[CUBEENTFF’S STAFF] May To December -First Episode

maytodecember2

May To December

Starring : Yoon Doojoon (BEAST), Kim Seulgi (Actress)

Minor(s) : Lee Minhyuk (BTOB)

Genre : Romance, Fluff, Friendship, School-life//Rating : T

Length : Chaptered//BGM : Park Jaejung–At First Sight

The First Episode : Having A Heart Malfunction

A/N : YEAAAAY akhirnya debut juga di CubeEntFF! Aku bikin FF ini berdasarkan on-screen couple favorit aku, Yoon Doojoon dan Kim Seulgi. Yang udah nonton Splash Splash Love pasti tau gimana menggemaskannya pasangan ini. Oh iya, di situ ada beberapa percakapaan berbahasa Korea, sengaja aku letakkan biar memperbanyak kosa kata kalian (maaf ya, kebiasaan tutor Bahasa Koreanya emang suka kambuh kalo nulis FF). Oke, without further due, enjoy!

.

Seorang Kim Seulgi bahkan sudah lupa kapan terakhir kali ia merasakan jantung benar-benar berdetak di dada kirinya.

**^^**

“Pacaran saja terus!”

Seulgi menatap sang sahabat, Minhyuk dengan pandangan kesal. Mereka berdua sedang di perpustakaan untuk jam belajar tambahan ketika tiba-tiba pacar Minhyuk datang dan mengganggu acara belajar kedua sahabat itu. Minhyuk pun hanya cengengesan dan akhirnya, setelah beberapa adegan mesra-mesraan yang membuat kaki dan tangan Seulgi geli saking noraknya, pacar Minhyuk pergi dari perpustakaan.

“Kau kesal?” Tanya Minhyuk kemudian.

“Itu pertanyaan retorikal atau apa, sih? Kalau wajahku seperti ini ya, sudah jelas-jelas aku kesal!” Jawab Seulgi memekik tertahan.

“Aduh, kau ini. Kalau kesal, punya pacar saja! Kau sudah cantik, yang kurang hanya pria tampan di sampingmu!” Seru Minhyuk, kemudian melihat Seulgi dari atas hingga ke bawah. “Tapi tunggu, ternyata dadamu juga kurang.”

“Sialan,” Seulgi memukul bahu Minhyuk dan Minhyuk tertawa setelahnya. “Ayo pulang.”

“Serius deh, kawan. Kau ini cantik. Kau juga pendek sehingga membuatmu terlihat manis. Wajahmu bulat dan pipimu merah seperti Anpan-Man tapi jauh, jauh lebih lucu tentunya. Masa’ sih, tidak ada satu orang pun yang tertarik padamu?” Tanya Minhyuk seraya perjalanan pulang mereka.

“Mana aku tau, yang aku tau, harusnya aku duluan yang dapat pacar, bukan malah kau.” Seulgi melihat Minhyuk seperti scanner, kemudian berkata lagi. “Apa yang perempuan-perempuan itu lihat darimu, coba?”

“Hei, aku berusaha memujimu dan kau malah mengina-hinaku. Dasar tidak tau terima kasih,” Minhyuk terkekeh pelan dan menjitak kepala Seulgi.

“Bercanda. Kau tampan, kok!” Ralat Seulgi setelahnya.

“Kenapa tidak kau dan aku menjadi pasangan saja, ya…” Ujar Minhyuk pelan.

“Kau benar. Kalau kita tidak bersama-sama dari bayi, mungkin saja sekarang kau sudah membawakanku bunga cantik setiap malam minggu,” Timpal Seulgi. “Sayangnya aku sudah melihat seluruh kebodohanmu dan membuatku berterima kasih pada Tuhan karena aku tidak berjodoh denganmu!”

“Aku juga berterima kasih pada Tuhan karena tidak menjodohkan aku dengan gadis yang ukuran dadanya sama selama enam belas tahun hidupnya!” Seru Minhyuk tidak mau kalah.

“Memangnya siapa yang waktu itu setiap mandi bersama selalu bilang, ‘cabai cheongyang saja lebih besar dari punyaku’?!” Balas Seulgi keras sehingga Minhyuk harus menutup mulutnya.

Geuge eonje-ran yaegi-ya (Itu cerita kapan)?!” Pekik Minhyuk. “Cerita sebelas tahun lalu masih saja kau ingat-ingat.”

“Kau duluan yang mengungkit-ungkit ukuran dadaku yang sama selama enam belas tahun!” Kata Seulgi.

