG

Author : Fitria

Note : (…) = Nama reader (kamu)

“Gue bakal nunggu lo!”

_____

Hari kehari kamu dan Ilhoon semakin dekat, meski pada dasarnya hubunganmu dengan dia belum jelas tapi kamu sangat menikmati hari-hari yang berlalu bersama Ilhoon.

Hari ini kamu datang ke sekolah terlalu pagi, alhasil di sekolahpun belum ada siapa-siapa kecuali kamu dan Pak.Anwar satpam di sekolah.

Kamu melewati koridor menuju kelas, matahari yang belum benar-benar terbit seakaan membuat efek mencengkam. membuatmu bergedik ngeri.

Dari kejauhan kamu dapat melihat tiga orang wanita sedang berdiri di ujung sana. langkahmu sempat terhenti untuk memastikan mereka benar-benar manusia atau hantu. namun kamu melanjutkan perjalananmu ketika mengetahui ia adalah Jiyoon dengan kedua temannya Hyuna dan Sohyun.

“Gitu cara lo, ngeliat senior jelas-jelas di depan mata” Ucap Jiyoon ketika kamu baru saja melewati mereka

“Kalaw begitu saya minta maaf!” Jawabmu.

“Enak banget lo ngomong” Timbal Hyuna, yang mendekat ke arahmu. bahkan ia berani mendorong pundakmu beberapa kali hingga kamu terjatuh.

Kamu yang sempat jatuh di lantai kini telah bangkit, bahkan berhasil menampar pipi Hyuna hingga memerah. Jiyoon yang melihat kejadiaan itu tidak bisa tinggal diam, ia pun mulai menjambak rambutmu tanpa ampun.
“Jiyoon!” Teriak seseorang dengan suara yang amat kamu kenal “Lepasin! urusan lo sama gue!”

Ilhoon mendekat ke arahmu, kemudian menggenggam tanganmu “Gue peringatin ya sama lo! ga usah ganggu dia lagi”

“Tapi gue cinta sama lo, gue yang selama ini berusaha ngedeketin lo. tapi kenapa lo milih cewe level rendahan kaya dia”

Ilhoon menguatkan genggamanya pada tanganmu berusaha menahan emosi “Jaga omongan lo, Dengerin dan catet baik-baik! makasih dengan segala hal yang lo lakuin buat gue. Tapi ada hal yang harus lo tau, bahwa gue ga pernah ada rasa apapun sama lo”

Ilhoon membawamu menjauh dari Jiyoon. dan seolah ada tembok besar yang menahannya, Jiyoon untuk kedua kalinya terpaku di tempat.

“Lo di apain aja sama mereka?” Ilhoon berulang kali menayakan kalimat yang sama

“Gue ga kenapa-kenapa kok” kata-kata itu yang selalu menjadi jawaban pamungkas darimu.

Kini kalian berdua sedang berjalan di sisi lapangan, hendak menuju kelas kalian masing-masing

“(….)!” Teriak Bomi, mendorongmu dari belakang. membuatmu terjatuh bersamanya.

*Blaaaakk* suara pot bunga yang jatuh, hampir mengenaimu jika saja Bomi terlambat seperkian detik ketika mendorongmu.

“Kalian berdua ga kenapa-kenapa kan?” Tanya Ilhoon membantu kalian untuk berdiri.

“Woy, siapa lo yang di atas!” Teriak Ilhoon. seperti sudah kesetanan ia berlari sekuat mungkin menuju lantai itu. untuk apa lagi jika bukan mengejar si pelaku.

“Gimana? ketemu orangnya?” Tanya Bomi ketika Ilhoon telah kembali

Ilhoon menundukan posisi tubuhnya, kedua tangannya bertumpu pada lutut “Engga, apa potnya jatoh sendiri ya?”

“Engga, tadi gue liat kok ada orang yang sengaja ngejatohin tu pot bunga. tapi ga jelas siapa” Jelas Bomi.

“ko tu orang tega banget ya, emangnya gue salah apa?” Ucapmu. Tangan Bomi kemudian dengan hangat membawamu kedalam pelukanya. pelukan hangat seorang sahabat memang selalu bisa membuat hati sahabatnya jadi lebih baik.

________

Semenjak kejadian tadi pagi Ilhoon kini lebih mewanti-wanti tentang keselamatanmu. bahkan ia telah berada di depan kelasmu semenjak bel berbunyi.

“Kita langsung pulang kan?” Tanya Ilhoon

“Eh, lo pulang duluan aja deh gue masih ada eskul padus”

“Gue tungguin deh ampe lo pulang”

“Engga, ga usah. mending lo pulang istirahat”

“Terus nanti kalaw lo kenapa-kenapa?”

“Engga, gue ga bakal kenapa-kenapa. percaya deh sama gue” Jawabmu, menyakinkan Ilhoon.

“Yaudah, gue pulang! lo abis eskul langsung pulang ya. hindari tempat-tempat sepi” Cerewet Ilhoon

“Iyaa bawel!”

“Gue pulang yaa. kalaw udah nyampe rumah kabarin” Ucapnya. sebelum beranjak pergi ia tidak lupa mengacak puncak kepalamu gemas. membuat rambutmu yang tadinya tertata rapi menjadi berantidakan.

_____

Sepulang sekolah hingga menjelang sore Ilhoon tidak henti-hentinya menatap layar handpone. Berharap kamu mengirimi ia pesan.

“Masa belum pulang juga?” Geramnya, ketika melihat jam menunjukan pukul sembilan malam

Hatinya selalu berkata ada sesuatu yang tidak beres tentangmu. Namun ia selalu menampiknya ia percaya bahwa kamu bisa menjaga dirimu sendiri.

