[CubeEntFF’s Freelance] One Incoming Call

13438866_476186305910818_3378816281810518607_n.jpg

Title : One Incoming Call

Casts : Park Chorong (Apink), Xi Luhan (ex-EXO), and others

Length : Oneshot

Genre : Romance, Friendship, Sad, etc.

Rating : PG14

Author : Park HyeNaa

 
Disclaimer : FF ini murni nyembul dan ngawang dari otak pas-pasan saya. Jika saya bilang cast punya saya pasti kalian tak percaya -__-, jadi saya katakan Cast bukan milik saya karna cast sudah mempunyai hak cipta dari Tuhan YME dan memiliki hak milik dari Orang tua dan agesi. Typo dan OOC berlarian dimana-mana di ni FF. Dan Cerita ini hanya fikti belaka, jika ada kesamaan tempat,nama, dan kejadian itu merupakan kebetulan belaka (sering nonton sinetron jadinya hafal). Cusszz daripada nyerocos terus lebih baik kita mulai FF ini, Start…

~*~*~*~*~

“kau pilih Truth or Dare?” Tanya seorang gadis seraya menunjuk gadis lainnya yang sedang menatap sebuah pulpen dengan shock, bukan karna pulpen itu sangat aneh… melainkann karna pulpen itu ia harus memilih pilihan laknat itu lagi.
“Oh, ayolah Namjoo-ah, kau tau kan ini sudah ke lima kalinya aku tertunjuk oleh pulpen ini… jadi, berilah aku keringanan…” Ucap gadis itu dengan nada memelas ke Namjoo –gadis yang menunjuknya tadi-. Namun sepertinya nada ucapan gadis itu tak dihiraukan oleh gadis Berambut pendek itu.
“Tidak bisa,ini sudah peraturan eonni… jadi kau harus menaatinya”
“benar Chorong eonni, kau itu sudah ditakdirkan untuk selalu tertunjuk dan dikerjai oleh kita…” Tambah Bomi, dan mendengar hal itu Chorong hanya bisa menghela nafasnya.
“Baiklah Truth…” Ucap Chorong dan hal itu membuat teman-temannya menyeringai.
“Siapa pria yang kau suka?!”
“Eh?! Tidak jadi, aku pilih Dare saja…” Ucap Chorong spontan, teman-temannya yang lain pun menghela nafas kecewa.
“Tak bisa eonni, kau sudah memilih Truth jadi kau harus menjawab pertanyaan kami…” Ucap Eunji dengan sedikit nada pemaksaan, sementara Chorong menatap Eunji ragu. Didalam hatinya sedikit tak enak jika ia mengatakan pria yang ia sukai didepan gadis Busan ini.
“Oh ayolah… itu aib… anggap saja ini keringanan untukku nee…?” Tawar Chorong yang membuat teman-temannya tampak berpikir dan akhirnya menganggukkan kepalanya yang membuat Chorong dapat bernafas lega. Namun baru sepertinya baru sebentar ia bernafas lega, gadis itu harus menelan ludah kembali saat ia melihat teman-temannya menyeringai.

~*~*~*~*~

“Apa aku harus melakukan hal ini?” Ucap Chorong sedikit frustasi sambil memegang handphonenya, sementara ke 5 temannya pun mengangguk tanda Chorong harus melakukan hal itu.
“Tak bisakah kalian memberikan tantangan yang lain?” Tawar Chorong lagi namun langsung mendapaat gelengan oleh teman-temannya.
“Oh, cepatlah eonni” Ucap Eunji yang sudah mulai tak sabar, Chorong pun mengangguk dan menekan nomor yang ada dikertas yang sedari tadi ia pegang, cukup lama terdengar bunyi ‘tut’ tanda telponya masih belum dijawab dan itu membuat Chorong sedikit bersorak. Namun tak lama telpon itu diangkat sang pemilik telpon di seberang yang membuat Chorong kehilangan rasa leganya.
“….”
“Ini siapa?”
“Oh, ini aku bisakah kita bertemu di halaman belakang sekolah?”
“Aku tak akan mengenalmu jika kau hanya mengatakan ‘ini aku’”
“Aku Park Chorong!”
“Oh, si gadis aneh, Kenapa kau tiba-tiba ingin bertemu denganku, ingin mengajakku pulang bersama?”
“Diamlah, pokoknya aku tunggu sesudah pulang sekolah, jika kau tak datang aku akan mematahkan lehermu!! dasar Rusa Tengik”
Tut Tut
Chorong pun memutuskan panggilan itu secara sepihak dan menghela nafasnya, ia pun menatap Bomi yang sedang terenyum jahil padanya dengan tatapan ‘awas kau Bomi-ah…’

Flashback

“Oh ayolah… itu aib… anggap saja ini keringanan untukku nee…?” Tawar Chorong yang membuat teman-temannya tampak berpikir dan akhirnya menganggukkan kepalanya yang membuat Chorong dapat bernafas lega. Namun baru sepertinya baru sebentar ia bernafas lega, gadis itu harus menelan ludah kembali saat ia melihat teman-temannya menyeringai.
“Baiklah… eonni, kau ingat Luhan anak basket itu kan?” Tanya Hayoung, dan langsung dianggukan oleh Chorong.
“Oke, tantangan untukmu adalah….”
“Menelponnya dan mengajaknya bertemu” Ucap Bomi yang langsung membuat Chorong menjatuhkan rahangnya dan menatap tak percaya gadis didepannya.
“Oiya, kau juga harus mengatakan kalau kau menyukainya” Lanjut gadis berambut pirang tersebut, Chorong pun tambah menjatuhkan rahangnya.
“Yaak! Apa-apa’an itu? Kau tak tahu apa aku dengan dia bagaimana?” Ucap Chorong berteriak sementara Bomi hanya mengangguk namun tak melepaskan senyum jahilnya.
“Aku tahu, maka dari itu aku memilih untuk menantangmu begitu” Ucap Bomi lagi dan Chorong hanya bisa mengacak rambutnya frustasi.

Flashback end

~*~*~*~*~*~

Chorong menunggu Luhan di bawah batang pohon dengan kesal, jika saja ia tak berjanji pada teman-temannya ia pasti memilih pergi meninggalkan pohon itu dan memilih pulang daripada menunggu Xi Luhan musuh bebunyutannya.
Ya, Chorong sangat membenci Luhan. Semua murid sudah mengetahui kebenciannya terhadap Xi Luhan, pria tampan pindahan dari Beijing China itu. Sejak insiden beberapa waktu lalu, saat Luhan dengan sukses membuat Chorong malu dan di tertawakan satu sekolah olehnya hanya karena omongan pedas Luhan mengomentari cara makan Chorong yang menurutnya seperti anjing kelaparan. Dan mulai sejak itu, kedua kubu ini saling menyerang dan tidak pernah akur satu sama lain. Tidak ada yg berani mendekat saat mereka sudah beradu mulut. Menjauhlah atau kau ingin melihat dua macan mengamuk di saat yg sama.
“Kemana sih rusa tengik itu?” Gumam Chorong kesal, ia pun melihat jam di pergelangan tangan dan terkejutnya ia karna Chorong sudah menunggu selama 2 jam namun Luhan belum menampakkan batang hidungnya. Chorong pun memilih untuk menelpon Luhan.
“Halo” terdengar suara diseberang sana dan Chorong yakin itu adalah suara Luhan, orang yang ditunggunya selama dua jam karna sebuah permainan bodoh.
“Yaak!! Kau dimana?! Kenapa kau belum datang?! Aku sudah menunggumu selama dua jam!!” Teriak Chorong menghujani Luhan dengan pertanyaan langsung setelah ia mendengar suara Luhan.
“Hei, gadis aneh! Bisakah kau tak berteriak seperti itu aku tak tuli. Aku latihan basket memang kenapa?”
“kau masih bermain bola pantul itu? Kapan kau datang?”
“Memang kapan aku bilang kalau aku mau bertemu denganmu? Kau tadi bilang kau sudah menungguku selama dua jam? Hahaha… nikmati saja ne…”
Tut Tut
Chorong menjauhkan handphonenya dari telingannya dengan tak percaya, kemudian ia menatap handphonennya dan..
“Mw.mwo? apa katanya?! Awas kau rusa tengik aku akan mencekikmu!!! Lihat saja besok!!” Teriak Chorong kesal lalu memasukkan handphonenya dan pergi dari tempat itu, oiya… jangan lupa dengan sumpah serapah yang selalu gadis itu ucapkan selama perjalanan.

