[CubeEntFF’s Freelance] So Long

13645098_1051969538230127_8605008461360087533_n

Title : So Long

Casts : Park Chorong (Apink), Kim Junmyeon / Suho (EXO), and others

Length : Oneshot

Genre : Romance, Sad, School Life, etc.

Rating : PG

Author : Jihanluhan

Jalanan Seoul yang ramai. Terlihat beberapa orang berlalu lalang. Pagi hari di Seoul sangatlah ramai. Terlihat seseorang berjalan. Tanpa seorang teman disampingnya. Ia sendirian. Sesekali terdengar umpatan keluar dari mulutnya. Raut wajah kesal menghiasi wajahnya.

“Bagaimana mungkin aku harus berjalan kaki menuju kampus. Padahal aku punya dua mobil. Tapi bagaimana mungkin seorang Suho kim berjalan kaki. Astaga ini memalukan. Ishhh!” sesekali ia menghentakan kaki nya pada trotoar disana.

“Dimana Taxi? Wah apa mereka juga bersama-sama membuatku kesal. Ya Tuhan,” pria itu menghembuskan nafas nya kasar. Ia benar benar kesal dan marah.

“Mau ikut denganku?” Terdengar suara disamping kanannya. Ia menoleh.

“Chorong?” Ia menatap tak percaya. Bukan Chorong yang ia tatap tetapi sebuah motor yang gadis itu kendarai.

Kajja… jika kau berjalan kaki menuju kampus kau akan terlambat.”

“Tapi motormu tidak pantas aku tumpangi. Terlalu jelek,”

“Ya sudah kalau begitu. Kau jalan kaki saja. Sampai bertemu di kampus. Tuan Sombong” Chorong mulai menjalankan motor. ini mendesak. Kau ikut menaiki motor jelek atau kau tidak ikut ujian pagi ini?

“Tunggu. Aku ikut,” Suho duduk dibelakang Chorong. “Ingat ini mendesak. Jangan sampai kau membuatku terjatuh. Arraseo?”

“Baiklah…”

20 menit kemudian mereka sampai di Universitas Seoul. Suho dan Chorong berjalan berdampingan menuju kelas mereka. Suho dan Chorong bisa dikatakan sebagai teman. Walaupun tidak terlalu dekat tapi mereka saling mengenal. Ini adalah semester terakhirnya. Selesai ujian mereka akan melangsungkan sidang skripsinya.

Suho adalah orang yang selalu Chorong lihat diantara ribuan mahasiswa Kampus ini. Suho adalah orang yang selalu membuat Chorong tersenyum saat memikirkannya. Yah, Chorong menyukai Suho sekitar satu tahun yang lalu. Saat untuk pertama kalinya Suho berbicara padanya. Tersenyum kearahnya, Chorong akui Suho adalah orang yang sombong mungkin karena ia adalah putra dari salah satu profesor sekaligus orang yang paling berpengaruh di kampus ini. Tapi bagi Chorong Suho adalah yang terbaik. Sangat.

“Lihat karenaku kau tidak terlambat,” Chorong membanggakan dirinya. Mereka masih berjalan menuju kelas pagi ini.

“Ck. Ye ye kau penyelamatku Park Chorong. Sombong sekali,”

“Hey. Kau pikir kau tidak pernah membanggakan dirimu,hah. Kau juga sombong. Ini menular karenamu”

“Terimakasih chingu,” Suho melangkah lebih dulu masuk keruangan. Sedangkan Chorong masih berdiri didepan pintu. Tatapannya kosong. Bukankah ucapan seperti itu sering ia dengar tapi kenapa rasanya masih sesakit ini. Padahal ia selalu menyadarkan dirinya bahwa ia tidak pernah berarti dihidup Suho. Tetapi kenapa Suho amat berarti dihidupnya?

“Sadar Park Chorong. Kau bukan siapa siapa. Kau bahkan bukan sahabat baiknya. Kau tak lebih hanya seorang teman. Teman. Sama seperti yang lainnya.” Lirihnya merutuki dirinya sendiri. Ia menghembuskan nafas kasarnya. Menguatkan dirinya untuk bangkit dari harapan yang tak kan pernah akan terwujud. ‘Mustahil’. Pikirnya. Chorong memasuki kelasnya. Dan tak lama Dosen pun masuk. Mereka mulai mengikuti ujian pagi ini. 1 jam berlalu. Ujian selesai.