Geugeon matneunde (Tapi itu ‘kan memang benar)!” Minhyuk menimpali.

Anigeodeun, eotteohke nae gaseum gyesok ttokgata na imi sachungi jinatneunde (Enak saja, bagaimana caranya ukuran dadaku tetap sama padahal aku sudah pubertas)!” Seulgi membela dirinya. “Jeunggo wonhae (Apa kau perlu bukti)?!”

Aigo, dwaetgeodeun. Nan neo mideo, mideo (Aduh, sudah lupakan. Aku percaya padamu).” Minhyuk merangkul Seulgi kemudian, dan mereka berdua berhenti di depan kedai kopi. “Seulgi-ya, keopi han jan mashigo gallae? Yeogi keopi-ga wanjeon yumyeonghaetneunde (Seulgi, mau minum kopi? Kopi di tempat ini sangat terkenal).”

Arasseo, gaja (Baiklah, ayo)!” Seulgi dan Minhyuk memasuki kedai kopi tersebut.

“Aku espresso dan affogato, ya.” Seulgi mencarikan tempat duduk untuk mereka selagi Minhyuk memesan kopi. Mereka berdua lalu menikmati kopi masing-masing sambil melihat pemandangan lewat jendela.

Geobwa, espresso-do masyeotneunde simjang an-ttwine (Lihat, bahkan sudah minum espresso pun, jantungku serasa tidak berdetak).” Seulgi menghela napasnya pelan.

Dangyeonhaji, chingu-ya. Ni simjang michin deusi ttwige mandeuneun-geo keopi-e kapein-i anira, sarang-iya. Neo sarang-e ppajyeosseumyeon geuttae geu sungan ttak areo, ‘ah, yeogi nae simjang-iguna’, geureon geo (Tentu saja, kawan. Yang membuat jantungmu berdetak seperti mau pecah bukanlah kafein dari kopi, tapi cinta. Kalau nanti kau jatuh cinta, kau pasti bisa merasakan, ‘ah, jadi di sini jantungku’, seperti itu).” Jelas Minhyuk panjang lebar dengan ekspresi seakan-akan bocah enam belas tahun itu tau segalanya.

Hagin, na hanbeondo sarang-e ppajyeoneun eobseunikka, eotteon neukkim-inji jal molla (Benar juga, karena aku belum pernah sekali pun jatuh cinta, aku tidak tau seperti apa rasanya).” Seulgi menganggukkan kepalanya.

“Ya sudah, pulang sekarang, yuk!” Ajak Minhyuk. Mereka kemudian pulang dan Minhyuk mengambil arah berlawanan dengan Seulgi. Gadis itu pun berjalan pelan-pelan menghindari genangan air yang terbentuk dari hasil musim hujan, namun kemudian ia merasakan tetesan air mengenai rambutnya.

Eo? Bi-ga onda (Eh? Turun hujan),” Seulgi menengadahkan tangannya dan hujan turun semakin deras. “Aigo, keun-il natne igeo, na usan an-gajyeoganeunde (Ya ampun, gawat, aku ‘kan tidak membawa payung)…” Gadis itu menoleh ke kiri dan ke kanan untuk mencari tempat berteduh dan menemukan halte bus tidak jauh dari tempatnya berdiri. Seulgi pun segera berlari untuk berteduh.

Beberapa lama kemudian, Seulgi mendapat panggilan telepon dari sang ibu. “Eo, Eomma. Wae (Iya, Bu. Kenapa)?”

Wae-rani! Jigeum myeotsinde, jib-e ajik andeureo-ogo i gijibae-ya! Neo eodinde (Apa maksudmu kenapa! Sudah jam berapa ini, kenapa belum kembali ke rumah, dasar gadis nakal! Di mana kau)?” Ibu melemparkan pertanyaan bertubi-tubi dengan nada khawatir.

Na? Jigeum beoseu jeongryujang-e itneunde, bi-ga manhi ondaseo mot ga. Na usan-eul kkamppakhaetdan mariya (Aku? Sekarang aku di halte bus, hujannya deras jadi aku belum bisa pulang. Aku lupa bawa payung),” Seulgi terkekeh kecil.

“Ya sudah, hati-hati ya. Jangan pulang terlalu malam, kalau hujannya sudah reda, langsung pulang.” Pesan Ibu.

“Oke, Bu. Tapi kalau belum reda?” Tanya Seulgi.