~*~*~*~*~*~*

Chorong melangkahkan kakinya cepat melalui lorong-lorong dengan raut wajah kesal dan kusut seperti belum disetrika. Sapaan selamat pagi dari teman-temannya ia acuhkan dan hanya dianggap angin lalu baginya. Yang ia pikirkan hanya satu, ialah mencekik orang yang sudah membuatnya menunggu selama dua jam dan itu hanya sia-sia.
“Haa!! Ketemu!!” Gumam Chorong dengan seringaian setelah melihat objek yang ia cari. Luhan sedang berjalan kearah teman-temannya sambil memasukkan tangannya ke sakunya tanpa menyadari Chorong yang sedang memperhatikannya dengan tatapan mengitimidasinya.
Sementara Chorong sudah mulai menyeringai dan berjalan mendekati Luhan, ia juga sdah memegang sebuah penghapus besar yang ia dapatkan dengan mengangambilnya dari salah satu murid yang membawanya. Chorong mulai dekat dengan Luhan yang sedang bergurau dan…
DUAAKKK
Chorong melempar penghapus itu tepat mengenai kepala Luhan, sementara Luhan meringis kesakitan dan mencari sumber datangnya penghapus itu. Dan ia pun melihat Chorong yang sudah tertawa puas, itu pun membuat Luhan berjalan kearah Chorong sambil membawa penghapus itu.
“Apa maksudnya ini?” Tanya Luhan dengan nada kesal sambil mengangkat sebelah tangannya yang memegang penghapus yang Chorong lemparkan kepadanya.
“Itu hanya sebuah pelajaran untukmu tuan Rusa tengik” Ucap Chorong dengan nada sinis.
“Oh… apa kesalahan yang aku lakukan sehingga ada gadis aneh yang melempar sebuah penghapus kearahku?!”
“Kau masih tak menyadari kesalahanmu hah?!! Dasar, tak hanya tengik kau juga bodoh ya??”
Dan pertikaian itu muncul kembali, para siswa lain hanya bisa terdiam menonton mereka berdebat, tak ada yang berani untuk melerai mereka. Chorong dan Luhan masih terus mengucapkan kalimat mengejek, hingga seseorang berencana melerai mereka.
“Ehemm~”
“Diamlah!!!” Ucap Luhan dan Chorong bersamaan tanpa menoleh sekalipun kearah sumber suara itu.
“Seharusnya kalian yang harus diam Chorong dan Luhan” Ucap orang itu lantang, Chorong dan Luhan pun serentak menoleh untuk mengetahui siapakah orang itu, dan terkejutnya mereka saat mengetahui orang itu adalah Hong songsaengnim, guru terkiller dan terkejam seatereo sekolah. Dan sekarang bisa dilihat wajah takut dari Chorong dan Luhan, mereka yakin mereka akan dapat masalah yang sangat besar hari ini.
“Kalian berdua bereskan gudang belakang sekolah sekarang juga!!”

~*~*~*~*~*~*~*~

Chorong menyandarkan punggungnya ketembok sambil melipat kedua lengannya didepan dada, ia juga menatap malas Luhan yang sedang membuka gembok gudang. Cukup lama hingga akhirnya pintu itu pun berhasil dibuka, suara pintu tersebut sangat terdengar jelas mengingat usia gudang belakang tersebut, Chorong dan Luhan hanya bisa melongo dan menghela nafas frustasi saat melihat kondisi gudang tersebut.
Sangat berantakan dengan jaring laba-laba dimana-mana.
“Mwo?! Aku harus membersihkan semua ini? Dasar pria tua kejam…” Dengus Chorong setelah melihat ‘pemandangan’ didepannya. Sementara pria disebelahnya hanya menggelengkan kepalanya dan menatap Chorong sinis dan juga dibalas tatapan sinis dari gadis itu.
“Dan aku harus melakukannya dengan dia” Ucap Chorong dan Luhan bersamaan yang kemudian mereka memalingkan wajahnya masing-masing. Luhan pun mulai membereskan barang dimeja sampingnya, memilah dimana sampah yang harus dibuang dan mana yang masih bisa disimpan, tak lama ia melirik Chorong yang masih terdiam melihat gudang tersebut.
“Hey, cepat kau bersihkan! Aku tak ingin berlama-lama disini..” Ucap Luhan seraya melemparkan kaleng kekepala Chorong yang membuat si empunya memegang kepalanya dan mendengus kesal, Luhan tak peduli dengan itu yang ia memperdulikan ialah secepatnya menyelesaikan semua ini dan pergi.
“Aish.. Dasar Rusa Tengik” Ucap Chorong masih memegang kepalanya, ia pun mulai membereskan barang-barang dalam gudang itu. Tak ada sepatah kata pun dari mereka karna memang tak ada yang tertarik untuk memulai berbicara, setelah satu jam mereka membereskan gudang tanpa ada kata akhirnya gudang itu bersih dan rapi tanpa ada sarang laba-laba. Luhan pun hendak pergi namun sebuah tangan mungil yang dipastikan milik Chorong menahannya, Luhan pun melihat Chorong dengan alis yang diangkat sebelah.
“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu” Ucap Chorong, Luhan pun mengangguk dan membalikkan badannya siap mendengarkan apa yang gadis ini ingin katakan padanya, sementara Chorong pun menghela nafasnya malas.
“Luhan, aku ingin bertemu denganmu kemarin karna aku menyukaimu, maukah kau menjadi kekasihku?” Ucapan Chorong berhasil membuat Luhan membelalakkan matanya, entah apa yang dipikirkan gadis didepannya tiba-tiba menyatakan sebuah pengakuan, padahal mereka baru saja bertengkar. Namun tidak dengan Chorong ia hanya menyeringai kecil seraya menggumamkan kata ‘done’ yang membuat Luhan tambah mengerutkan dahinya.
“Anggap saja aku tak mengatakan apa-apa barusan” Chorong pun berjalan santai kearah pojok ruangan dan mengambil benda persegi yang merupakan sebuah posel, gadis itu memang sengaja meletakkan benda itu disana dan merekam pengakuan yang ia katakan pada Luhan.
“Apa maksudmu eoh??” Sementara itu, Luhan masih hanya melongo dan menatap Chorong dengan kerutan didahinya. Melihat itu Chorong pun menyeringai.
“Baiklah tuan Xi, sepertinya kau sudah salah paham dengan yang kukatakan tadi, tapi aku sama sekali tak tertarik padamu. Oiya lupakan semua yang kukatakan karna itu semua hanya sebuah tantangan yang diberikan oleh temanku, jadi itu tak ada artinya..” Ucap gadis itu seraya memasukkan ponselnya kedalam saku jasnya dan pergi meninggalkan Luhan. Namun baru dua langkah Chorong pergi, sebuah tangan besar menahannya. Chorong pun membalikkan badanya dan menatap malas Luhan.
“Apa la..”
Bukkk
Belum selesai Chorong berkata, Luhan sudah menarik tangan Chorong dan menyudutkan ke dinding gudang, tangan pria itu memegang kedua bahu Chorong mengunci pergerakan gadis itu. Sementara Chorong hanya meringis karna punggungnya membentur dinding gudang dengan cukup keras, Chorong pun menatap Luhan kesal.
“Apa yang kau lakukan hah?” Chorong mencoba melepaskan kedua tangan Luhan dibahunya namun hal itu membuat pria itu mengeratkan pegangannya. Luhan pun menatap Chorong seraya menyeringai.
“Bagaimana kau menyuruhku untuk melupakan yang terjadi tadi? Mengingat jika musuhku sudah takluk padaku dan menyatakan perasaannya” Luhan tak menghilang seringaiannya, Chorong hanya mengangkat sebelah alisnya mendengar ucapan pria Beijing didepannya.
“Baiklah, tuan Xi yang terhormat.. bukankah sudah kubilang jika semuanya hanya kebohongan, jadi lupakan semua fantasi gilamu itu..” Ucap Chorong sinis seraya mendorong tubuh Luhan, namun sia-sia Luhan malah menahan tangannya dengan seringaian yang masih terhias diwajah pria itu.
“Begitu…” Jawab Luhan singkat, namun dirinya masih tetap menahan tubuh mungil Chorong dan masih menatap Chorong yang membuat gadis itu menghela nafasnya malas. Sikap Luhan hari ini sangat membuatnya kesal, oh.. apakah pria itu tak tau jika gadis ini sedang tak mood untuk bercanda. Namun tanpa disadari oleh Chorong, Luhan tiba-tiba memajukan wajahnya hingga jarak antara keduanya hanya tinggal beberapa senti saja.
“A..apa yang kau lakukan eoh?” Ucap Chorong sedikit shock dengan apa yang dilakukan pria didepannya ini, Luhan pun semakin menyeringai setelah melihat perubahan raut wajah Chorong.
“Karna kau sudah menyatakan perasaanmu, berarti sekarang kau adalah milikku” Ucapan Luhan langsung membuat Chorong mengerjabkan matanya, otaknya masih berpikir mencerna ucapan Luhan barusan. Sementara Chorong masih shock dengan ucapannya Luhan mendekatkan lagi wajahnya dan berbisik ditelinga Chorong.
“Bagaimana kalau aku menciummu sekarang?”
Chorong bungkam. Jantungnya tiba-tiba saja berdetak dua kali lebih cepat. Ia masih sulit mencerna dan menerjemahkan kondisi macam apa yang sedang ia alami saat ini.
“Ekspresimu kenapa begitu?” ledek Luhan tiba-tiba, saat tidak mendapati respon apa pun dari Chorong. Sedetik, dua detik, hingga tiga detik, Chorong sadar. Gadis itu lantas mendorong Luhan, dan Luhan hampir terjungkal. Bersyukurlah atas keseimbangannya.
“Lelaki bodoh!” umpat Chorong dengan kesal. Ia lantas membalikkan badannya, dan berupaya menjauhi Luhan dengan melangkah pergi.

