[CubeEntFF’s Freelance] Lie for You

13715987_1668241940166496_7404137156229736270_n

Title : Lie for You

Casts : Shin Peniel (BtoB), Kim Taera (OC), and others

Length : Oneshot

Genre : AU, Supranatural, Hurt / Comfort, Sad, etc.

Rating : PG

Author : Heo Minju

 

 

Tuesday, 23 Nov
8.55 A.M

Peniel termenung sambil menatap wajah pucat Naya. Hati Peniel masih menyimpan tanda tanya besar yang akan terjawab tidak lama lagi. Taera yang sebelumnya sempat lari dari Peniel kini sudah berjanji menjawab dan bertanggung jawab dengan semua perkataannya sebelumnya. Yang membuat Peniel kesal dan putus asa seketika adalah di saat Peniel menanyakan hal yang ia pikirkan itu benar adanya adalah sebuah pemikiran konyol.

Peniel sempat berpikir bahwa Taera bertemu dangan Naya hingga yeoja itu bisa tahu apa yang Naya rasakan. Namun hal itu hanyalah omong kosong. Saat Peniel menanyakannya pada Taera, Taera menjawab dia sama sekali tidak bertemu dengan Naya. Tentu saja itu adalah sebuah kebohongan.

Sudah hampir satu jam lamanya Peniel berada diruang rawat Naya. Namja itu tidak bosan memandangi wajah Naya walau berjam-jam sekalipun.

“Noona.. tak bisakah kita bertemu walau sesaat? aku ingin mendengar suaramu lagi noona. sekali saja. biarkan aku menjumpaimu lagi. aku tak ingin hanya menjumpaimu di mimpi atau khayalanku saja. aku hanya ingin menjumpaimu langsung.” Racau Peniel.

Hening tak ada jawaban. Bahkan bunyi mesin pendeteksi jantung yang terdengar di telinga Peniel tak selaras dengan racauan Peniel. Putus asa, rasa itu mungin yang mendominasi hati Peniel sekarang.

“Noona, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Jadi tolong.. bagunlah dari tidur panjangmu.” Sambung Peniel. masih tetap tak ada jawaban yang Peniel dapatkan.

Namja itu tetap memandangi wajah pucat Naya berharap yeoja itu membuka matanya. Membiarkan dirinya melepaskan rindu pada yeoja itu. Setelah lama berada di ruangan rawat itu, Peniel pun membawa tubuhnya keluar menemui yeoja yang sudah membuat janji dengannya.

Setelah daun pintu membiarkan tubuh Peniel keluar, sosok yeoja itu pun menjadi pemandangan pertama yang Peniel jumpai. Tanpa banyak bicara, yeoja itu segera menuntun Peniel kesuatu tempat di rumah sakit itu.

Taera-yeoja tadi-menunjuk sebuah pintu meminta Peniel membuka pintu tersebut. sesuai perintah Peniel pun membuka pintu tersebut. Dan terlihatlah sepasang suami istri, sang istri terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. dan sang suami sibuk mencari sesuatu didalam ponselnya.

Tak luput dari pandangan Peniel seorang yeoja yang tengah berdiri disudut ruangan sambil menatap nanar pada sang suami. Dari wajah yeoja itu yang mirip dengan yeoja yang ada di atas ranjang, Peniel berasumsi bahwa yeoja itu adalah arwah perempuan yang terbaring kaku itu.

Melihat Peniel memasuki ruangan itu, arwah yeoja itu langsung menghampiri Peniel. terlukis kebahagiaan pada raut wajah Yeoja itu.

“Kau Shin Peniel ‘kan? Namja yang dikenal banyak arwah itu kan?” Tanya Geumran. Nama yeoja itu.

Peniel tak merespon. Namja itu hanya memandang ke arah ranjang yang ada di ruangan itu. memperhatikan setiap gerak gerik nanja yang berada di sisi ranjang itu. Tingkah laku pria itu persis seperti yang Peniel lakukan setiap hari pada Naya. Mengajak raga itu berbicara tanpa ada jawaban yang didapat.

“Taera-ya. dia namja yang kau bicarakan itu bukan? dia orang nya bukan?” Tanya Geumran mengarah pada Taera.