“Terobos saja, Ibu akan buatkan cokelat panas dan sup kerang untukmu.” Ujar Ibu dengan kekehan kecil.

“Siap, Bu!” Seru Seulgi kemudian menutup teleponnya. Sudah satu jam berlalu dan hujan belum juga reda, sementara langit sudah mulai gelap. Seulgi pun mengingat apa yang ibunya katakan dan mulai berlari menerobos hujan untuk sampai ke tempat penyebrangan. Sayangnya, saat Seulgi hendak menyebrang, lampu berubah menjadi merah. “Ah, sial.”

Tiba-tiba, sebuah payung berwarna kuning menghentikan Seulgi dari air hujan yang menyerbu, dan membuatnya kaget.

“Jangan hujan-hujanan seperti itu, kau bisa basah. Kenapa tidak berteduh dulu sampai reda?” Tanya pemilik payung tersebut.

“Hah?” Gumam Seulgi linglung. Ya Tuhan, orang yang memayunginya ini sangat tampan, Seulgi tidak bohong. Dengan tinggi badan yang tentu jauh lebih menjulang dari Seulgi, si pemilik payung tersenyum penuh kehangatan. Seulgi jadi bertanya-tanya apakah sup kerang ibunya akan sehangat senyum si pemilik payung. “Eh, itu… aku sudah menunggu satu setengah jam di halte bus, tapi hujannya tidak reda, jadi aku terobos saja…”

“Ya ampun, kasihan sekali. Sini mendekat padaku supaya tidak kena hujan,” Si pemilik payung merangkul Seulgi untuk lebih dekat padanya, dan jantung Seulgi serasa ingin melompat keluar. Gadis itu lalu mengingat apa yang Minhyuk katakan padanya.

“Tentu saja, kawan. Yang membuat jantungmu berdetak seperti mau pecah bukanlah kafein dari kopi, tapi cinta. Kalau nanti kau jatuh cinta, kau pasti bisa merasakan, ‘ah, jadi di sini jantungku’, seperti itu.”

Seulgi kemudian memegang dada kirinya dan benar saja, seperti kata Minhyuk, ia dapat merasakan jantungnya berdetak. Jadi, aku sudah jatuh cinta? Pikirnya dalam hati.

“Nah, sekarang lampunya sudah hijau. Ayo kita jalan!” Si pemilik payung mengajak Seulgi menyebrang dengan masih tetap merangkul Seulgi. “Rumahmu ke arah mana, Nak?”

“‘Nak’?” Seulgi membeo, menyangsikan mengapa si pemilik payung memanggilnya seakan-akan Seulgi adalah anaknya.

“Kenapa? Kau ‘kan masih kecil, wajar saja aku memanggilmu seperti itu. Dilihat dari seragammu, kau pasti baru masuk SMA. Sementara aku sudah lulus SMA sembilan tahun lalu.” Si pemilik payung terkekeh dan lagi-lagi Seulgi merasakan jantungnya mencelos dan terbagi sepuluh bagian sama rata ke jari-jari kakinya. Ya ampun! Seulgi tidak percaya dirinya sedang merasakan jatuh cinta pada paman-paman yang berusia dua puluh delapan tahun, mengingat Paman pemilik payung sudah lulus SMA sembilan tahun yang lalu.

“Nama Paman… siapa?” Tanya Seulgi pelan, hampir tidak terdengar karena suara hujan yang datang berbondong-bondong lebih keras darinya.

“Hm?” Paman pemilik payung mendekatkan telinganya ke arah Seulgi untuk lebih jelas mendengarnya.

Kim Seulgi, tahan… jangan pingsan di sini… jangan… Seulgi menenangkan dirinya sendiri dalam hati. “Nama Paman…”

“Ah! Namaku Yoon Doojoon,” Paman pemilik payung–atau yang sekarang sudah diketahui bernama Doojoon–mengembangkan senyumannya. “Kalau namamu?”

“Aku… Kim Seulgi,” Seulgi nyengir sebisanya untuk mengurangi kegugupan yang dia rasakan.

“Seulgi, ya? Nama yang cantik,” Doojoon mengangguk. “Sekarang kita ke kiri atau ke kanan?”

“Ke kiri, Paman,” kata Seulgi menunjuk arah yang betul. Mereka kemudian sampai di depan rumah Seulgi.

“Ini rumahmu?” Tanya Doojoon, diiringi anggukan Seulgi.

“Paman mau mampir? Ibuku membuat cokelat panas dan sup kerang.” Kata Seulgi menawarkan.