~*~*~*~*~

Chorong berjalan di lorong sekolah, ia berjalan kesal sambil memikirkan betapa bodohnya sikapnya tadi saat Luhan mempermainkannya tadi. Chorong mempercepat langkahnya dan mengacak rambutnya frustasi mengingat wajah Luhan tadi, pasti besok dia akan ditertawakan oleh pria itu.
Namun, seketika semua rasa kesalnya menghilang saat ia melihat seseorang yang sangat ia kenal sedang terduduk di sebuah kursi dilorong kelas dengan buku yang ia baca mulai tadi. Dan pada saat itu juga sebuah senyuman muncul di bibir Chorong.
“Suho oppa” gumam Chorong masih dengan senyuman dibibirya, orang yang Chorong lihat saat ini adalah Kim Jumnyeon atau yang sering dipanggil Suho. Dia adalah senior Chorong dan merupakan ketua OSIS disekolahnya, dan dia juga pria yang disukai oleh Chorong.
“Op..”
“Suho Oppa!!” Chorong hendak memanggil Suho dan menghampiri pria itu. Namun, baru beberapa langkah gadis itu melangkah, seseorang sudah terlebih dahulu menghampiri Suho dan duduk disampingnya yang membuat Chorong kehilangan senyumannya.
“Eoh?? Ada apa Eunji?” Suho menoleh dan tersenyum pada gadis disebelahnya, tangannya terangkat untuk mengelus rambut Eunji, gadis yang merupakan kekasihnya. Sementara Chorong hanya melihat pasangan kekasih itu dari jauh. Dia selalu kalah cepat dari Eunji bahkan dalam hal cinta, Eunji berhasil mendapatkan Suho lebih dulu darinya. Ini memang salahnya tak memberitahu teman-temannya tentang perasaannya terhadap Suho yang membuat Eunji menyukai Suho dan sekarang berpacaran dengannya. Dan karna ini juga ia harus mengganti hukuman TOD yang harus ia terima dan harus mengatakan cinta terhadap Luhan.
Suho dan Eunji makin terlihat mesra, hal itu membuat Chorong mengepalkan tangannya dan hanya bisa menatap nanar pemandangan didepannya. Suho dan Eunji terlihat sangat akrab, sangat dekat, dan sangat serasi seperti tak ada celah Chorong masuk kedalam mereka, tidak.. Chorong juga tak mau menyakiti Eunji karna keegoisannya, tapi kenapa hatinya masih sakit ya?
Chorong mengepalkan tangannya entah kenapa untuk kali ini saja ia tak bisa menghindari lagi. Ia ingin sekali menangis, terbukti dengan genangan air mata yang sudah siap untuk keluar, Chorong menggigit bibir bawahnya berharap isakan yang sedari tadi ia tahan tak keluar. Matanya terus menatap nanar pasangan didepannya, terus menatap hingga
Semua menjadi gelap
Chorong terkaget saat semuanya menjadi gelap dan ia merasa ada sebuah tangan besar yang menutup matanya. Dengan perasaan was-was Chorong pun memegang tangan itu dengan kedua tangannya dan mencoba melepaskannya dari matanya. Namun pemilik tangan itu menahan tangan Chorong mencegah gadis itu melepaskan tangan miliknya.
“Kau siapa eoh?!!” Chorong pun bersuara menanyakan nama si pemilik tangan besar itu, dilihat dari bentuk tangan itu bisa dipastikan jika pemiliknya adalah seorang pria. Pemilik tangan itu tak menjawab membuat Chorong makin was-was dengan situasi ini.
“Siapa-”
“Diamlah..” Ucap orang yang menutup mata Chorong memotong pertanyaan gadis itu dengan masih menutup matanya. Chorong merasa tak asing dengan suara orang yang ia yakin seorang pria ini.
“Kau Luhan?” Tanya Chorong masih memegang tangan pria ini. Luhan pun mengangguk dan menjawabnya hanya dengan satu dehaman.
“Ne, ini aku Luhan.. mengapa kau menatap sepasang kekasih dengan tatapan marah seperti itu? Jika saja mereka menyadarimu pasti mereka sangat tak nyaman. Mereka pasti merasa kau menyukai salah satu dari mereka” Ucap Luhan santai, Chorong terbelalak. Apa pria ini melihatnya sedari tadi? Chorong diam sesaat, yang dikatakan Luhan benar. Jika saja Eunji menyadari kalau ia menatap dirinya dengan Suho dengan tatapan seperti tadi, Eunji pasti mengira dirinya menyukai pacarnya itu. Tapi masalahnya, hal itu benar.. Chorong menyukai Suho, lebih dulu daripada Eunji.
“Jika kau ingin menangis, menangislah, jangan diitahan” Ucap Luhan lagi, Chorong pun tak bisa menahan air matanya lagi. Semua kenangan antara dia dan Suho entah kenapa langsung terputar di otaknya bagai sebuah film. Chorong menggenggam tangan Luhan erat dan mulai mengeluarkan cairan dimatanya yang sedari tadi ia tahan.
“Yeoja Babo” Gumam Luhan pelan saat mendengar Chorong sudah mulai mengeluarkan isakannya, pria itu hanya diam dan masih melihat Chorong yang menangis sambil masih menggenggam tangannya yang juga masih menutup kedua mata gadis itu. Saat beberapa menit kemudian tangisan Chorong mulai reda dan isakannya sudah mulai tak terdengar.
“Sudah menangisnya?” Tanya Luhan saat Chorong sudah melepaskan genggamannya di tangannya dan ia juga sudah menjauhkan tangannya dari mata gadis itu. Chorong tak menjawab hanya menganggukkan kepalanya. Luhan pun hanya menganggukkan kepalanya membalas jawaban Chorong, ia pun mulai melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Chorong.
“Yakk! Xi Luhan!” Namun karena merasa terpanggil Luhan pun membalikkan badanya dan menatap Chorong yang juga menatapnya bingung.
“Kenapa kau berubah menjadi lembut seperti itu?”
“Anggap saja aku tak ingin gadis milikku menjadi jelek karna menatap pacar orang lain seperti itu” Ucap Luhan santai seraya mengedipkan matanya lalu kembali berjalan meninggalkan Chorong yang hanya melongo mendengar ucapan pria itu.