“Ne majayo ahjuma.” Jawab Taera tak berniat menghindar. Pandangan Taera terarah pada Peniel yang kini mulai mendekati namja paruh baya itu.

Peniel terhenti tepat dibelakang namja paruh baya itu. Berusaha menelaah apapun yang laki-laki itu lakukan.

“Ini, kau lihat ini yeobo? Ini anak kita. dia cantik bukan? semalam dia menangis dengan sangat kuat. para perawat kewalahan mengatasinya.” Tukas pria paruh baya itu sembari memperlihatkan sebuah foto yang ada di ponselnya. tak lupa seulas senyum terlukis diwajah namja itu.

Peniel masih memperhatikan paman itu. Rasa iba tiba-tiba menghampiri hati Peniel. membuatnya merasa seolah tengah bercermin & melihat hidupnya sendiri.

“Kau menanyakan mengapa aku tahu perasaan Naya Unnie bukan? Karna hal ini lah aku mengerti apa yang Naya Unnie rasakan saat ini.” Papar Taera sedikit mendekati dirinya dengan Peniel.

Peniel tak menjawab. Namja itu masih bergelut dengan pemikirannya sendiri hingga tak memperdulikan bahkan tak mengerti apa yang Taera katakan.

“cukup miris bukan? dia persis sepertimu.” Taera kembali berucap membuat Peniel semakin terpuruk.

Peniel masih setia dengan kebungkamannya. Perasaan nya kini bercampur aduk tak menentu. Sedih, iba, kesal & marah semua bercampur menjadi satu. Dalam hatinya Peniel ingin sekali memarahi ahjuma itu yang dengan santainya tidak kembali keraganya dan malah bersenang-senang di dunia arwah.

“Aku tahu, kau pasti ingin memaksa ahjuma itu untuk kembali keraganya bukan? asal kau tahu, dia tidak bisa melakukannya.” seakan dapat membaca pikirah Peniel, Taera berujar tanpa beban.

Utaran kata Taera berhasil membuat namja itu beralih pandang padanya. Tanda tanya besar kembali muncul dibenak Peniel. Sesaat Taera memandangi wajah Peniel sebelum berujar.

“Jang Geumran. 48 tahun. sudah sekian lama menikah namun belum dikaruniai anak. Namun sang ibu memaksa untuk bisa menimang seorang bayi. Satu-satuya caranya adalah bayi tabung. Namun dengan umur yang tak lagi muda itu sama saja tidak mungkin. Dan kelanjutan cerita ini kau bisa menebaknya bukan?” jelas Taera panjang lebar. Membuat Peniel kembali memandangi tubuh yang terbaring lemah itu.

Sepat terfikir oleh Peniel sebuah hal yang sangat mudah untuk dilakukan. ‘mengapa tidak kembali saja daripada menderita didunia dimana kau sama sekali tidak bisa mendapat behagiaan? Mengapa tidak pergi saja jika memang dia harus pergi?’

“Dia tidak bia kembali.” Kembali Taera berujar seakan dirinya dapat membaca isi yang ada dikepala Peniel.

Peniel kembali bingung. Taera membuat semua ini nampak sukar untuk dimengerti. Namun Peniel masih menunggu kelanjutan kalimat Taera.

“Dia harus kembali dari dunia ini. Tapi..” Taera kembali memenggal kalimatnya guna menatap tubuh kaku Geumran.

“Rasa cinta & sayang dari suaminya menghalanginya untuk pergi.” sambung Taera masih menatap nanar tubuh Geumran.
Peniel tertegun. Seakan jutaan petir menyambar dirinya dan membuat dirinya hampir tidak bisa tegap berdiri. Dengan usaha yang sangat keras, Peniel menelan saliva nya. Rasanya kisah ini sama seperti kisah Daehyun atau mungkin juga dirinya.

“Kau bisa membantunya oppa?” Tanya Taera, lebih tepatnya ingin memainkan emosi Peniel.

Tak ada jawaban yang Taera dapatkan. Otaknya bekerja dengan sangat keras hanya untuk menjawab pertanyaa mudah Taera. Beberapa detik Peniel bungkam, sebuah gelengan menjawab pertanyaan Taera tanda namja itu tidak bisa membantu permasalahan ini.

Melihat respon Peniel yang menunjukan respon negatif Geumran segera mendekat pada Peniel dan bersimpuh dihadapan namja muda itu.