“Kedengarannya menggiurkan, tapi aku masih harus mengurus kepindahan pekerjaanku, jadi tidak bisa mampir. Mungkin kapan-kapan?” Senyum Doojoon.

“Eh?” Gumam Seulgi.

“Iya, ‘kan aku sudah tau rumahmu, jadi aku bisa mampir. Tapi tunggu, boleh aku mampir?” Tanya Doojoon sambil terkekeh dan membuat senyuman terpancar di wajah Seulgi.

“Tentu saja boleh! Paman harus mampir! Janji, ya!” Seulgi berseru antusias dan menyodorkan kelingkingnya untuk dikaitkan dan menyimbolkan janji. Doojoon mengangguk dan mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Seulgi, setelahnya pamit pulang.

“Seulgi-ya, gamgi geolliji-mara (Seulgi, jangan sampai flu, ya)!” Doojoon melambaikan tangannya pada Seulgi.

Omo, omo, akka buteo Eomma gyesok neohuideur-e bwatgeodeun! Nuguya, yae? Namchin-iya (Ya ampun, ya ampun, dari tadi Ibu terus mengamati kalian dari sini! Siapa dia? Pacarmu)?” Tanya Ibu sembari tersenyum-senyum pada Seulgi.

Ani (Bukan)…” Seulgi menggeleng pelan, lalu setelahnya melanjutkan. “Geunde, Eomma… na… geu Ajeosshi hante sarang-e ppajyeo-itneun geot gatae (Tapi, Ibu… aku… sepertinya jatuh cinta pada Paman itu).”

Oppa-do anigo, ajeosshi-ya? Aigo, uri ddal, geurae, geurae, sarang-eun mariya, wonrae geureon geoya. Nugudeun sanggwan eobsi ppajil su isseo (Bukan kakak, tapi paman? Ya ampun putriku, iya, iya, cinta memang seperti itu. Tidak memandang siapa pun, mereka bisa jatuh cinta).” Ibu terkekeh pelan pada anak gadisnya yang baru pertama kali jatuh cinta, persis dirinya di masa muda. “Sudah, mandi sana. Setelah itu baru makan.”

“Iya, Bu!” Seulgi naik ke atas dengan senyum berseri-seri.

**^^**

“LEE MINHYUUUUUUUK!!!!!!!!!” Seulgi berteriak dan berlari mengejar sang sahabat yang hampir memasuki gerbang sekolah. Seulgi lalu menubruk Minhyuk dari belakang dan serta merta membuat Minhyuk terjatuh.

“Tuhanku di surga!” Pekik Minhyuk kaget. “Kim Seulgi, kau ini kenapa, sih? Aku belum melakukan apa-apa padamu hari ini.”

“Bukan itu! Dengarkan ya, dengar ya…” Seulgi merangkul Minhyuk dan berbisik.

“APA, KAU JATUH CINTA DENGAN PAMAN-PAMAN?!” Teriak Minhyuk, dan Seulgi membekap mulut Minhyuk agar tidak berisik. “Kim Seul–hmmph, hmmph,”

“Ssst, dasar bodoh! Pelan-pelan bilangnya!” Seulgi memekik tertahan. “Kau mau dengar ceritanya atau tidak?”

“Mau, mau.” Minhyuk mengangguk dan mereka duduk di bangku sekolah mereka yang bersebelahan, lalu Seulgi memulai ceritanya.

“Jadi, kemarin waktu kau dan aku berpisah jalan, tiba-tiba hujan turun. Karena aku tidak bawa payung, akhirnya aku berteduh saja di halte bus.” Cerita Seulgi.

“Terus, terus?” Tanya Minhyuk meminta lanjutan dari Seulgi.

“Aku sudah menunggu lamaaa sekali, Ibu khawatir dan bilang terobos saja hujannya kalau tidak reda juga. Akhirnya, karena sudah terlalu lama menunggu, aku berlari menerobos hujan. Lalu, saat aku ingin menyebrang, ternyata lampunya berubah merah!” Seru Seulgi.

“Yaaaaah, sayang sekali! Lalu bagaimana?” Tanya Minhyuk antusias.

“Selagi aku menunggu lampu hijau berikutnya di tengah hujan, tiba-tiba hujannya tidak lagi mengenai kepalaku karena ada yang memayungiku. Tebak itu payung siapa?” Tanya Seulgi.