~*~*~*~*~*~

*Chorong POV*

Tumpukan buku ini serasa menyiksaku. Debu yang menempel dan berterbangan seiring angin berhembus membuatku ingin bersin. Ditambah aku harus membawanya dari lantai bawah ke lantai tiga. Mengingat bangunan sekolah ini sangatlah luas sepertinya memakan waktu sepuluh menit agar sampai disana.
Aku berjalan menyusuri lorong. Sepi. Tentu saja,sekarang jam pelajaran masih berlangsung. Bahkan aku dapat mendengar tiap seongsaenim menerangkan materi saat melewati beberapa kelas.
Langkahku terhenti. Tanganku mencengkram tumpukan buku ini dengan kuat. Pandanganku tertuju pada seorang namja yang kini berada di tak jauh dariku. Ia berdiri sembari memegang kedua daun telinganya dengan posisi tangan yang menyilang – sedang kaki kanannya terangkat. Nampaknya ia tidak begitu memikirkan keadaannya sekarang. Dengan santainya ia bersiul kecil sembari memejamkan kedua matanya.
Aku berjalan mendekat ke arahnya. Sepertinya ia tidak sadar jika aku sudah berada di sampingnya saat ini.
“Kau dihukum?” Pertanyaanku sukses membuatnya sedikit terkejut. Refleks,ia melihatku. Gelagatnya terlihat sedikit kikuk.
“Ah,ne. Aku lupa membawa buku tugasku. Kau sendiri kenapa berada disini?”
“Ini” Suho pun memandang tumpukan buku yang kubawa sambil terkekeh.
“Mengantarkan buku ini ke kelas?” Aku mengangguk. Sejenak kami terdiam. Kurasakan beban yang kubawa sedikit berkurang. Astaga,sejak kapan setengah dari buku ini berpindah ke tangan Suho?
“Biarkan aku ikut”
“Tapi kau kan…”
“Masa bodoh dengan hukuman. Kajja,kita ke atas” Senyuman lebar terlukis di bibirnya. Wajahnya terlihat lebih sempurna. Salah satu hal yang kusukai darinya,sorot matanya dapat membuatku terbius dengan mudahnya.
“Chorong! Kenapa kau diam saja?” Lamunanku buyar. Sedari tadi aku masih mematung di tempat ini? Kulihat Suho yang kini sudah berada jauh di depanku. Hampir menaiki anak tangga di depannya.

 

“A…aku…aku kesana”
Kupercepat langkah kakiku agar dapat menyusulnya. Dan tak terasa kini aku sudah berada di samping Suho. Sepertinya jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Yak,ini membuatku semakin gugup.
“Kau tak apa?”
“Ne,aku baik-baik saja”
Kami berjalan melewati tiap ruangan. Tak ada sepatah kata yang terucap antara aku dan Suho. Ia sibuk memandangi keadaan sekitar dari lantai atas sementara aku hanya berjalan menunduk. Memandangi tiap petak ubin putih sambil sesekali melirik ke arah Suho. Ada rasa nyaman ketika aku berada disisinya. Seakan aku tidak ingin lepas darinya.
“Sampai. Kau kembalikan buku ini,ne? Aku menunggu di luar”
Setengah dari buku yang Suho bawa kini kembali ke tanganku. Uh,ia mulai menampilkan senyum andalannya lagi.
“Gomawo“
“Cheonma”
Segera aku memasuki ruangan di hadapanku kini. Kelas. Kelasku memang sedang free class karna saem yang mengajar hari ini berhalangana hadir dan sebagai gantinya para murid disini diberi tugas. Kuletakkan buku-buku ini di meja guru dan berjalan ke bangku lagi.
Kulihat Suho masih berdiri di ambang pintu melihat sekeliling kelasku. Baru saja tanganku ingin melambai ke arahnya,seorang yeoja mendekat ke arah jendela. Manik mata mereka saling bertemu. Senyuman mengembang di bibir mereka. Gadis itu Jung Eunji. Kau tidak berniat membantuku Kim Suho. Yang kau inginkan sebenarnya adalah menemui Eunji. Kulihat mereka bercanda gurau seperti biasa, itu adalah pemandangan yang biasa, Suho mengelus kepala Eunji itu sudah biasa, sudah terlalu sering aku melihat hal itu dan terlalu sering juga hatiku sakit melihat itu.
Tanpa pikir panjang lagi segera aku beranjak dari bangkuku dan berlari keluar kelas melewati Suho dan Eunji yang menatapku bingung. Air mataku juga sudah tak bisa dibendung tempat yang ada di pikiranku sekarang adalah atap sekolah, tempat yang biasa aku datangi jika sedih. Aku menutup mulutku dengan tangan agar isakanku tak terdengar oleh murid-murid lain. Aku terus berlari saat aku menaiki anak tangga, dan karna tak berhati-hati aku tergelincir saat akan menaiki salah satu anak tangga. Aku mencoba untuk menyeimbangkan badanku kembali namun tak bisa, malah karna hal ini tubuhku terhuyung kebelakang dan dipastikan akan jatuh. Aku pun menutup mataku, jatuh di tangga dengan jarak yang cukup tinggi membuatku takut.
Brukkkk