“Peniel-ah.. tolong bantu aku. ini menyakitkan untukkku. Ini benar-benar sangat menyakitkan untuk ku jadi ku mohon Peniel-ah bantu aku.” Geumran memohon.

Taera memandangi Geumran sesaat dan kemudian kembali menatap wajah Peniel. Raut wajah namja itu sama sekali tidak bisa dimengerti. Bagi Taera tak ada Peniel yang ia kenal saat itu.

“Aku mohon tolong aku. Aku ingin bebas. Aku juga ingin melihat anak dan suamiku hidup dengan baik. Tidak seperti ini, aku mohon Peniel-ah, aku mohon..” Kembali Geumran memohon, bahkan kali ini yeoja paruh baya itu mengusapkan telapak tangannya sembari bersimpuh dihadapan Peniel.

“Bantu aku, aku mohon. Bantu aku” Geumran tak berhenti memohon pada Peniel.

Peniel masih diam ditempatnya. Namja itu kembali larut dalam pemikirannya lagi. Memikirkan hal yang sama mungkin juga terjadi padanya. Rasa nya hal ini sangat menyayat hati Peniel. Membayangkan dirinya harus berada dalam posisi namja paruh baya itu adalah sebuah mimpi buruk.

Melepaskan cinta pertama mu hanya karna tindakan bodohmu apa itu bisa diterima Peniel? Dia sudah bersalah pada dirinya sendiri. Bahkan dirinya tak berhenti mengupat dirinya sendiri sesaat setelah mengetahui kecelakaan yang Naya alami akibat ulah bodohnya.

Melihat orang yang kau cinta terbaring kaku diranjang rumah sakit saja sudah menyahat hati seseorang. Bagaimana bisa kita melepas kepergian orang yang kita cintai? Bukankah itu sama saja dengan menggali lubang untuk kuburanmu sendiri?

“Neo nuguya?” pertanyaan tuan Jang berhasil membuat Peniel bagun dari dunia khayalannya.
Sadar keberadaanya telah diketahui. Peniel memberi hormat pada namja yang merupakan suami dari yeoja yang kini tengah bersimpun dihadapannya.

“Neo nuguya? Apa kau mengenal istriku?” kembali tuan Jang melontarkan pertanyaan.

“Joneun Peniel. Shin Peniel humnida.” Peniel memperkenalkan diri sambil sedikit membukuk hormat.

“Aku Moongu. Apa kau mengenal istriku hingga kau datang kemari?”

“Aku hanya kebetulan lewat. Maaf mengganggu ketenangan anda ahjushi” kilah Peniel mencoba lari dari masalah ini.

“Aku akan pergi.”

“Jangan mencoba untuk lari oppa. Apa yang kau fikirkan? Kau hanya akan menyakiti ahjushi itu jika kau membiarkan keadaan ini. kau tahu benar rasa sakit itu majjchi?” Taera mencoba memperingati Peniel saat namja itu ingin beranjak dari tempat itu.

Tubuh Peniel tak beranjak 1 sentipun mendengar kalimat Taera. Peniel terdiam membeku ditempatnya sambil memperhatikan Geumran yang masih bersimpuh dihadapannya.

“Apa ada yang ingin kau katakan Peniel-ah?” Tanya Moongu.

“Ne?” Peniel sedikit terkejut dengan pertanyaan Moongu yang memaksanya kembali lagi kedunia aslinya.

“Ahh.. mollayeo, aku tak tahu harus mengatakannya atau tidak.” Sambung Peniel setelah sempat larut dalam dunia khayalannya.

Moongu tersenyum sesaat kemudian meraih bahu Peniel seakan memberi sedikit kekuatan untuk Peniel.

“Gwenchana. Malhaebwa”

“Aku takut tidak bisa mengatakannya.” Tukas Peniel sedikti ragu.

“Jika kau benar-benar harus mengatakannya. Ingat saja orang yang kau cintai. maka tanpa diminta, kekuatan akan datang dengan sendirinya” Moongu berujar dengan tanpa beban membuat Peniel sedikit kesal.

Bagaimana mungkin orang yang akan ditinggalkan wanita yang ia cintai dapat mangatakan hal tentang cinta dengan sangat tenang seperti itu. Apakah ia tak pernah berfikir bahwa yeoja nya akan meninggalkannya?

