[CubeEntFF’s Staff] 12시 30분 – part 01

12시 30분

Right now, we’re like the clock hands at 12:30.

by Shinyoung

Main Cast: Yoon Doojoon & Lee Taeri (OC) || Genre: Romance & Sad || Length: Short-series || Rating: Teen || Credit Poster: Vincyterix at Poster Channel || Disclaimer: Cast belongs to God. No copy-paste. Copyright © 2016 by Shinyoung.

Chapter 1 — Passed Away

*

Sore itu, aku melangkahkan kakiku keluar dari gedung dimana aku baru saja menyelesaikan interview-ku. Benar, aku baru saja melamar pekerjaan di salah satu perusahaan bergengsi di Seoul.

Setelah cukup lama mengemban ilmu di Amerika, aku pulang ke Seoul minggu lalu, dan langsung ditawari untuk bekerja di perusahaan tersebut. Bagaimana bisa aku menolak tawaran berharga itu?

Perusahaan tersebut menawarkan kesempatan tersebut hanya kepadaku. Khusus untukku seorang. Bahkan kepala direktur akan menempatkanku di bagian yang cukup tinggi apabila aku berhasil mengikuti interview dengan baik.

Setelah mengetahui kabar bahwa aku diterima, rasanya aku ingin cepat-cepat pulang dan memberitahu ayah juga ibuku mengenai hal ini.

Begitu langkahku berhenti pada sisi jalan, lebih tepatnya, trotoar, ponselku berdering. Bagian reff dari sebuah lagu yang dibawakan oleh Rain mengalun cukup keras, jadi aku langsung tahu bahwa panggilan tersebut dari ibuku.

Kurogoh ponsel yang berada di dalam tasku dan menerima panggilan telepont tersebut setelah memastikan bahwa yang menelponku adalah ibuku.

“Ada apa, Eomma?”

“Taeri-ya… Ayahmu…,” Ibuku terdiam sejenak kemudian menarik nafas dalam-dalam. Jantungku berdegup kencang menunggu berita yang hendak diucapkan oleh ibuku sore itu. “Dia meninggal.”

Deg.

Tepat saat itu, tubuhku langsung melemas, dan pandanganku menggelap. Aku tidak tahu apa yang terjadi saat itu, namun aku bisa merasakan bahwa seseorang berteriak memanggil namaku dan mendekatiku. Aku bisa merasakan bahwa dia menarikku ke dalam pelukannya dan mengangkatku.

Setelah itu aku tidak tahu apa lagi yang terjadi.

 

*

 

“Lee Taeri?”

“Apa dia sudah terbangun?”

Suara itu. . .

Mengapa tidak asing di telingaku?

Aku bergerak pelan, mencoba menarik nafas dalam-dalam. Mataku terbuka perlahan, sebuah cahaya langsung membuat keningku mengernyit karena begitu silau.

“Lee Taeri, kau sudah terbangun?”

Perlahan, aku kembali membuka mataku dan menyadari siapa yang ada di hadapanku saat ini. Rasanya aku ingin menampar orang ini begitu melihatnya. Bukannya aku sudah mengatakan padanya bahwa hubungan kita telah selesai? Mengapa ia masih datang padaku? Mengapa?

Dari semua orang yang ada, mengapa dia yang harus berada disini? Padahal, aku sudah berdoa agar aku tidak dipertemukan dengan orang ini. Aku sangat membencinya, melebihi benciku terhadap takdir yang telah membuatku bertemu dengannya.

“Taeri?”

Aku mendesah berat, lalu melirik ke sekelilingku. Aku sadar sekarang aku berada di sebuah rumah sakit. Mengapa aku bisa dibawa ke sini?

“Kau mau tahu alasan kau dibawa ke sini?”

Lagi-lagi dia yang bersuara. Aku menoleh pada kakakku, Lee Gikwang, yang tengah asik memperhatikan kami berdua. Dia tersenyum lebar ketika aku meliriknya tajam, memohon bantuan padanya untuk menjawab pertanyaanku yang belum aku lontarkan.

Aku pun mencoba bangkit dari tempat tidur yang aku tiduri, cepat-cepat dia kembali membantuku, namun aku langsung menepis tangannya. Aku tidak tahu siapa disini yang jahat, tapi aku hanya mencoba untuk menghentikannya.

“Doojoon oppa, hentikanlah,” ucapku pelan.

Raut wajahnya yang sebelumnya khawatir kini berubah menjadi terkejut. Dia tampak tidak percaya pada apa yang aku katakan padanya. Mungkin dia memang tidak tahu betapa aku membencinya.

“Taeri, kau lah yang berhenti bersikap seperti itu,” suara Gikwang oppa langsung membuatku menoleh padanya tak percaya. Kini giliranku lah yang terkejut. “Kau tau, dia lah yang membawamu ke sini. Jika dia tidak menemukanmu, entah bagaimana nasibmu.”