*Author POV*

Chorong membuka matanya perlahan ia tak tau kenapa tubuhnya tak merasa sakit dan kakinya sudah kembali mengijak salah satu anak tangga. Awalnya ia mengira kalau ia bisa mengendalikan keseimbangannya, tapi karna merasa punggunya tengah bersandar pada sesuatu dan ada sesuatu yang memegang pundaknya, Chorong pun kembali bingung.
“Kau tak apa?” Setelah mendengar suara yang familiar itu pun membuat Chorong langsung membelalak matanya dan menolehkan kepalanya. Dan terlihatlah Luhan yang terengah-engah seperti habis berlari, tangannya sedang memegang pundak Chorong. Sepertinya Chorong tak jadi terjatuh bukan karna ia bisa mengendalikan keseimbangannya lagi, namun Luhan yang menahannya.
Chorong masih tak berkata apa-apa, ia masih terdiam menatap wajah Luhan yang entah kenapa hari ini err- cukup tampan. Begitu pun Luhan ia juga tak merasa terganggu ditatap oleh Chorong, ia bahkan juga menatap wajah Chorong. Mereka masih tak bergeming, hingga Chorong sadar akan posisi mereka yang cukup canggung.
“Ahh, ne.. aku tak apa” Ucapan Chorong pun membuat Luhan tersadar dan melepaskan tangannya dibahu Chorong juga membantu gadis itu untuk berdiri sendiri.
“Gomawo” Ucap Chorong yang masih menuduk, Luhan pun mengangguk dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal entah kenapa ia sedikit gugup melihat wajah Chorong, tapi ia mengingat sesuatu saat tadi ia melihat wajah gadis itu. Tanpa pikir panjang lagi Luhan memegang kedua pipi Chorong agar ia dapat melihat wajahnya dengan jelas.
“Kau menangis?”

~*~*~*~*~*~*~*~

“Igeo” Ucap Luhan yang memberikan minuman kaleng yang ia beli tadi kepada Chorong yang duduk di anak tangga, Chorong pun tersenyum kecil dan mengambil minuman itu. Luhan pun duduk disebelah Chorong dan membuka minumannya sambil terus melihat gadis itu.
“Jadi benar kau menangis?” Pertanyaan Luhan sontak membuat Chorong yang hendak membuka minumannya mengurungkan niatnya dan menatap kosong jalan didepannya, gadis itu pun mengangguk samar namun dapat dilihat oleh Luhan. Luhan hanya terus melihat Chorong hingga akhirnya ia tertawa dan itu membuat Chorong menatap kesal pria disampingnya.
“Yakk!! Mwoya?!” Teriak Chorong kesal, namun Luhan sama sekali tak peduli dengan Chorong dan masih tertawa. Chorong yang semakin kesal dengan pria itu pun langsung mengangkat tangannya bersiap-siap untuk memukul Luhan, namun sepertinya Luhan sadar akan bahaya yang mengancamnya pun menghentikan tawanya.
“Arra..Arra.. aku hanya merasa lucu karna baru kali ini aku melihat seorang Park Chorong yang menyebalkan menangis seperti ini” Ucap Luhan yang masih berusaha untuk menghetikan tawanya, sementara Chorong masih memasang wajah kesal dan sudah siap melayangkan tinjunya.
“Tapi aku lebih suka Chorong yang menyebalkan” Ucapan tiba-tiba dari Luhan membuat Chorong mengerjabkan matanya dan menatap Luhan dengan tatapan bingung dengan maksud ucapan pria disampingnya. Sementara yang ditatap hanya menoleh dan ikut menatap Chorong.
“Jadi jangan terlalu lama bersedih karna pria itu eoh, kau tau, pria bukan hanya Kim Suho” Chorong masih terhenyak mendengar ucapan Luhan, ia masih mencerna maksud dari kata-katanya.
“Bahkan aku lebih tampan dari dia” Ucap Luhan seraya memperbaiki kerahnya dan berpose. Melihat tingkah Luhan membuat Chorong langsung tertawa terbahak.
“Aigoo… Kau sangat narsis tuan Xi” Ucap Chorong sambil menepuk pundak pria itu, Luhan yang awalnya meringis kesakitan karna Chorong memukulnya dengan cukup keras akhirnya ikut tersenyum saat melihat Chorong tertawa. Merasa dilihat Chorong pun menghentikan tawanya dan menatap Luhan dengan tatapan ‘ada apa eoh?’
“Itu lebih baik eoh, kau sebaiknya tertawa bukan menangis” Mengerti tatapan Chorong Luhan tersenyum tipis dan mengacak rambut gadis disampingnya pelan. Ia terkekeh saat matanya menangkap ekspresi kesal dari gadis itu. Sementara Chorong masih dengan wajah kesalnya merapikan kembali rambutnya yang dirusak oleh pria disampingnya.
“Kau memang menyebalkan Luhan-ssi dan hal itu yang membuat aku membencimu dan kita terkenal sebagai couple yg paling disegani di sekolah karena ketidak akuran kita. Apa kau senang ?” Ucap Chorong dengan penakanan di akhir kalimat yang seharusnya membuat Luhan merasa tersinggung, namun entah karna memang tak merasa menyebalkan atau memang ia yang tak peka. Pria itu malah terkekeh pelan yang membuat Chorong mendengus pelan.
“Dasar aneh”
“Wooo.. wooo.. hei, itu bukan hanya kesalahanku itu juga karnamu eoh, kau yang selalu menganggapku akan mengganggumu jika kita berpapasan. Padahal aku tak melalukan kesalahan, kau juga menyebalkan eoh” Bela Luhan membuat Chorong berpikir sejenak ucapan pria disebelahnya memang sedikit benar, Chorong kadang selalu negative thinking saat ia bertemu dengan Luhan, ia selalu berpikir Luhan akan selalu mengganggunya. Padahal itu hanyalah pikirannya saja.
“Dan juga jika ketidakakuran kita karna aku mengejekmu dulu, aku minta maaf karna membuatmu merasa malu, aku tak mau ada pertengkaran saat kita bertemu lagi. Tolong maafkan aku” Kata-kata Luhan membuat Chorong hanya terpaku menatap pria yg sekarang sering tersenyum padanya itu. Butuh waktu lama Chorong mencerna satu persatu kalimat yg Luhan ucapkan padanya. Apakah itu tulus atau hanya sekedar memperbaiki hubungan mereka saja.
“Dan aku melakukan hal itu karna sebenarnya aku ingin sedikit tertarik untuk mengenalmu” Tambahnya lagi. Chorong kembali diam.
“Baiklah aku akan pergi jangan bersedih lagi eoh” Tak lama Luhan berdiri dan tersenyum kepada Chorong lalu melangkahkan kakinya meninggalkan gadis itu. Tapi baru beberapa langkah Luhan pergi Chorong memanggilnya yang membuatnya berhenti dan berbalik.
“Hey! Kurasa menjadi menjadi musuh sedikit membosankan. Bagaimana jika kita menjadi teman saja?” Ucap Chorong dengan senyuman tipis diwajahnya, awalnya Luhan bingung dengan Chorong namun tak ia tersenyum.
“Sekarang panggil aku dengan nama Luhan-ah”