“Syukurlah. Ujian selesai dengan sangat baik. Semua mengikuti ujian dengan tertib. Tinggal besok kalian sidang skripsi. Kalian siap?”

Ne,”

“Arraseo. Aku tahu kalian pasti bisa. Baiklah kelas selesai. Selemat berjuang.”

“Khamsahamnida.”

Kelas selesai. Chorong keluar berjalan menuju Perpustakaan. Sesampainya disana ia mencari refrensi buku untuk persiapan sidang besok. Ia gugup tentu saja.

“Park Chorong” Terdengar suara memanggil namanya. Ia menoleh kesamping kanannya. Sebuah senyuman tergambar diwajah lelaki yang mulai berjalan mendekatinya. Sahabat baik nya.

“Woohyun…” Chorong tersenyum

“Selamat berjuang nona Chorong,”

“Hey. Bukankah kau juga. Selamat berjuang juga Woohyunni, Sahabat baikku,”

“Oh. Grup ku akan mengadakan konser. Kau datang ya. Ini tiket untukmu. Eomma ku juga akan datang. Ia juga mengatakan padaku. Ia merindukanmu”

“Salam kangen juga untuk eommonim. Ah aku jadi ingin bertemu dengannya. Besok aku Sidang. Ini konser untuk besoknya lagi kan?”

“Iyah. Kau datang kan? Ayolah sahabat baikku. Kau juga tamu ku. Ya? Ya?”

Chorong mengangguk.

“Yes. Oh aku yampir lupa,bagaimana dengan Suho. Aku lihat tadi kau berangkat bersama. Oohh kalian semakin dekat saja”

“Hanya teman. Tidak lebih” Chorong menunduk. “Tidak lebih. Dia hanya menganggapku teman.”

“Kau harus lebih agresif”

“Tidak. Aku tidak bisa, biar saja akan aku simpan saja rasa ini. Aku sudah terbiasa menyimpan perasaan,”

“Eyy kau tidak boleh seperti itu. Kau harus bisa menyatakan perasaanmu. Diterima atau ditolak itu masalah nanti yang penting kau sudah menyatakan perasaanmu. Itu akan melegakan dihati mu.”

“Aku tidak berani,”

“Yah terserahmu saja. Aku dengar Suho akan debut bulan ini.”

“Kau tahu dari mana?”

“Agensiku anak dari agensinya. Aku mendengar dari manager hyung. Nanti akhir bulan. Ya sudah. Aku harus pulang ada latihan buat konser besok. See you next time” Woohyun mengacak rambut Chorong setelahnya ia melambaikan tangan.

“Selalu saja mengacak rambutku. Hufth…” Chorong tersenyum. Mengingat bagaimana ia dan Woohyun bersahabat sejak dibangku sekolah menengah atas. Orang tua mereka mengetahui persahabatannya. Sudah seperti saudara. Kebiasaan Woohyun selalu mengacak rambut Chorong. Chorong justru tidak keberatan karena ia tahu itu bentuk sayang Woohyun kepada dirinya sebagai seorang sahabat.

“Woohyun Infinite. Wahh anak itu sudah menjadi bintang rupanya.” Ia tersenyum tapi setelahnya ia justru diam. Suho pun akan menjadi bintang nantinya. Dan Chorong akan semakin jauh dari nya. Akan banyak orang yang bahkan lebih mencintai Suho dibanding dirinya.

“Aku semakin memendam rasa ini. Mungkin baiknya memang aku coba untuk melupakan nya. Walaupun Cinta ku sudah terlanjur amat sangat tulus untuknya selama setahun ini. Tapi aku yakin aku akan bisa melupakannya.”

Keesokan harinya. Ini adalah sidang skripsi bagi Chorong dan seluruh angkatan yang sama dengannya. Chorong duduk menunggu giliran. Ia gugup. Suho selesai menyelesaikan sidangnya. Ia keluar dengan tersenyum.

“Syukurlah semua berjalan lancar. Aku bisa,” Suho tersenyum. Ia melihat Chorong di bangku taman depan kampusnya. Suho menghampiri Chorong.

“Hey Miss Sombong.” Suho duduk disamping Chorong.

“Oh. Kau sudah selesai. Bagaimana sidangnya? Kau berhasil,”

“Tentu saja. Kau tau kan otakku tak sebodoh itu.”