“Ahjushi. Apa kau selalu hidup dengan cinta yang begitu besar hingga kau menjadi seperti ini?” tanya Peniel kali ini tanpa rasa ragu sedikitpun.

“Ne majayo. Istriku selalu mencintaiku dengan sangat tulus hingga aku tidak bisa lepas darinya. Dengan sendirinya dia mengikatkau dengan cinta nya. Apa ada yang selah dengan itu?” Moongu menjawab dengan sama optimisnya. Namja paruh baya itu menatap istrinya dan memandang Peniel kembali.

“Berarti dengan semua cinta itu kau akan melakukan apapun untuk nyonya itu bukan?”

“Tentu, aku akan melakukan apapun untuk istriku. Apapun itu aku akan melakukannya.”

“Bagaimana jika orang yang kau cintai memintamu untuk melupakannya & menghilangkan cintamu pada nya. Apa kau akan melakukannya juga?” Pertanyaan yang Peniel lontarkan membuat Moongu terdiam.

Tak ada suara yang timbul. Hanya suara mesin pendeteksi jantung yang terdengar. Moongu menatap wajah istri nya yang sudah menemani hidupnya selama beberapa tahun belakangan. Moongu tidak mampu menjawab pertanyaan Peniel.

“Kau pasti tak bisa melakukannya bukan? Aku sudah tahu itu. Karna itu sangat berat untuk dilakukan.” Peniel menjawab pertanyaannya sendiri. Sebuah senyum tipis tercipta diwajah Peniel. senyum yang tidak bisa diartikan maknanya.

“Tapi apa yang harus kita lakukan jika mereka meminta hal itu? Apa kita harus melakukannya? Tapi bukankah itu hal yang sangat berat untuk dilakukan?” Tambah Peniel sedikit keputus asaan terdengar dari setiap kata2 yang Peniel keluarkan.

Hati Taera tersayat melihat keadaan Peniel saat ini. Dalam hati yeoja itu meneriaki nama namja idamannya itu.

“Sebenarnya apa yang kau bicarakan?” Moongu yang mulai heran dengan topik pembicaraan mereka.

“Jika aku masih mencintai yeoja itu dia akan sangat menderita. Dirinya akan sangat tersiksa karna cintaku padanya.”

“Cinta tak oernah menyiksa siapapun nak. Cinta hanya memberi kebahagiaan. Dengan cara apa cinta menyiksa seseorang?”

“Jika aku mengatakannya pada mu apa kau akan mempercayainya?”

“Geureom. Aku akan mempercayaimu.”

“Tuhan menginginkan istrimu kembali kepadanya. Dia tak bisa kembali selama cintamu masih untuk nya. Jiwanya tersiksa sebab dia tak bisa kembali & manjalani hidup yang tak wajar. Berada di sisi arwah yang lain tanpa bisa melakukan apapun yang ia mau itu sangat menyiksannya.”

“Kau.. bagimana kau mengetahuinya?”

“Itu bukanlah pertanyaan yang harus aku jawab. Yang harus menjawab pertanyaan ku adalah kau ahjusshi. Apa kau bisa melepaskan yeoja mu?”

Mendengar kembali pertanyaan Peniel kembali membuat Moongu terdiam. Seakan kehilangan kata-kata. Moongu bahkan tak berani menatap wajah Peniel.

“Aku juga mengalami apa yang kau rasakan. Dan aku tahu benar betapa sakitnya menunggunya hingga sadar. Tapi apa yang bisa aku lakukan jika keadaannya seperti ini?” Peniel menatap Moongu sendu.

Moongu masih setia dengan bungkamnya. Seakan enggan menjawab atau bahkan larut dalam pembicaraan ini lagi.

“Kau sangat beruntung Ahjusshi, kau sudah melakukan yang terbaik untuknya. Dan kau juga memiliki seorang putri. Setidaknya dia meninggalkanmu dengan sesuatu yang indah.” Kali ini nada suara Peniel sangat lemah.

Bendungan yang ada di mata Peniel telah penuh dengan butiran kristal yang siap turun untuk membasahi pipi pucat Peniel.