“Jangan-jangan… payung si Paman?” Tebak Minhyuk, mendapat anggukan dari Seulgi. “Wow, hebat! Seperti drama yang biasa ditonton oleh Ibuku saja!”

“Oh, itu tentu bukan bagian terbaiknya. Paman itu merangkulku sampai rumah dan berkata dia akan main ke rumahku kapan-kapan! Dia bahkan bilang namaku adalah nama yang cantik! Ya Tuhan, Minhyuk, jantungku serasa mau meledak!” Seulgi memegangi dada kirinya yang kembali berdetak kencang hanya dengan memikirkan Doojoon.

“Tapi, kenapa kau bisa tau dia paman-paman?” Tanya Minhyuk.

“Tadinya aku juga tidak mempedulikan hal itu sampai si Paman memanggilku ‘Nak’. Aku lalu berkata mengapa dia memanggilku seperti itu, dan dia bilang dia sudah lulus SMA sembilan tahun lalu. Dengan umur kita yang enam belas tahun, sudah pasti dia dua puluh delapan, ‘kan?” Seulgi terkekeh pelan.

“Wah, kau keren. Bisa-bisanya menghitung saat jantungmu hampir malfungsi seperti itu,” Minhyuk bertepuk tangan.”Tapi, Kim Seulgi, kau itu ‘kan masih sangat muda! Ibarat musim, sekarang kau berada dalam musim semimu! Kau cantik, riang, dan penuh bunga-bunga bermekaran. Kau masih berada di bulan Mei! Sementara si Paman pasti sudah kusut dan kedinginan seperti musim salju di bulan Desember.”

“Ei, tidak mungkin. Kalau kau melihat wajahnya, mungkin kau akan menyamakannya dengan matahari berjalan. Kecuali dia bilang usianya, kau pasti tidak akan mengetahuinya! Percaya padaku, dia seperti kakak-kakak Universitas Yonsei tahun pertama!” Bela Seulgi kemudian.

“Begitukah?” Tanya Minhyuk dibarengi anggukan Seulgi. “Oh iya, dia bilang namamu cantik? Berarti kau juga tau namanya, dong?”

“Tau! Namanya–“

Obrolan Seulgi dan Minhyuk terpotong saat derit pintu geser kelas mereka berbunyi, menandakan seseorang masuk kelas.

“Apa kabar, murid-murid? Bapak adalah wali kelas baru di kelas 10-B, nama Bapak Yoon Doojoon. Mohon bantuannya selama Bapak mengajar di sini, salam kenal!” Doojoon tersenyum ramah pada semua muridnya.

“Selamat datang, Pak Guru!” Ketua kelas–Seo Eunkwang–berseru senang dan diikuti anak-anak murid yang lain dengan serempak.

“Terima kasih! Ini, Bapak punya camilan sesuai jumlah siswa di sini, ketua kelas bisa bantu Bapak membagikan?” Tanya Doojoon, Eunkwang menjawab dengan anggukan.

“Wah, Pak Doojoon ramah sekali, ya. Murah hati pula. Pasti dia akan jadi guru idola di sini. Wajahnya sangat tampan.” Minhyuk berdecak kagum. “Jadi, siapa nama si Paman tadi?”

“Minhyuk-ah…” Seulgi memanggil Minhyuk dengan lemas.

“Hm? Hei, Seulgi, kau kenapa?” Tanya Minhyuk khawatir.

“Paman yang aku suka–” Seulgi menelan ludah. “–adalah wali kelas kita.”

Ada hening cukup lama menyelimuti Seulgi dan Minhyuk.

-TBC-

Iklan

15 Replies to “[CUBEENTFF’S STAFF] May To December -First Episode”

  1. YAMPUN YAMPUN KESUKAANKU
    AKU SUKA BANGET SAMA MEREKA AIHHHHHHHH AKHIRNYA BISA BACA FF YANG ADA MEREKANYA!!!
    Minhyuk juga ada yampun aku seneng banget aku suka banget minhyuk
    Ini dari episode 1 aja udah begini belum lagi aku ngakak waktu seulgi dan minhyuk ngomongin keburukan satu sama lain
    Terus masa yang pas ketemu doojoon itu langsung kebayang episode terakhir splash splash love dan baper sendiri, kyaaaaa
    aku tunggu lanjutannya!

    Suka

    1. Haiiii hahaha santai, santai XD
      Iya, ini castnya kesayangan semua ya hihi
      Seulgi sama Minhyuk sengaja aku bikin suka berantem, tapi mereka saling sayang kok heuheu
      Aku jugaaa bikinnya sambil ngebayangin, makanya covernya pun diambil dari foto-foto mereka pas episode terakhir XD
      Siap, terima kasih sudah membaca!