“Ta-tapi…”

“Sudahlah, Gikwang. Jangan memarahinya, aku lah yang bersalah.” Doojoon oppa tersenyum pada kakakku setipis mungkin, kemudian ia menepuk bahu kakakku. “Sudah, ya, aku pulang dulu.” Ia menoleh padaku lagi dan berkata padaku sebelum benar-benar pergi, “Taeri-ya, lain kali hati-hati, kau bisa saja kecelakaan jika kau melakukan hal itu lagi. Untuk kejelasannya, tanya lah pada kakakmu. Kau juga diminta untuk datang ke kantor besok.”

“Tu—”

Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, dia sudah berjalan pergi meninggalkan ruangan rawat inapku. Dia benar-benar pergi, menimbulkan sebuah keheningan yang cukup lama diantara diriku dengan kakakku.

Sebelum aku bertanya lagi pada kakakku, Gikwang oppa sudah menyelaku dengan sebuah pertanyaan tajam yang membuat hatiku tertohok.

“Kenapa kau melakukan itu, Taeri-ya? Kau tahu, dia adalah orang yang baik. Aku tahu hubungan kalian sudah berakhir, namun tidak ada salahnya bersikap baik pada seseorang yang telah membawamu ke rumah sakit karena kau pingsan di jalan. Kau tahu… Abeoji sudah dimakamkan.”

Saat itu, rasanya bibirku langsung terjahit rapat.

 

*

 

Aku tidak tahan.

Semenjak perginya ayahku, hidupku terasa hampa. Tidak ada lagi yang menyelimutiku di malam hari apabila aku telah tertidur, tidak ada lagi yang menemani ibuku apabila dia tengah sendirian di rumah, tidak ada lagi yang membuatku tertawa karena kekonyolannya mencoba mengikuti tarian dari sebuah lagu yang akhir-akhir ini dibawakan oleh grup penyanyi Korea, seperti BEAST atau EXO.

Setiap hari Senin sampai Jumat, aku berangkat kerja, layaknya mayat yang hidup. Kantung mataku tidak pernah hilang dan aku menyambut semua dengan senyuman datar, senyuman yang dipaksakan. Semua orang bisa memaklumiku karena mereka tahu bahwa tepat pada hari dimana aku mendapatkan pekerjaan pertamaku, aku justru kehilangan seseorang yang paling aku sayangi.

Dengan kehilangan ayahku itu, aku justru dipertemukan algi dengan mantan kekasihku, Yoon Doojoon. Iya, dia yang menurut pernyataan kakakku telah membawaku ke rumah sakit akibat pingsan mendadak yang aku alami saat mendengar kabar kematian ayahku.

“Apa yang kau lakukan?”

Aku mengerjap pelan, menyadari bahwa daritadi aku hanya berpikir dan berpikir, hingga seseorang yang berkedudukan sebagai atasanku sudah berdiri di hadapanku.

“Jangan memikirkan lagi soal kematian ayahmu, itu memang sudah takdirnya. Cobalah untuk berpikir ke depan. Tidak ada waktu untuk menyesal yang telah berlalu. Kau sudah punya kantung mata yang menyeramkan, apa kau selalu menangis setiap malam?”

Aku mendecih pelan ke arahnya. Mengapa dia jadi sok perhatian padaku?

“Hentikanlah, Doojoon oppa. Kita saat ini berada di kantor dan aku tidak mau membicarakan hal ini sekarang. Aku hanya butuh sendiri.”

Doojoon oppa lagi-lagi tampak terkejut, namun ia langsung mendesah berat. “Taeri-ya, jika kau memang membutuhkan sesuatu, aku pasti siap membantumu. Jadi, jangan ragu-ragu untuk meminta tolong padaku.”

Aku menghela nafas berat. “Oppa, aku tidak membutuhkan apapun darim—ah, aku membutuhkan sesuatu. Ku harap kau mengerti.”

Dojoon oppa mengerutkan keningnya dalam. “Apa itu? Bukankah kau tadi bilang bahwa kau tidak membutuhkan apapun? Kenapa kau bisa berubah pikiran dalam waktu sesingkat itu? Apa yang kau butuhkan?”

Aku menarik nafas dalam-dalam. “Aku membutuhkan kau untuk pergi meninggalkanku sendirian. A-aku… Aku tidak membutuhkanmu untuk berada di sampingku, Doojoon oppa. Hubungan kita telah berakhir. Aku ingin sendirian. Hubungan kita saat ini hanyalah sebagai atasan dan karyawan. Kumohon.”

 

✖ ✖

To be continued

August 28, 2016 — 09:00 p.m.

Iklan

9 Replies to “[CubeEntFF’s Staff] 12시 30분 – part 01”

  1. hi there!

    wah lagi ngetren tittle song ini jadi judul hehhe. since emang lagunya nyess banget sih hehhe.
    dan Doojoon selalu jadi sosok yg terlihat ‘disalahkan’. wajahnya kadang bisa cocok sih wkwkwk.

    baru baca chapt pertamanya tapi kayanya udah diposting chapt selanjutnya nih… jadi,

    see ya~

    Suka

Give us your cubes!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s