Usahanya menatap layar handpone rupanya tidak mengecewakan. ada satu panggilan masuk. Cepat-cepat ia mengangkatnya.

“Hallo? lo udah pulang kan?”

Bukan jawaban yang Ilhoon dapatkan melainkan suara tawa bahagia yang begitu menelusuk ke dalam indra pendengaranya.

“Lo siapa?” Bentidak Ilhoon “(….) mana?”

“(…)? lo nanya dia di mana? dia udah mati kaya nya”

“Lo siapa? dimana (…)!”

“Tolongin dia gih di kamar mandi sekolah, kaya nya di mau mati deh!

“Keparat!”

Sambunganpun di putus secara sepihak. Ilhoon melempar handponenya kesembarang arah. Ia kemudian buru-buru pergi ke sekolah.

Ia mengendarai motornya dengan kecepataan tinggi tidak perduli dengan keselamatanya sendiri yang ia pikirkan hanya keselamatanmu. baginya keselamatanmu lebih penting saat ini.

Setibanya ia di sana, ternyata pagar sekolahpun telah di kunci. Ilhoon memanjatnya dengan terburu-buru masa bodo jikalaw ia di teriaki maling.

Ia berlari mencarimu, bahkan meneriaki namamu. Ia tidak habis fikir bagaiman dirinya nanti jika terjadi sesuatu tentang dirimu, mungkin ia tidak akaan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.

Ia kini sudah berada di dalam toilet wanita. sejujurnya ia ragu untuk masuk kedalam sini. satu persatu bilik kamar mandi ia buka dengan paksa namun ia tidak menemukan dirimu juga.

Bilik terakhir yg belum ia buka rupanya terkunci. Ilhoon mendobraknya dengan paksa

*Brakk*

Kedua kaki dan tanganmu terikat, mulutmu bahkan di bekap dengan lakban. kamu di biarkan meringkuk di lantai dengan air yang terus menagalir dari keran membuatmu kebasahan. tidak tanggung-tanggung bahkan rokmu di gunting dengan kasar.

Ilhoon membuka jaketnya untuk kamu kenakan. Setelah berhasil membebaskanmu.

rasa dingin itu terasa membekukan seluruh tulangmu. untuk berdiripun kamu rasa tidak sanggup, hingga akhirnya kamu merasakan pusing yang amat berat, dan seluruh penglihatanmu gelap.

Namun samar-samar kamu bisa melihat Ilhoon, membopongmu untuk keluar dari sana.

_____

Kejadian hari itu mungkin masih teringat di benakmu. tapi hal itu tidakaakan membuatmu untuk tidakut ke sekolah. dan semenjak kejadian hari itupun kedekatanmu dengan Ilhoon kian menjauh. Kamu telah mencoba menghubunginya namun tidak pernah ada jawab darinya.

Hingga akhirnya kamu memberanikan diri untuk menemuinya.

“Ilhoon!” Panggilmu kepada Ilhoon yang sedang bercengkrama dengan teman-temanya di depan kelas.

Ilhoon tidak menghiraukanmu, melainkan membawamu menuju taman sekolah.

Kamu dan ia duduk di kursi besi panjang. Keheningan kini menyelimuti kecangguan di antara kalian.

“Ko akhir-akhir ini lo ngejauh, ada apa?” Tanyamu membuka topik

“(…)!” Tanya Ilhoon

“Hmmmm..”

“Kita udah ga bisa kaya dulu lagi” Ucapnya, kata-katanya terasa bagai belati yang menusuk-nusuk hati dengan keji.

“Kenapa?” Jawabmu tetap tenang

“Gue butuh kepastian, lo ga bisa gantungin gue kaya gini”

“Jadi lo nyerah?” Tanyamu penuh hati-hati.

“Bukan gitu, sebenarnya gue rela nunggu lo ampe kapanpun. Tapi gue sadar ternyata dengan gue bisa deket sama lo, itu justru ngebuat lo dalem bahaya…”

“Andai aja gue tau, kalaw mengungkapkan perasaan gue ke elo itu ngebuat nyawa lo terancam. Gue lebih baik mendem semuanya sendirian. ga perduli rasa sakit itu seperti apa!”

“Karena bagi gue, ga ada yang lebih menyakitkan. selain ngeliat lo menderita dan penyebabnya adalah gue”

“Jadi gue nyerah untuk dapetin elo, bukan karena gue udah ga suka. tapi ini semua demi kebaikan lo. Jaga diri lo baik-baik”

Ilhoon meninggalkanmu, perlahan-lahan pundaknya menghilang menyisakanmu sendiri di taman. Ribuan jarum terasa menusuk hatimu bertubi-tubi, Sakit. itulah rasa yang sedang kamu alami.

Sebenarnya kamu ingin sekali berteriak bahwa kamu tidak pernah merasa menderita. Justru dengan adanya Ilhoon di sisimu membuat hari-harimu lebih berwarna

Namun pada akhirnya kamu bungkam tidak bergeming. Kamupun sadar tidak bisa memaksakan keinginan orang lain. Jika Ilhoon memilih untuk menyerah tidak ada alasan apapun yang membuatmu untuk tetap menahanya.

Genangan air bening dari kelopak matamu tidak terasa turun dari tempatnya. Menangis, iya kamu kini menangis. Hal itu wajar bukan?

Kamu kembali menatap kepergiannya yang benar-benar pergi. Ada satu hal yang baru kamu sadari saat ini, bahwa kamu telah jatuh hati padanya. Jatuh semenjak tangan itu menyentuh pundakmu, jatuh semenjak mata itu menatap matamu lekat.

-END-

Iklan

Give us your cubes!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s