“Syukurlah kalau kau melakukannya dengan baik. Semoga kau dapat nilai terbaik Suho Kim,”

“Aku harap juga begitu. Hei kau gugup. “

Chorong mengangguk

“Kemarikan wajahmu,”

“Untuk apa?”

“Cepatlah,” Chorong mendekat kearah Suho. Suho mendekat ke arah Chorong. Mereka berhadapan.

Getaran jantung Chorong berdetak cepat. Pemicunya adalah wajah Suho. Chorong tidak pernah sedekat ini dengan Suho. Tidak pernah. Ini adalah pertama kalinya. Dan Chorong berdoa dalam hatinya semoga Suho tidak mendengar detak jantungnya. Kedua tangan Suho menempel pada kedua pipi Chorong.

“Lihat aku. Jika kau gugup. Kau harus berdoa dalam hatimu dan menguatkan dirimu sendiri jika kau bisa melakukan nya. Arraseo?”

Chorong mengangguk

“Bagus. Nah setelah ini pasti kau. Dia hampir keluar. Kau kesana lah. Ingat kau pasti bisa” Suho melepaskan tangnnya. Chorong mulai bangkit dan berjalan menuju ruang sidang yang tengah berlangsung. Ia memegang kedua pipinya. Rona merah terlihat di wajahnya. Dan Suho tak melihatnya.

“Kau yang menguatkan ku Suho. Aku bisa karena kekuatan darimu. Aku akan buktikan jika aku juga pasti bisa,”

Chorong memulai sidangnya. Sedangkan Suho masih duduk dibangku taman itu. Ia menunggu Chorong. Menunggu teman yang sudah ia anggap sebagai teman baiknya.

Satu jam kemudian

Chorong keluar dari ruangan itu. Suho bangkit dari duduknya. Ia melihat wajah suntuk Chorong. Ia berlari mendekatinya.

“Wae? Kau tak berhasil. Atau ada yang tidak bisa kau jawab? Gwenchana. Kau akan tatap lulus. Tenang saja” Suho berusaha memberi kekuatan pada Chorong.

“Mr Sombong. Aku…”

“Iya aku tahu. Kau harus kuat. Tidak apa apa,”

“Aku bisa melakukannya. “

“Mwo…??? Kau bisa melakukannya, ah,” Suho memeluk Chorong erat.

Bagaimana mungkin Chorong bisa melakukannya. Lihat bagaimana Suho berhasil membuatnya bahagia. Memeluknya. Oh ini pertama kalinya juga Chorong dipeluk Suho.

Tuhan, bisakah waktu berhenti saat ini juga. Aku masih ingin bersamanya. Dipeluk olehnya seperti ini—Chorong.

Suho melepaskan Pelukannya. Chorong merasa kehilangan saat itu juga. Tapi ia harus memasang wajag bahagia. Ia bahagia, kan sudah dipeluk Suho walau hanya sekejap setidaknya ia merasakan ada di pelukan Lelaki yang amat ia cintai.

“Bagus. Kau hebat”

“Terimakasih.”

“Eonni,” panggil seseorang di belakang Chorong. Suho Chorong menoleh. Gadis cantik berlari menghampiri mereka.

“Chukkae eonni, kau bisa melakukannya kan?” gadis itu memeluk Chorong.

Chorong membalasnya. “Aku yakin kau pasti bisa!” ia melepaskan pelukan itu.

“Gomawo Haera-ya.”

Suho tersenyum melihat Haera. Ia terpesona. Ia bahkan tak berkedip memandang wajah cantik Haera.

“Suho-ssi perkenalkan ini Haera sepupu ku. Dia baru semester 4. Haera-ya ini Suho teman kelas eonni,”

“Suho kim”

“Haera. Park Haera” mereka bersalaman. “Kita pulang sekarang,”

“Suho. Aku harus pulang. Sampai bertemu besoknya lagi saat wisuda.”

“Ooh. Hati-hati di jalan,” Chorong dan Haera melangkah pergi meninggalkan Suho.

“Kenapa Chorong tak pernah mengatakan padaku jika dia mempunyai sepupu secantik itu.”

Hari ini adalah hari konser solo grupnya Woohyun. Chorong mempersiapkan dirinya di depan cermin besar dikamarnya. Jam menunjukan pukul 07.00.