~*~*~*~*~*~*

Sudah beberapa hari sekolah Chorong tidak dihiasi keributan dari dua insan yg saling membenci lagi, Chorong dan Luhan. Mereka sudah bukan couple yang dikenal saling membenci dan akan bertengkar setiap bertemu lagi, mereka sudah menjadi dekat dan sering terlihat bersama disetiap kesempatan. Dan tak jarang juga banyak murid yang mengira mereka sudah menjadi sepasang kekasih.
Dan juga kedekatan itu membuat Chorong akhirnya dapat melupakan Suho dan ia tak lagi sakit hati saat melihat Eunji dan Suho bermesraan didepannya, malah ia mengeluarkan senyum diwajahnya. Ia cukup berterima kasih kepada Luhan karna pria itu ia sering menemaninya, dan juga ternyata Luhan bukanlah orang semenyebalkan yang ia kira sebelumnya, malah pria itu terkadang melindunginya. Pernah Chorong dihadang oleh seorang pria mesum, tapi untungnya Luhan datang dan menyelamatkannya. Memang ia tak menghajar seperti pria didrama yang sering Chorong lihat. Luhan malah menarik tanganya dan mengajak berlari dan tak disadari raut wajah Luhan lebih terlihat ketakutan daripada dirinya.
“Daripada mengeluarkan tenaga untuk memukulnya lebih baik mengeluarkan tenaga untuk berlari” Itu yang diucapkan Luhan untuk membela dirinya saat Chorong menanyakan kenapa dirinya tidak menghajar pria itu. Ahh, mengingat itu membuat Chorong ingin tertawa.
“Hya!! Chorong-ah, apa yang kau pikirkan?” Sebuah tepukan membuat Chorong sadar dari lamunannya, ia menoleh dan menggeleng serta tersenyum tipis kepada Luhan yang berada disampingnya. Mereka baru saja datang dari kantin dan saat ini menuju kelas setelah mengisi perut mereka.
“Anniya, aku tak memikirkan apa-apa” Ucap Chorong seraya menahan tawanya, halite membuat Luhan mengangkat sebelah alisnya, pria itu tau jika Chorong sedang berbohong.
“Jinjja?” Tanya Luhan seraya mendekatkan wajahnya pada Chorong dan menatap gadis itu penuh selidik. Chorong yang menyadari jika Luhan mendekatkan wajahnya hanya mengerjabkan matanya dan menahan nafasnya, jantungnya pun berdetak lebih cepat dari sebelumnya.
“N..ne tentu saja, a..aku harus masuk kekelas dulu, dah Luhan” Ucap Chorong tergagap dan mengalihkan pandangannya pada arah lain. Untungnya ia sudah berada dekat dengan kelasnya jadi ia bisa kabur dari padangan Luhan itu. Sementara Luhan hanya menatap punggung gadis tersebut hingga tak terlihat lagi, tak lama sebuah senyuman terukir diwajahnya.
“Hufff” Chorong menghela nafasnya lega saat ia sudah mencapai kelasnya, ia memegang dada menetralisir degupan didadanya. Entah kenapa wajah Luhan terlihat err.. tampan. Setelah yakin jika jantungnya sudah baikan, ia mendatangi teman-temannya yang sudah berkumpul.
“Darimana saja kau Chorong?” Tanya Namjoo yang melihat kedatangan Chorong terlebih dulu daripada teman-temannya yang lain.
“Tentu saja dari berkencan dengan Luhan, mantan musuh bebuyutannya” Sebelum Chorong menjawab pertanyaan Namjoo ternyata Bomi sudah memotong kalimatnya dengan penekanan diakhir. Chorong langsung menjitak gadis itu dan itu membuat Bomi meringis kesakitan.
“Tapi kapan kau akan menyatakan perasaanmu kepadanya? Bukankah kau sudah membuat lagu?” Tanya Eunji membuat Chorong langsung menunduk dan menggedikkan bahunya. Ah ya, belum diceritakan. Luhan dan Chorong menjadi sangat dekat, dan kedekatan itu membuat Chorong mulai menaruh perasaannya pada Luhan. Entah sejak kapan, tapi ia menyadari satu hal dan itu sangat tak terduga baginya.
Ia mencintai Luhan, mantan musuh bebuyutannya.
“Kalau kau tak segera menyatakan perasaanmu, dia bisa diambil orang” nasehat Hayoung, Chorong pun menghela nafasnya dan tersenyum tipis.
“Tenang saja, jika waktunya tepat aku akan mengukapkan perasaanku” Ucap Chorong mantab, ia yakin ia bisa menyatakan perasaan suatu saat nanti. Ia masih memiliki cukup waktu untuk mengatakan pada Luhan bahwa ia menyukainya, itu yang Chorong pikirkan.
Luhan keluar dari ruang guru dengan wajah yang sangat kusut ia memandang kertas yang sedari tadi ia pegang, ia pun menghela nafasnya dan memasukannya kedalam tas. Dan pada saat itu juga ia mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
Sementara itu Chorong sedang bercanda dengan sahabat-sahabatnya di kantin, namun kegiatannya itu harus terhenti saat ia merasakan jika ponselnya bergetar. Gadis itu pun mengambil benda itu dan melihat siapa yang menelponnya, sebuah senyuman terukir setelah melihat siapa yang menelponnya, Luhan.

~*~*~*~*~*~*~*~

“Hei…” Panggil Chorong setelah ia melihat Luhan yang duduk sendiri, Luhan yang namanya dipanggil menoleh dan melihat Chorong berjalan mendekatinya.
“Apa yang kaulakukan dengan semua barang dilokermu?” Tanya Chorong saat ia sudah berada 1 meter didepan Luhan. Luhan hanya diam dan menatap kardus dengan tumpukan barang disampingnya, namun tak berapa lama ia menghela nafasnya dan tersenyum.
“aku akan pindah ke China besok” Ucap Luhan dengan senyuman di wajahnya, sementara Chorong yang mendengar ucapan Luhan kehilangan senyumannya dan membelalak matanya.
“Pi-Pindah?” Tanya Chorong yang tak percaya dengan ucapan Luhan, dan Luhan hanya menganggukkan kepalanya.
“Kenapa kau tak mengatakan padaku sebelumnya?!” Ucap Chorong dengan nada sedikit marah, dan itu berhasil membuat Luhan mengerutkan dahinya bingung dengan sikap Chorong.
“Kenapa aku harus mengatakan padamu sebelumnya? Apa ada sesuatu yang harus kau lakukan yang menyangkut diriku?” Tanya Luhan, yang membuat Chorong sadar dengan ucapannya barusan, ia pun terdiam dan menatap Luhan.
‘Karna jika aku tahu sebelumnya, maka aku akan mengucapkan perasaanku padamu lebih cepat’ Batin Chorong yang masih menatap Luhan dengan tatapan sedih.
“baiklah, bagaimana jika aku akan pamit padamu sekarang?” Tawar Luhan sambil meletakkan tangannya diatas kepala Chorong, Chorong tak menjawabnya ia masih terdiam dengan kepala menunduk, bukanya apa… gadis ini hanya mencegah pria didepannya melihat ia sedang berjuang untuk tidak meneteskan air mata.
Luhan mundur beberapa langkah menyisakan jarak yang cukup jauh dengan Chorong, Chorong mengangkat kepalanya setelah ia memastikan jika sama sekali tak ada air mata yang jatuh dari matanya.
“Chorong-ah, aku pamit pergi ke China besok, mian jika aku baru mengatakannya sekarang. Oiya jika ada hal yang inginkan katakan padaku, mungkin bisa kuberikan. Dan terima kasih telah menjadi temanku, lewat satu panggilan darimu yang sedikit menyebalkan” Setelah mengatakan hal itu Luhan membungkukkan badannya 90° layaknya ia berpamitan kepada seseorang yang lebih tua darinya. Tak berapa lama kemudian ia berdiri tegak kemabli untuk melihat Chorong.
Sementara Chorong, ia saat ini hanya membelalak matanya, ia menjatuhkan rahangnya, Luhan tau Chorong sedang menatapnya tak percaya namun untungnya tak terlihat oleh pria itu mata gadis itu yang mulai berkaca-kaca. Luhan mendekat kearah Chorong dan mencubit pipi gadis itu dan itu berhasil membuat Chorong menatapnya.
“Hei jangan terlalu kaget begitu, oiya mian Chorong-ah… aku harus pulang untuk mengemas barang-barangku. Anyeong…” Setelah mengatakan itu Luhan melepaskan tangannya di pipi Chorong dan berbalik kemudian pergi meninggalkan Chorong, yang hanya diam menatap punggung Luhan yang makin lama makin menghilang di belokkan.
Satu detik, dua detik, setengah jam sudah berlalu dan saat ini Chorong sudah duduk dibawah pohon sambil memeluk kakinya, matanya menatap kosong ujung sepatunya. Pikirannya masih terpaku pada saat Luhan pamit kepadanya. Tak lama kepala Chorong terangkat dan menatap gumpalan awan tipis berwarna putih dilangit, lambat namun pasti tangan Chorong mengambil sesuatu di saku jasnya, dan ternyata benda yang diambil Chorong adalah sebuah CD, dan rencananya CD tersebut akan ia berikan pada Luhan. Chorong menatap benda itu cukup lama sampai ia memasukkan kembali benda tersebut di jasnya dan pergi dari tempat itu.