      Suka

  2. Deeeeeeeeek lagi-lagi ya dengan otakmu yang penuh cabang untuk FF itu kamu mengalihkan duniaku XD kamu baru pertama kan nulis FF dujun ya? Tapi kesannya kayak udah cast nyaman aja gitu, apalagi lawan mainnya kim seulgi, cocok banget sih mereka yaampun kenapa ga pacaran aja ya bingung aku gemez banget sama mereka hihi
    Terus yang bagian bahasa koreanya! Ah so helpful beneran nga cuma gwencana saranghae ne aniyo aaa kayaknya baru pertama kali nemu author kayak kamu yang bikin kalimat full pake bahasa korea. Tutor bahasa emang beda ya :p
    aku bener bener nunggu yang selanjutnya karena penasaran banget gantung gituu uhuy, aku tunggu ya lanjutannya!

    Suka

    1. Aihhh Kak Kisum bisa aja ku terharu:’)
      Yap baru pertama kali, mungkin karena pairingnya sama Kim Seulgi jadi enak aja nulisnya XD
      Aku pun gemash dengan mereka Kak, mengapa tidak disegerakan ke penghulu saja begitu ‘kan
      Terima kasyiii nanti di setiap chapter pasti ada convo bahasa korea kokss hihi
      Siap, akan dilanjutkan!

      Suka

    1. Hahaha, perencanaannya memang begitu, karena yang main di FF ini gesrek semua jadi komedi pasti bakal jadi selingan selain romantisnya 😂😂 yaudah ntar dibilangin ya ke Dudu kalo dia jangan suka sama Seulgi(?) Etapi nanti FF ini nggak bakal selesai kalo gitu:(
      Terima kasih sudah baca~!^^

      Suka

  3. Suka bgt!! Lucu, kyk baca kisah temanku… temanku jg suka sm guru kita tp ceritanya tentu nggak sedramatis dan dinamis (?) kyk gini hehe
    Episode 2nya kpn? nggk sabar dehh hehe, cpt bikin ya XD
    Salam kenal, reader baru nih!^^

    Suka

  4. WAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
    DEG DEGAN SEPANJANG BACA MASA! PERTEMUANNYA LUCU SEKALI TAPI AKHIRNYA T-T
    INI PUN KOPEL FAVORIT SAYA AUTHOR!! KYAAAA KITA SAMA
    PERCAKAPAN KOREANYA PUN TOP BGT DEH POKOKNYA! SUKA!
    DITUNGGU EPISODE 2 YA HEHE SUDAH NGGAK SABARR

    Suka

    1. HAAAAAAAAAAAI
      AKK! KALO KAMU DEG-DEGAN BERARTI KAMU JATUH CINTA DENGAN FFKU (?) /kemudian nyeret Minhyuk yang udah bikin pernyataan tentang jantung dengan semena-mena/
      MASA? KITA SAMA HORE!!
      AAAAAH PUJIANNYA BANYAK SEKALI XD
      SIAPP PASTI DILANJUT, TERIMA KASIH SUDAH MEMBACAAA

      Suka

  5. hi there!

    cieeeee selamat debuuutt di blog ini hihihihi \^^/
    ya ampun kok lucuk sekali ((paman-paman))
    kan syedih ;;
    tapi tapi Doojon emang oppa able buat dijadiin pacar atau jodoh wkwkwk.
    Kim seulgi juga kan ucul. maksudnya pasti kaya anak-anak polos hahahhaha.
    AND BAHASA KOREANYA! helpfull so much dengan translateannya. hihihi. suka deeeh~
    dan astaga! Minhyuk kenapa responnya semacam jadi cowok terkepo 2016 sih? wkwkwkwk

    ditunggu selanjutnya~ kenapa mendadak jadi gurunya wkwkwk. pokonya ditungguuuu

    see ya~

    Suka

    1. ADUH SENANGNYA MASIH ADA YANG MENUNGGU HUHU TERIMA KASIH;; aku belum sempat lanjut karena masih ada beberapa urusan sekolah, minggu depan insya Allah benar benar aku lanjutin, tetap tunggu ya:’) thank youu banget pasti bakalan aku masukin bahasa korea tiap chapter supaya bantu yang mau belajar korea! Terima kasih sudah membaca~^^

      Suka

Give us your cubes!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s