“Konser nya pukul 3 sore nanti. Aku sudah dihubungi pihak perusahaan untuk interview. Semoga diterima. Baiklah aku harus cepat sampai perusahaan itu. Selesai untuk interview jam 8. Berarti aku harus sampai disana pukul 07.30. Baiklah kau bisa Park Chorong,” ia tersenyum menatap dirinya dicermin. Chorong turun untuk sarapan. Disana sudah ada ayahnya dan ibunya yang sudah menunggunya untuk sarapan. Chorong menyapa lalu duduk disamping ibunya.

“Nak, ibu Woohyun menelpon eomma. Mengingatkanmu, kau tidak melupakan konser Woohyun kan?”

“Arraseo eomma. Jam 3 sore kan. Aku pasti akan datang.”

“Pagi ini kau rapi sekali, Mau pergi kemana nak?”

“Aku mau interview. Lamaran pekerjaan yang aku kirimkan di respon. Jadi aku akan kesana. Doakan semoga aku diterima.”

“Tapi bukankah wisuda kelulusanmu besok nak?”

“Iya. Tapi lamaran ku diterima. Kalau begitu aku duluan. Eomma appa aku pergi,” Chorong meninggalkan meja makan. Ia mulai menaiki motor kesayangannya. Selama diperjalanan ia selalu menatap jam tangan yang bertengker di tangan kirinya.

Kring kring kring

Dering Ponsel Chorong bebrbunyi. Ia menepikan motornya. Dan menjawab panggilan dari ponselnya.

“Hallo,”

“Chorong, ini Suho. Suho Kim,”

“Oh. Wae?”

“Kau dimana. Temui aku sekarang. Tolong aku.”

“Kau kenapa? Tapi aku harus pergi…”

“Cepatlah tolong aku. Aku mohon”

“Arraseo. Kau dimana?”

“Di depan Bumjoo Mall. Cepat lah aku tunggu.”

Plip…

Chorong bingung. Ia sudah hampir terlambat untuk interview tapi sepertinya Suho sedang membutuhkan bantuannya. Ia meminta tolong. Ada yang tidak beres dengannya.

Aku harus kesana menemui Suho-Chorong

Chorong mengendarai motornya kembali menuju Bumjoo mall. Chorong berhenti tepat didepan Suho yang sedang duduk dipinggir jalan menunggu Chorong datang. Chorong membuka helmnya.

“Ada apa? Kau terluka? Kau tidak apa-apa kan?” Cemasnya.

“Tidak. Aku tidak apa apa,” Suho tersenyum.

“Tapi kau menghubungiku, aku pikir kau terluka,”

Suho menggeleng. “Tarrawa…”

Suho menarik tangan Chorong. Mereka memasuki Bumjoo mall. Chorong masih setia mengikuti Suho. Karena memang tangannya masih setia Suho genggam. Mereka memasuki bagian sepatu dan tas bermerek. Chorong makin bingung. Apa yang akan Suho lakukan? Apa Suho ingin membelikan Chorong sepatu atau tas. Tapi mana mungkin. Suho tidak mungkin membelikannya.

“Kau pilihlah sepatu dan tas yang paling cantik dan paling mahal,” segera Chorong tepis pikiran itu.

“Kau serius. Kau menyuruhku memilih tas dan sepatu yang mahal?” Chorong melongo tak percaya. Ternyata pikirannya benar.

Suho mengangguk.

Chorong mulai memilih. Ia bahkan tak segan mencoba beberapa sepatu dan tas. Chorong bahkan lupa Ponsel nya terus berdering.

“Lama sekali. Ini sudah satu jam kau memlilih tas dan sepatu. Cepatlah.”

“Aku sudah menemukannya. Ini Tas warna Pink muda dan Sepatu silver. Tapi ini mahal sekali.”

“Aku tidak perduli. Aku akan membayarnya. Kau tunggu disini,” Suho membawa tas dan sepatu menuju ke kasir yang disana. Selesai. Ia kembali pada Chorong.

“Kenapa ada tiga?” Tanya Chorong

“Ini tas untukmu,” Suho memberi satu bagpaper untuk Chprong. Chorong menerimanya dengan diam. Ia masih belum mengerti. Apa maksudnya ini?

“Bentuknya sama hanya saja punya mu berwarna putih. Lalu tas dan sepatu ini untuk Haera. Dia pasti menyukainya karena kau yang memilihnya.”

“Jadi kau menyuruhku datang hanya untuk memilih hadiah untuk Haera. Haera sepupuku?”