~*~*~*~*~*~

Chorong berjalan sedirian dijalan setapak yang cukup sepi, ia ingin sendiri saat ini, saking ingin sendirinya ia menolak ajakan Bomi untuk pergi ke toko kue yang merupakan tempat favoritnya. terlihat sebuah earphone yang menempel manis Ditelinganya.
“Seharusnya lagu ini sudah kau dengarkan” Gumam Chorong sambil menghentikan langkahnya dan mengadahkan kepalanya untuk melihat langit, dan pada saat itu juga tertangkap oleh matanya sebuah pesawat yang melaju pelan.
“Apakah kau besok akan menggunakan pesawat itu juga?” Batin Chorong lagi.
“Coba saja aku tak mengulur-ulur waktu, mungkin aku tak semenyesal ini, dan… tak sesakit ini…”
“Aku menyukai Luhan…”
“Ayolah Chorong-ah, kapan kau akan memberikan lagu ini untuk Luhan hah?”
“Oh… ayolah… masih banyak waktu. Aku masih menunggu waktu yang tepat”
“Aku akan pindah ke China besok”
Chorong tak kuat menahan air matanya lagi, ia juga tak kuat menahan berat badannya saat ini. jadi saat ini ia jatuh dengan memegang dadanya. Sesekali ia memukul-mukul dadanya berulang-ulang.
“Kenapa ini masih terasa sakit, padahal biasanya jika aku melakukan ini, sakitnya tak terasa lagi…” Ucap Chorong sambil terus menangis. Namun tak berapa lama sebuah angin menerpa wajahnya lembut, dan entah kenapa angin tersebut menenangkan hatinya.
“Kau masih punya kesempatan Chorong-ah… besok, nyatakanlah perasaanmu ke Luhan. Aku yakin dia pasti mendengarkannya, dan soal jawaban… jangan terlalu memikirkannya, kau harus menunggu… namun saat ini ini kesempatan terakhirmu, dapatkan pangeran hatimu!” dan entah darimana suara itu, yang berhasil membuat Chorong kebingungan dan mencari-cari sumber suara itu, namun juga memberi motivasi untuk Chorong. Gadis itupun menatap CD yang terus ia bawa lalu mengalihkan pandangannya ke pesawat dilangit.
“Benar…aku masih punya kesempatan terakhir… dan aku harus mendapatkannya!” Ucap Chorong ia pun berdiri dan berlari kerumahnya. Dan saat Chorong sudah terlihat, di balik pohon dekat Chorong terduduk tadi muncullah Bomi, ya… suara itu berasal dari Bomi. Ia memilih mengikuti Chorong karena tak biasanya anak itu menolak ajakan makan kue.
“Fighting… ne, Chorongie” Ucap Bomi pelan sambil melambaikan tangannya.

~*~*~*~*~*~*~

Hari ini Luhan akan pergi ke China, teman-temannya pun mengantarkan kepergiannya. Begitu juga Chorong, ia tak ingin mengulur waktu lagi, hari ini ia bertekad untuk mengatakan semua perasaannya ke Luhan. Saat Luhan akan pergi kedalam Chorong menghentikannya.
“Ya ada apa Chorong-ah?” Tanya Luhan sambil berjalan kearah Chorong, entah kenapa lidah Chorong menjadi kelu, namun ia menghela nafasnya.
“Kau tau, kita sering bertengkar setiap hari, tak ada hari tanpa pertengkaran, kita sering mengejek, menghina, tapi kita juga sering mengerti satu sama lain. Aku senang bisa mengenalmu, dan karna pertemuan aku ingin mengatakan sesuatu, aku…”
“Luhan-ah… ayo” Teriakan orang tua Luhan memotong pengakuan Chorong.
“Ah iya… Chorong-ah.. mian tapi aku harus cepat, kalau kau ingin mengatakan sesuatu atau menginginkan sesuatu telpon saja aku nee…” Ucap Luhan yang membuat Chorong terkejut.
“Tapi…”
“Annyeong” Luhan berbalik dan meninggalkan Chorong seraya melambaikan tangannya, Chorong mencoba menahannya tapi Luhan sudah cukup jauh. Chorong pun kecewa karna sampai detik terakhir pun ia tak bisa mengatakan perasaannya kepada Luhan. Namun Chorong mengingat kata yang Luhan katakan barusan.
“kalau kau ingin mengatakan sesuatu atau menginginkan sesuatu telpon saja aku nee…”
“Telepon!!” Chorong langsung mengambil tasnya dan mencari sesuatu didalam, ia pun mengeluarkan benda persegi dan mencari kontak seseorang disana.
“Ketemu!” Chorong pun langsung memanggil seseorang itu dan berharap orang itu mau menjawab telponnya.
“Kumohon jawablah… inilah kesempatan terakhirku”
Sementara Luhan yang masih belum masuk pesawat menghentikan langkahnya karena ia merasakan handphonenya bergetar, diambilnya benda persegi itu dan melihat siapa yang menelponnya.
“Chorong?!” Luhan pun menjawab panggilan dari Chorong. Ia pun melihat kebelakang dan terlihatlah Chorong yang berdiri tegak dengan salah satu tangan memegang handphone. Dari tatapannya Luhan tau kalau gadis itu ingin membicarakan hal serius.
“Luhan, aku ingin meminta sesuatu darimu” Terdengar suara Chorong dari kejauhan, Luhan mengerutkan dahinya karna Chorong tiba-tiba meminta sesuatu darinya.
“Chorong-ah, aku sedang terbur-buru, jika kau memin…”
“Kumohon, ini kesempatan terakhirku…” Suara dan raut wajah Chorong terdengar sangat memelas, hingga membuat Luhan sedikit tak tega dan menyanggupi permintaan Chorong.
Sementara Chorong yang permintaannya disanggupi sangat senang karna ia bisa menyatakan perasaannya kepada Luhan, ia pun mengambil MP3 player yang sering ia bawa.
“Permintaanku ialah, kumohon dengarkan lagu yang kubuatkan untukmu” Ucap Chorong, ia pun memberikan handphone dan MP3 player ke Bomi dan meminta gadis itu menyalakannya untuknya, sedangkan dirinya memilih pergi. Chorong pergi karena ia tak mau mendengar jawaban dari Luhan sekarang, ia lebih memilih menunggu Luhan kembali dan menjawab langsung pengakuannya. Sementara Bomi pun menyalakan MP3 playernya dan mendekatkannya ke handphone Chorong.
Suara alunan music awal mengalun ke telinga Luhan, pria itu mengerutkan dahinya tak mengerti maksud dari Chorong membuatkan lagu untuknya, namun lambat laun matanya terbelalak setelah suara Chorong terdengar di telingannya.