“Tapi aku? Dia meninggalkanku dengan seribu penyesalan yang harus aku tanggung karna kebodohanku yang aku lakukan. Dan sekarang dia juga tersiksa karna aku.” setetes butiran kristal yang Peniel tahan kini telah terjun bebas di pipi Peniel.

“Oppa.. oppa” Nafas Taera tercekat memanggil Peniel. Jika Taera bukanlah arwah aku yakin air mata yang keluar dari matanya akan melebihi air mata Peniel.

“Apa aku juga harus meninggalkan yeoja itu agar dia tidak tersiksa lagi? Tapi itu sangat berat untukku. aku bahkan belum melakukan yang terbaik untuknya. Bagaimana bisa aku melepaskannya begitu saja?” Lagi, kini air yang keluar dari mata Peniel mengalir deras membentuk sebuah sungai kecil di pipi Peniel.

“Apa aku ingin melakukan permintaannya?” Setelah lama bungkam. Moongu akhirnya buka suara.

“Jika ada cara lain yang bisa ku lakukan selain itu. maka aku akan melakukannya.” Tukas Peniel.

Moongu kembali terdiam untuk beberapa detik kemudian menarik ujung bibir nya guna membentuk sebuah senyuman. Senyum yang berat diartikan.

“Kalau begitu, mari kita bersama-sama mencoba melupakan mereka. Walaupun itu berat tapi apa salahnya mencoba.” Timpal Moongu kini bendungan di matanya sudah penuh dengan cairan bening.

Taera & Geumran kompak melihat kearah Moongu berada. Mencoba mencari kebenaran di balik kata-kata Moongu.

“Jika aku membuatnya tersiksa maka tak ada cara lain. Aku tak ingin dia tersiksa. Aku akan melupakannya, jadi aku akan melakukan apa yang ia inginkan.” Tambah Moongu, pandangan naja paruh baya itu tertuju pada tubuh istri tercintanya yang terbaring lemah.

Geumran bangkit dari simpuh nya dan menatap suami yang telah menemani hidpnyanya lekat.

“Yeobo..” Moongu menggenggam erat jemari istrinya.

“Berbahagialah. Aku akan hidup dengan baik disini. Aku akan membesarkan putri kita. Dia akan menjadi yeoje hebat sepertimu. Jadi berbahagialah.” Kembali Moongu berbicara pada tubuh istrnya yang terbaring lemah.

Geumran tersentuh akan setiap kata yang Moongu keluarkan. Air mata pun menetes dari raga Geumran seolah memberi pemahaman pada Moongu. Detik selanjutnya alat yang berada disisi tubuh kaku Geumran berdengung mengeluarkan suara nyaring.

“Terimakasih untuk semuanya Nae Annae.” Tukas Moongu sambil mengecup kening istrinya.

“Sampai jumpa lagi yeobo.. hiduplah dengan tenang & berbahagialah bersama putri kita.” Setelah mengatakan kata-kata itu tubuh Geumran pun lenyap tak berbekas.

Beberapa detik kemudian para perawat dan dokter memasuki ruangan itu untuk memeriksa keadaan Geumran. Tubuh kaku itu tersenyum, seakan memberi makna lebih dari kepergiannya.

“Aku sudah melepaskannya. Maka dari itu kau juga harus melepaskannya.” Moongu menepuk bahu Peniel.

“Kau anak yang luar biasa. Orang dengan kemampuan langka seperti ini sangat beruntung. Semoga kau bisa bahagia dengan atau tanpa yeoja yang kau maksud.” Moongu berlalu setelah tersenyum sesaat pada Peniel.

Setelah beberapa lama berdiri diruangan itu Peniel pun membawa tubuhnya keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai. Taera yang melihat keadaan Peniel merasa iba. Tiba-tiba suara dering keras keluar dari ponsel Peniel menandakan sebuah panggilan masuk. Seketika Peniel langsung mengangkat Panggilan tersebut.

“Yeobuseo..” Peniel membuka percakapan.

Mata Peniel terbuka mendengar informasi dari orang yang ada di ujung telpon. Tanpa pikir panjang Peniel berlari kencang ketempat yang orang yang memutuskan sambungan telpon.

Sedangkan Taera terhenti di depan sebuah ruangan tertutup. Yeoja itu memandang Pintu ruangan itu tanpa melakukan apapun. Hanya menatapnya nanar.

-END-

 

Iklan

Give us your cubes!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s