Suho mengngguk mantap

“Aku tidak bisa menerimanya,” Chorong mengembalikan Bagpaper itu dan berlari meninggalkan Suho. Suho mengambil bagpaper itu dan berlari mengejar Chorong. Chorong sudah menaiki motornya. Ia mulai memakai Helm nya. Tapi sebuah tangan menahan nya.

“Kau kenapa? Apa kau keberatan aku memintamu menolongku mencari hadiah untuk Haera-ssi. Aku juga kan membelikanmu. Kenapa kau malah pergi”

Chorong menunduk. Ia menangis. Ia sudah menahan airmatanya agar tidak terlihat oleh Suho. Tapi gagal.

“Kau menangis. Hei apa aku menyakitimu? Maafkan aku,”

“Jika kau dari awal katakan padaku meminta ku datang untuk mencarikan hadiah untuk Haera aku pasti tak akan semarah ini” Chorong mulai menatap Suho.

“Kau tahu aku datang karena aku kawatir padamu. Karena kau meminta tolong. Aku kawatir karena aku takut terjadi sesuatu padamu. Tapi nyatanya kau baik-baik saja. Tapi aku lega pikiran buruk ku tak terjadi. Dan kau berkata padaku untuk memilih tas serta sepatu yang aku suka. Aku sempat tidak percaya tapi aku berusaha menepis pikiran aneh itu. Tapi nyatanya kau hanya menyuruhku mencari hadiah untuk Haera.”

“Lalu masalahnya apa?” Suho terlihat kebingungan.

“Apa kau tanya aku sibuk tidak pagi ini? Apa kau tanya apa yang aku lakukan pagi ini? Apa kau tanya aku sedang dimana? Kau tahu pagi ini aku harus interview disatu-satunya perusahaan yang menanggapi lamaran yang aku kirimkan. Dan itu adalah perusahaan yang aku impikan selama ini untuk bekerja disana. Dan kau merusak semuanya. Aku sudah terlambat untuk interview. Dan mereka pasti sudah tidak menginginkan aku untuk bekerja diperusahaanya.”

“Kenapa kau tidak mengatakan nya sejak tadi?” Suho merasa bersalah.

“Karena kau tak pernah memberiku kesempatan untuk bicara,” Chorong mengusap air mata yang masih setia mengalir dikedua pipi putihnya.

“Ini salahku. Maafkan aku Chorong,”

“Tidak. Mungkin karena aku yang bodoh karena terlalu mencintai lelaki yang bahkan tak melihatku. Tidak pernah. Semoga Haera suka dengan Hadiahmu”

Blusss…

Suho menatap Chorong tidak percaya. Apa Chorong baru saja menyatakan perasaan nya? Bahkan bagpaper ditangan Suho terjatuh. Chorong meninggalkan Suho yang masih berdiri dengan perasaan yang tak menentu. Ini terlalu mengejutkan bagi Suho. Suho hanya menganggap Chorong sebagai teman nya. Tidak lebih dari itu. Tapi lihatlah karena tingkahnya ia bahkan menyakiti perasaan temannya dan menggagalkan mimpi temannya itu.

Kau keterlaluan Suho.

Chorong berhenti di pinggiran Sungai Han. Ia duduk menatap sungai yang airnya tenang didepannya. Ia masih menangis. Cinta dan impiannya sudah hilang dari hidupnya sekarang.

“Bodoh. Kau memang sangat bodoh Chorong. Harusnya kau sadar. Suho tak pernah melihatmu sebagai wanita. Dia menganggapmu hanya teman. Tidak lebih. Hanya Teman.”

Sampai kapan pun seorang teman hanya akan berada di belakang. Karena disampingnya sudah ada kekasih yang dicintainya. Jangan berharap lebih jika kau tak ingin tersakiti.

.END.

 

Iklan

One Reply to “[CubeEntFF’s Freelance] So Long”

  1. hi there!

    aw sakit <//3
    saat merasa diperhatikan ternyata malah yg diperhatikan memperhatikan orang lain… heuuu…

    anyway, ada beberapa salah ketik. but it's okay. hanya saja emang perlu diminimalisir. tapi udah dikit kok hehhe.

    sayang ya sad ending ga ada kejelasan hubungan lol. huhuhu

    see ya~

    Disukai oleh 1 orang

Give us your cubes!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s