~Setiap saat, saat ku sendirian
Kumemikirkan dirimu, aku terus berpikir tentangmu
Yang terlihat hanya dirimu saat melibatkan “cinta”, kupikir dirimu tak tersaingi

Tidak banyak yang kuinginkan
Kuhanya ingin kau menyadari perasaanku ini
Sentuhan, pelukan, hanya hal-hal kecil yang kuperlukan
Kuingin tertawa bersamamu

kerap kali, bahkan saat kubersama orang lain
Kumemikirkan dirimu, dan terus berlanjut
Jika kau merasa lemah dalam beberapa hal
Aku merasa ingin melindungimu

Hei, kuingin bertemu denganmu sekarang
Ku ingin jujur padamu
Ku ingin kau memandangku dengan special
Dengan cara itu aku mencintaimu
Perasaanku yang sesungguhnya
Aku akan s’lalu mencintaimu

Senyuman polosmu, tangan kuatmu
yang membuatku jatuh cinta
Semakin sering bersama, semakin kutertarik padamu
Penuh gerlap misteri

Hei, dimana kau sekarang dan apa yang sedang kau lakukan?
Siapa yang kau sukai?
Apa yang kau pikirkan tentangku?
Di dunia ini, kunyanyikan lagu ini, hanya untukmu
Ku selalu mencintaimu
Hei, aku ingin ber…~

Tak menunggu lagu itu selesai Luhan langsung mematikan telfonnya dan hendak pergi untuk mengejar Chorong. Namun belum satu langkah Luhan berlari sebuah tangan menahannya.
“Luhan-ah, kau ingin kemana? Ayo pesawat akan berangkat” dan tangan itu ternyata milik eomma Luhan yang menyuruh anaknya untuk masuk kedalam pesawat segera. Luhan pun hanya bisa mengannguk, dengan pelan namun pasti tubuh berbalik setelah ia melihat kebelakang.

~*~*~*~*~*~*~

*Chorong side*

Chorong duduk sambil memeluk kakinya di padang rumput dekat bandara, namun tak berapa lama ia berdiri setelah melihat sebuah pesawat –yang ia yakini dinaiki Luhan- akan berangkat, tangannya terangkat untuk memegang pagar kawat yang membatasi bandara dan padang rumput itu. Dan saat pesawat terbang sempurna, Chorong…
Tersenyum
“Selamat jalan, my lovely dear… dan aku akan menunggumu… menunggumu kembali dan menjawab pengakuanku” Ucap Chorong sambil memejamkan matanya dan air matanya kembali mengalir, namun saat ini senyumnya belum menghilang dari wajahnya.
“Kau akan mendengarnya sekarang…”
Sebuah suara membuat Chorong membuka matanya dan membelalakannya. Suara itu, suara yang sangat ingin ia dengar, suara yang membuat dia mengarang sebuah lagu. Chorong brbalik, dan benar dilihatnya sosok yang seharusnya pergi namun tetap disini. ia melihat Luhan berdiri dibelakangnya sedang melipat kedua tangannya dan menata Chorong kesal.
“Apa maksudnya ini?” Tanya Luhan sambil mengangkat tangannya yang memegang handphone, ia sama sekali tak beranjak dari tempatnya berdiri. Begitupu Chorong ia sama sekali tak beranjak, ia tetap berdiri seraya menundukkan kepalanya.
“Itu…”
“Kenapa kau membuatkanku lagu, dan menyatakan kau menyukai disana…” Tanya Luhan seraya berjalan pelan kearah Chorong dan berhenti tepat didepan gadis itu, namun Chorong tetap menunduk. Gadis itu menyembunyika rona merah diwajahnya dan degub jantung didada.
“Itu karena–”
Grepp
Belum selesai Chorong menyelesaikan kalimatnya, Luhan terlebih dahulu memeluknya yang membuat gadis itu terbelalak.
Chorong masih saja bingung saat Luhan datang padanya dan tiba-tiba memeluknya. “Aku tidak tau mengapa, saat aku bertemu denganmu aku sangat menyukai cara kau menatap seseorang. Penuh dengan rasa kasih sayang di dalamnya membuatku jatuh cinta seperti ini padamu, Park Chorong!”
“Maka dari itu aku selalu mencari masalah denganmu, kenapa ? Itu untuk menarik perhatianmu—“
“Tunggu! Aku tidak me—“
“Kumohon jangan di potong dulu!”
Kata Luhan terlihat kesal saat Chorong tiba-tiba memotong kalimatnya. “Aku menyukaimu! Aku menyukaimu, Park Chorong!”
“Seharusnya kau memberiku kesempatan untuk menyatakannya lebih dahulu” Ucapan Luhan berhasil membuat Chorong tersenyum senang, tangannya terulur untuk membalas pelukan Luhan. Chorong membenamkan dadanya didada Luhan.
“habisnya kau terlalu lama” Ucap Chorong masih tetap dipelukan Luhan, sementara Luhan yang mendengar ucapan Chorong tertawa.
“Kau benar, aku terlalu pengecut tak menyatakan perasaanku lebih dahulu dan membiarkan gadis terlebih dahulu.. tapi, gomawo Chorong-ah, karnamu aku bisa memelukmu seperti ini” Ucap Luhan seraya mengeratkan pelukannya.
“Saranghae Luhan…”
“Nado manni manni saranghae Chorongie”

~*~*~*~*~*~

Hei, aku ingin ber…
Tak menunggu lagu itu selesai Luhan langsung mematikan telfonnya dan hendak pergi untuk mengejar Chorong. Namun belum satu langkah Luhan berlari sebuah tangan menahannya.
“Luhan-ah, kau ingin kemana? Ayo pesawat akan berangkat” dan tangan itu ternyata milik eomma Luhan yang menyuruh anaknya untuk masuk kedalam pesawat segera. Luhan pun hanya bisa mengannguk, dengan pelan namun pasti tubuh berbalik setelah ia melihat kebelakang.Luhan berjalan perlahan, namun tak berapa lama pria itu berlari kearah orang tuanya.
“Eomma…appa… aku tak jadi ikut ke China” Ucapan pria Beijing itu membuat kaget orang tuanya dan menatapnya.
“Kenapa? Bukannya ini keingananmu ikut kami ke China?” Tanya eomma Luhan yang sedikit tak rela anaknya tak jadi ikut, sementara Luhan tersenyum.
“Tidak… keinginanku berada disini, jadi aku tak bisa meninggalkannya… aku harus menjawab pengakuan Chorong, hal sangat kuinginkan yang berada disini…” Ucap Luhan mantap, orang tua Luhan pun tersenyum dan mengizinkan Luhan pergi. Luhan pun tersenyum senang dan berbalik lalu berlari mengejar Chorong.

-END-

Iklan

Give us your cubes!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s